BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Kamis, 08 Maret 2018 - 17:15 WIB
BI Jaga Stabilitas Nilai...
BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank Indonesia secara konsisten dan berhati-hati merespons dinamika pergerakan nilai tukar rupiah yang sedang berlangsung untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga, sehingga keberlangsungan pemulihan ekonomi dapat berlanjut.

"Respons Bank Indonesia ditempuh untuk mengelola dan menjaga fluktuasi (volatilitas) nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan kondisi fundamental makroekonomi domestik, dengan juga memperhatikan dinamika pergerakan mata uang negara lain," kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo di Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Dengan perekonomian Indonesia yang semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global, dinamika nilai tukar rupiah saat ini merupakan dampak langsung dari kondisi ekonomi global yang terus mengalami pergeseran.

Agus menyebutkan, kebijakan moneter global saat ini, khususnya di Amerika Serikat (AS), tengah memasuki era peningkatan suku bunga dan rezim kebijakan fiskal yang lebih ekspansif.

"Dampak dari kebijakan ekonomi AS tersebut berpengaruh terhadap perekonomian di seluruh negara, termasuk Indonesia, yang antara lain tercermin pada dinamika pergerakan mata uang negara-negara di dunia," papar dia.

Namun demikian, lanjut dia, Bank Indonesia meyakini bahwa dengan ketahanan perekonomian Indonesia saat ini, yang didukung oleh jalinan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah yang semakin kuat, perekonomian Indonesia mampu menghadapi tantangan dari berbagai pergeseran ekonomi global tersebut.

Agus memaparkan, berbagai indikator telah mencerminkan perbaikan ketahanan ekonomi Indonesia, diantaranya inflasi dalam tiga tahun terakhir terus menurun dan senantiasa dapat dijaga pada kisaran sasarannya.

Inflasi sampai dengan Februari 2018 tetap terkendali sebesar 0,79% (ytd) dan 3,18% (yoy). "Sampai dengan akhir tahun 2018, inflasi diperkirakan akan berada pada kisaran sasaran sebesar 3,5% ± 1%," paparnya. Defisit neraca transaksi berjalan semakin menurun dan berada dalam tingkat yang sehat sebesar 1,7% dari PDB pada tahun 2017.

Sejalan dengan pemulihan ekonomi domestik yang tengah berlangsung, impor bahan baku diperkirakan terus meningkat sehingga pada Februari 2018, diperkirakan masih terjadi defisit neraca perdagangan, meskipun lebih rendah dibandingkan Januari 2018.

Menurut Agus, meskipun neraca perdagangan di Februari 2018 mengalami defisit, Bank Indonesia memperkirakan secara keseluruhan tahun 2018, defisit Neraca Transaksi Berjalan tetap sehat di kisaran 2,1 persen dari PDB, sejalan dengan dinamika pemulihan ekonomi domestik yang tengah berlangsung.

Kondisi fiskal dalam kondisi yang semakin sehat, didukung oleh kebijakan Pemerintah yang sesuai prinsip kehati-hatian (prudent) dan konsisten, serta reformasi struktural yang tengah berjalan dengan sangat baik untuk meningkatkan daya saing perekonomian. "Persepsi terhadap kinerja ekonomi Indonesia juga cenderung membaik," ungkapnya.

Hal ini terlihat dari sovereign credit rating Indonesia yang terus mengalami perbaikan. Selain itu, persepsi risko investor juga membaik, terlihat dari risk premium Currency Default Swap (CDS) untuk tenor 5 tahun yang cenderung membaik. Ketahanan cadangan devisa saat ini jauh lebih kuat, tercermin dari posisi cadangan devisa Januari 2018 yang mencapai USD131,98 miliar tertinggi dari yang pernah dicapai.

Beberapa pengaturan yang telah dikeluarkan oleh Bank Indonesia, seperti kewajiban lindung nilai bagi Utang Luar Negeri dan kewajiban penggunaan rupiah, juga telah dapat mengurangi permintaan valas yang berlebihan yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian akibat faktor non-fundamental.

"Berbagai perbaikan fundamental makroekonomi tersebut didukung oleh pasar valas domestik yang semakin likuid, sebagaimana tercermin dari terus meningkatnya volume harian transaksi yang saat ini telah mencapai sekitar USD6 miliar dan mekanisme pasar yang lebih baik dan semakin efisien," imbuhnya.

Agus menuturkan, Bank Indonesia akan tetap berada di pasar secara terukur untuk mengawal terciptanya stabilitas Rupiah sehingga kepastian dan keyakinan masyarakat terhadap perekonomian nasional tetap terjaga dengan baik.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Rupiah Menguat 1,21%,...
Rupiah Menguat 1,21%, Bos BI: Lebih Perkasa dari Peso Filipina dan Baht Thailand Cs
Rupiah Sentuh Rp15.533/USD,...
Rupiah Sentuh Rp15.533/USD, Gubernur BI Sebut Lebih Kuat Dibanding Peso, Rupee dan Baht
Rupiah Tembus Rp16.420...
Rupiah Tembus Rp16.420 per USD, Bos BI Ungkap Apa yang Terjadi
Rupiah Bakal Menguat...
Rupiah Bakal Menguat di Juli dan Agustus 2026, Gubernur BI Yakin Stabil usai Bertemu Prabowo
Gubernur BI: Rupiah...
Gubernur BI: Rupiah Terus Menguat Kalahkan Malaysia, Filipina dan Thailand
Berita Terkini
Lionel Express Hadirkan...
Lionel Express Hadirkan Solusi Distribusi Barang B2B ke Seluruh Indonesia
13 menit yang lalu
Perkuat Ekosistem Emas...
Perkuat Ekosistem Emas Nasional, Pegadaian Resmi Jadi Bagian Pendirian Indonesia Bullion Market Association (IBMA)
34 menit yang lalu
Nikmati Pengalaman Nonton...
Nikmati Pengalaman Nonton Terbaik di XXI dengan Penawaran Eksklusif dari BRI
1 jam yang lalu
Harga Minyak Mendidih...
Harga Minyak Mendidih 1% saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?
1 jam yang lalu
IHSG Masih Perkasa,...
IHSG Masih Perkasa, Hari Ini Dibuka Menanjak Naik 0,67% ke level 6.273.
3 jam yang lalu
Bappenas Petakan Kekayaan...
Bappenas Petakan Kekayaan Hayati Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjuran
3 jam yang lalu
Infografis
TNI Jaga Kejaksaan,...
TNI Jaga Kejaksaan, Ada Perseteruan Penegak Hukum?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved