Pekerja Freeport Beberkan Nasib Karyawan yang Mogok Kerja

Senin, 12 Maret 2018 - 01:00 WIB
Pekerja Freeport Beberkan...
Pekerja Freeport Beberkan Nasib Karyawan yang Mogok Kerja
A A A
JAKARTA - Nasib ribuan pekerja PT Freeport Indonesia yang melakukan mogok kerja sejak 1 Mei 2017 semakin tidak jelas. Sudah 10 bulan mereka tidak mendapatkan upah, perlindungan kesehatan dari BPJS dan tidak dapat mengakses rekening pribadi di bank.

Hal ini diungkapkan Dedi Mukhlis, perwakilan panitia mogok massal pekerja PT Freeport Indonesia di Timika, Papua saat konferensi pers di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (11/3/2018). Akibat tidak mendapat perlindungan BPJS dan tanpa uang di tangan, kata Dedi, hingga saat ini sudah ada 16 pekerja meninggal dunia karena sakit.

"BPJS distop padahal kami belum tanda tangan berhenti bekerja di Freeport," kata Dedi didampingi salah satu kuasa hukumnya dari Kantor Hukum dan Hak Asasi Manusia, Lokataru, Nurkholis Hidayat.

Menurut Dedi, pemogokan massal sebenarnya respons atas kebijakan Freeport merumahkan 1.000-an pekerja pada awal 2017. Tidak ada alasan yang jelas dalam pengambilan kebijakan tersebut. Sebab di antara pekerja yang dirumahkan adalah karyawan rajin dan bekerja di divisi produksi. Setelah ditelusuri, ternyata mereka yang dirumahkan adalah perwakilan pekerja yang kritis.

Langkah perusahaan tambang itu dinilai melanggar kesepakatan New Era pada 2014 yang menyatakan bahwa setiap kebijakan manajemen harus dimusyarahkan dengan serikat pekerja. "Kami protes karena Freeport telah melanggar kesepakatan," ujarnya.

Yang menjadi aneh, ribuan pekerja yang ikut mogok massal lantaran protes atas kebijakan merumahkan karyawan malah dianggap mengundurkan diri, sehingga tidak lagi mendapatkan hak-haknya. "Kami tidak pernah tanda tangan berhenti bekerja dan tidak ada catatan pemberhentian kerja di Disnaker," katanya.

Nurkholis menambahkan, tidak hanya gaji pekerja yang distop, akun BPJS dibekukan dan rekening bank juga diblokir. Menurut keterangan yang diterima, itu semua merupakan permintaan dari PT Freeport. Banyak yang menjadi korban akibat kebijakan Freeport tersebut. Dua orang bunuh diri karena tidak kuat dengan penderitaan yang dialami dan 35 keluarga terusir dari kontrakan lantaran tidak bisa membayar sewa. "40 anak pekerja terpaksa putus sekolah karena sudah tidak memiliki biaya," katanya.

Sementara itu, Anwar Sastro Ma'ruf dari Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI) mengatakan, langkah yang dilakukan PT Freeport merupakan pemberangusan terhadap serikat pekerja yang sistematis. Kebijakan itu sudah direncanakan dan sangat erat kaitannya dengan masa kontrak karya yang hampir habis.

Menurutnya, ada dua tujuan yang ingin dicapai dari langkah tersebut. Pertama, memberangus serikat pekerja. Kedua, membangun opini bahwa akan ada banyak korban jika kontrak karya benar-benar tidak diperpanjang. Adapun keuntungan yang akan diperoleh PT Freeport adalah kontrak karya akan diperpanjang, dan setelah itu tidak ada serikat pekerja yang kritis.

"Yang penting dilakukan saat ini adalah melakukan penekanan ke PT Freeport, Kemenaker/disnaker, termasuk TNI/Polri. Kita tahu selama ini Freeport ini pundi-pundi emas, pundi-pundi harta yang hanya dinikmati oleh segelintir orang. Ini harus diungkap," katanya.

(amm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Smelter Freeport di...
Smelter Freeport di Gresik Terbakar, Tim Gabungan Damkar Dikerahkan ke Lokasi
Smelter Manyar Jadi...
Smelter Manyar Jadi Titik Awal Integrasi Industri dan Lingkungan Hidup
Produksi Katoda Dimulai,...
Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat
Tarif Impor AS Tak Guncang...
Tarif Impor AS Tak Guncang Smelter Nasional, Diversifikasi Ekspor Jadi Kunci Hilirisasi
PT Freeport Indonesia...
PT Freeport Indonesia Raih Pengakuan Global Esri untuk Inovasi dan Dampak Keberlanjutan
PTFI Perkuat Fondasi...
PTFI Perkuat Fondasi Ekonomi Papua Tengah, Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan lewat Investasi Jangka Panjang
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
9 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
9 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
10 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
10 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
10 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
10 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved