Harga Minyak Menguat Seiring Ketegangan Arab Saudi-Yaman
Selasa, 27 Maret 2018 - 11:29 WIB
Harga Minyak Menguat Seiring Ketegangan Arab Saudi-Yaman
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Selasa (27/3/2018), didorong oleh ketegangan antara Arab Saudi dengan Yaman, yang dikhawatirkan bisa mengganggu pasokan minyak.
Melansir Reuters, kelompok Houthi yang mengontrol Yaman Utara melancarkan serangan rudal ke Arab Saudi, di mana senjata tersebut diduga buatan Iran. Alhasil, harga minyak mentah Brent International naik 13 sen atau 0,2% menjadi USD70,25 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) naik 16 sen atau 0,2% menjadi USD65,71 per barel pada pukul 01:42 GMT. Sementara itu, patokan minyak mentah Shanghai turun menjadi 426,2 yuan atau setara USD68,03 per barel pada pukul 01:43 GMT.
Direktur Pelaksana dan Manager Portofolio Energi di Tortoise, James Mick, mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik telah menaikkan harga minyak. Risiko terbesar, kata dia, Amerika Serikat akan kembali memberi sanksi terhadap Iran.
Selain geopolitik, adalah keinginan Arab Saudi yang mengajak Rusia untuk memperpanjang pemangkasan produksi. Keinginan Saudi mendapat dukungan dari anggota OPEC dan Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC. "Harga minyak mendapat dukungan dari anggota OPEC karena Arab Saudi dan Rusia setuju memperpanjang perjanjian pengurangan produksi," katanya.
Namun, beberapa pedagang mengingatkan AS akan bergerak untuk meningkatkan produksi. Kepala Perdagangan Asia Pasifik di OANDA Singapura, Stephen Innes mengatakan AS kemungkinan akan meningkatkan produksi minyak serpihnya untuk mengimbangi pemangkasan.
Selama ini, AS sudah meningkatkan produksi minyak mentahnya hingga 10,4 juta barel per hari sejak medio 2016. Jumlah ini sudah melampaui eksportir utama minyak dunia Arab Saudi dan mendekati produsen utama minyak dunia saat ini, Rusia yang memompa 11 juta barel per hari.
Melansir Reuters, kelompok Houthi yang mengontrol Yaman Utara melancarkan serangan rudal ke Arab Saudi, di mana senjata tersebut diduga buatan Iran. Alhasil, harga minyak mentah Brent International naik 13 sen atau 0,2% menjadi USD70,25 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) naik 16 sen atau 0,2% menjadi USD65,71 per barel pada pukul 01:42 GMT. Sementara itu, patokan minyak mentah Shanghai turun menjadi 426,2 yuan atau setara USD68,03 per barel pada pukul 01:43 GMT.
Direktur Pelaksana dan Manager Portofolio Energi di Tortoise, James Mick, mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik telah menaikkan harga minyak. Risiko terbesar, kata dia, Amerika Serikat akan kembali memberi sanksi terhadap Iran.
Selain geopolitik, adalah keinginan Arab Saudi yang mengajak Rusia untuk memperpanjang pemangkasan produksi. Keinginan Saudi mendapat dukungan dari anggota OPEC dan Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC. "Harga minyak mendapat dukungan dari anggota OPEC karena Arab Saudi dan Rusia setuju memperpanjang perjanjian pengurangan produksi," katanya.
Namun, beberapa pedagang mengingatkan AS akan bergerak untuk meningkatkan produksi. Kepala Perdagangan Asia Pasifik di OANDA Singapura, Stephen Innes mengatakan AS kemungkinan akan meningkatkan produksi minyak serpihnya untuk mengimbangi pemangkasan.
Selama ini, AS sudah meningkatkan produksi minyak mentahnya hingga 10,4 juta barel per hari sejak medio 2016. Jumlah ini sudah melampaui eksportir utama minyak dunia Arab Saudi dan mendekati produsen utama minyak dunia saat ini, Rusia yang memompa 11 juta barel per hari.
(ven)
Lihat Juga :