Pemerintah Diharapkan Dorong Swasta Dalam Program Infrastruktur

Kamis, 29 Maret 2018 - 08:30 WIB
Pemerintah Diharapkan...
Pemerintah Diharapkan Dorong Swasta Dalam Program Infrastruktur
A A A
JAKARTA - Masa depan bisnis konstruksi di Indonesia dinilai suram. Pelaku usaha swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dihadapkan pada masalah masing-masing yang sama-sama berat. Gede Sandra, ekonom Lingkar Studi Perjuangan, menyatakan, kontraktor swasta tertekan oleh dominasi BUMN. Sementara BUMN terancam oleh jeratan utang yang mereka bikin selama ini.

Gede Sandra mengutip laporan Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), bahwa ada 37 ribu kontraktor swasta bangkrut akibat dominasi BUMN di proyek infrastruktur.” ujar Gede Sandra.

Dominasi BUMN dalam proyek infrastruktur senilai Rp 4,197 triliun memang amat menyolok. Bahkan dalam proses lelang, swasta kerap tak diajak. Misalnya dalam proyek pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo yang diselenggarakan PT Angkasa Pura I.

Hanya 10 perusahaan yang diundang lelang. Semuanya BUMN: Perum Perumnas, Adhi Karya, Amarta Karya, Brantas Abipraya, Hutama Karya, Istaka Karya, Pembangunan Perumahan, Waskita Karya, Wijaya Karya, dan Nindya Karya. Nilai proyek mencapai Rp 6,5 triliun (termasuk PPN).

Dalam pembangunan 65 bendungan di seluruh Indonesia, sepanjang 2015-2019, BUMN juga menyapu bersih seluruh proyek. Nilai proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu mencapai Rp 29 triliun rupiah.

Wakil Ketua Umum Gapensi, Bambang Rachmadi, menegaskan, dominasi BUMN juga terlihat dari nilai proyek yang didapat. “Dalam proyek infrastruktur, rata-rata BUMN mendapat order Rp 328 trilun. Swasta rata-rata hanya Rp 15 miliar,” kata Bambang.

Namun BUMN bukan berati tidak ada masalah, Gede Sandra menyatakan, saham empat BUMN kontruksi di pasar modal Adhi Karya, Wijaya Karya, Waskita Karya, dan Pembangunan Perumahan-- menunjukan adanya masalah. Selama Maret 2018, nilai saham BUMN konstruksi jatuh 12%. Di sepanjang tahun 2017, harga saham BUMN sudah merosot rata-rata 13,70%. “Harga tidak berbohong. Ada masalah di BUMN konstruksi,” kata Gede Sandra.

Lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P), seperti dikutip Reuters, menyatakan, neraca keuangan BUMN tingkat utang terhadap pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), naik 500%. Total utang empat BUMN konstruksi mencapai Rp 156,19 triliun pada 2017. “Awasi, jangan sampai persoalan di bisnis konstruksi melebar dan berdampak sistemik,” kata Gede Sandra.

Mohamad Hekal, anggota Komisi VI DPR, meminta BUMN menjaga kesehatannya. Hekal juga meminta pemerintah mendorong swasta lebih berperan dalam program infrastruktur. “Hubungan bisnis BUMN dan swasta juga harus dibenahi. Bayar tepat waktu dan beri margin keuntungan lebih baik,” ujar anggota Fraksi Partai Gerindra ini.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
5 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
6 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
6 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
6 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
6 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
6 jam yang lalu
Infografis
Daftar 103 Sekolah Swasta...
Daftar 103 Sekolah Swasta Gratis di Jakarta 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved