BI: Amandemen Bilateral Swap dengan Jepang Bukan Gara-gara Rupiah Melorot

Jum'at, 04 Mei 2018 - 20:00 WIB
BI: Amandemen Bilateral...
BI: Amandemen Bilateral Swap dengan Jepang Bukan Gara-gara Rupiah Melorot
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menegaskan kesepakatan rencana amandemen kerja sama bilateral swap arrangement (BSA) antara Indonesia dengan Jepang bukan disebabkan karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang terjadi belakangan ini. Kesepakatan ini bukan tiba-tiba dan telah dibicarakan sejak tahun lalu.

Sejatinya, perjanjian BSA yang berlaku antara Jepang dan Indonesia saat ini berlaku dari 12 Desember 2016 hingga 12 Desember 2019. Namun, Indonesia dan Jepang sepakat mengamandemen kesepakatan tersebut lebih awal dari jatuh temponya, seiring dengan rangkaian pelaksanaan pertemuan Menteri Keuangan dan gubernur bank sentral ASEAN+3 di Manila pada 4 Mei 2018.

"Ini tidak tiba-tiba, karena ini jauh sebelum tekanan terjadi atau sejak 2017 pertengahan, kita sudah membicarakan ini. Karena pertemuan ASEAN+3 adalah pertemuan rutin, level gubernur, Menkeu, Deputi. Ini kebetulan saja kita baru announce. Jadi pembicaraan sudah jauh-jauh hari. Jadi ini sifatnya tidak tiba-tiba karena merespon tekanan," katanya di Gedung BI, Jakarta, Jumat (4/5/2018).

Setelah naskah amandemen ditandatangani, sambung dia, nantinya jatuh tempo perjanjian ini pada 2019 akan dianulir. BI memperoleh tambahan waktu tiga tahun untuk menggunakan fasilitas swap ini hingga 2022.

"Jatuh temponya tidak 2019 jadinya, misal kita dapat kesepakatan dalam satu bulan ini maka akan ditambah tiga tahun. Jadi tidak berkurang jangka waktunya. Kenapa diumumkan sekarang? Kita ingin memanfaatkan momentum pertemuan gubernur bank sentral dan Menkeu di Manila untuk mengumumkan ini. Jadi tidak ada maksud lain," tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Doddy menjelaskan, substansi dari amandemen ini adalah untuk memberikan tambahan fleksibilitas. Jika sebelumnya BI hanya bisa menarik fasilitas ini dalam bentuk dolar Amerika Serikat (USD), maka dalam amandemen ini pemerintah Jepang memberikan fasilitas tambahan dengan mengizinkan bank sentral untuk menarik bilateral swap dalam bentuk Yen Jepang (JPY).

"Yang berbeda dari bilateral swap yang berlaku adalah itu bisa kita tarik sebelumnya dalam bentuk dolar saja. Sekarang dalam bentuk yen Jepang. Jadi ada unsur tambahan fleksibilitas. Itu sebenarnya substansi dari amandemen ini. Kita juga sepakat melaksanakan pembicaraan detail supaya amandemen ini bisa kita finalkan segera. Itu pokoknya," imbuh dia.

Menurutnya, amandemen ini sifatnya merupakan kelanjutan karena perjanjian BSA Indonesia dengan Jepang telah dilakukan sejak 2003. BSA terakhir yang dilakukan pada 12 Desember 2016 sejatinya baru berakhir pada 12 Desember 2019, namun kedua negara sepakat untuk mengamandemen perjanjian tersebut saat ini.

"Karena kita ingin memperkuat, meskipun belum jatuh tempo, kita komit untuk melakukan amandemen," tutur dia.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Rupiah Menguat 1,21%,...
Rupiah Menguat 1,21%, Bos BI: Lebih Perkasa dari Peso Filipina dan Baht Thailand Cs
Rupiah Sentuh Rp15.533/USD,...
Rupiah Sentuh Rp15.533/USD, Gubernur BI Sebut Lebih Kuat Dibanding Peso, Rupee dan Baht
Rupiah Tembus Rp16.420...
Rupiah Tembus Rp16.420 per USD, Bos BI Ungkap Apa yang Terjadi
Rupiah Bakal Menguat...
Rupiah Bakal Menguat di Juli dan Agustus 2026, Gubernur BI Yakin Stabil usai Bertemu Prabowo
Gubernur BI: Rupiah...
Gubernur BI: Rupiah Terus Menguat Kalahkan Malaysia, Filipina dan Thailand
Berita Terkini
DPR Ingatkan Potensi...
DPR Ingatkan Potensi Moral Hazard Penambahan Layer Rokok Ilegal
14 menit yang lalu
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
23 menit yang lalu
Bank Mantap Serahkan...
Bank Mantap Serahkan Santunan kepada Ahli Waris Jenderal Purn Ryamizard Ryacudu
46 menit yang lalu
Heboh Kabar Direksi...
Heboh Kabar Direksi PLN Dirombak, Bos BP BUMN Buka Suara
1 jam yang lalu
BPDP, Ditjenbun dan...
BPDP, Ditjenbun dan AKPY Latih 122 Pekebun Sawit OKI Tingkatkan Kualitas Panen
1 jam yang lalu
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
2 jam yang lalu
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved