Resolusi Parlemen UE Diskriminatif Terhadap Industri Sawit

Selasa, 08 Mei 2018 - 15:01 WIB
Resolusi Parlemen UE...
Resolusi Parlemen UE Diskriminatif Terhadap Industri Sawit
A A A
JAKARTA - Direktur Eksekutif CPOPC Mahendra Siregar menegaskan bahwa resolusi Parlemen Uni Eropa (EU) yang akan melarang penggunaan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit di Eropa di tahun 2021 merupakan tindakan diskriminasi terhadap industri sawit.

"Jika alasan parlemen UE adalah terkait deforestasi dan perusakan lingkungan, maka tuduhan tersebut sama sekali tidak benar. Selama ini industri kelapa sawit telah memenuhi aspek-aspek keberlanjutan sesuai yang diwajibkan oleh pemerintah melalui ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil)," ungkap Mahendra Siregar dalam seminar "Menjawab Hambatan Perdagangan Ekspor Minyak Sawit di Pasar Global" di Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Terkait isu sawit sebagai penyebab deforestasi, Mahendra menampiknya dengan menjelaskan bahwa dengan produktivitasnya yang tinggi, sawit justru membutuhkan luasan lahan yang lebih sedikit ketimbang tanaman penghasil minyak nabati lainnya.

Dia mencontohkan, dengan perkiraan permintaan minyak nabati dunia mencapai 400 juta pada 2050, dan dengan rata-rata produksi minyak sawit 6-7 juta ton per ha, maka untuk mencukupi kebutuhan tersebut dibutuhkan kebun sawit seluas sekitar 30 juta ha. Sementara, jika untuk memenuhi kebuthan itu harus mengandalkan kedelai yang memiliki produktivitas 1:10 dari kelapa sawit, maka akan diperlukan sekitar 200-300 juta ha lahan tambahan.

"Data itu bisa menjawab, mana yang menyebabkan lebih banyak deforestasi," cetusnya.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Perdagangan Lili Yan Ing mengatakan bahwa pemerintah telah melayangkan surat kepada Komisi UE bahwa mengeluarkan minyak sawit dari bahan bakar nabati tidak akan menjawab isu deforestasi.

"Indonesia akan berpegang teguh pada non-discriminative, fair, equitable treatment. Oleh karena itu, kami menolak bila terdapat diskriminasi. Bila produk kami didiskriminasi maka segala langkah akan kami tempuh untuk memperjuangkan hak kami," tandasnya.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan UE menyatakan bahwa resolusi tersebut masih dalam tahap pembahasan. "Kami juga masih akan melakukan kajian lebih lanjut terkait isu deforestasi maupun perubahan iklim yang disebabkan oleh industri sawit," ungkap perwakilan EEAS (European External Action Service) Jakarta, Bucki Michael.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
10 Cara Ini Bisa Dipakai...
10 Cara Ini Bisa Dipakai RI Merespons Diskriminasi Sawit Uni Eropa
Gapki Sebut Kebijakan...
Gapki Sebut Kebijakan Baru Uni Eropa Bakal Keringkan Ekspor Minyak Sawit
Uni Eropa Tetap Jadi...
Uni Eropa Tetap Jadi Pasar Potensial Komoditas Sawit Indonesia
Isu Penundaan EUDR,...
Isu Penundaan EUDR, Petani Sawit Butuh Dukungan dari Uni Eropa dan Perusahaan
Petani Kecil Butuh Dukungan...
Petani Kecil Butuh Dukungan Konkret untuk Pembenahan Tata Kelola Sawit
RSI Gelar Konferensi...
RSI Gelar Konferensi Internasional Pangan dan Energi Berkelanjutan, Gali Solusi Tantangan Global
Berita Terkini
Harga Minyak Mendidih...
Harga Minyak Mendidih 1% saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?
1 jam yang lalu
IHSG Masih Perkasa,...
IHSG Masih Perkasa, Hari Ini Dibuka Menanjak Naik 0,67% ke level 6.273.
2 jam yang lalu
Bappenas Petakan Kekayaan...
Bappenas Petakan Kekayaan Hayati Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjuran
2 jam yang lalu
Kilau Emas Meredup,...
Kilau Emas Meredup, Turun 9 Ribu Sentuh Level Rp2.601.000/Gram
2 jam yang lalu
Tabungan Kelas Menengah...
Tabungan Kelas Menengah Melambat, LPS Menyoroti Anomali Melejitnya Simpanan di Atas Rp5 Miliar
3 jam yang lalu
AS Kembali Picu Perang...
AS Kembali Picu Perang Dagang, Kali Ini Kanada Bakal Dihantam Tarif 50%
4 jam yang lalu
Infografis
3 Efek Tarif Impor Donald...
3 Efek Tarif Impor Donald Trump Terhadap Harga Emas Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved