BPK: Impor Beras Puluhan Ribu Ton Tak Dilakukan Secara Akuntabel

Senin, 21 Mei 2018 - 15:17 WIB
BPK: Impor Beras Puluhan...
BPK: Impor Beras Puluhan Ribu Ton Tak Dilakukan Secara Akuntabel
A A A
JAKARTA - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menilai bahwa keputusan pemerintah membuka keran importasi beras tidak dilakukan secara pruden dan akuntabel. Pasalnya, keputusan untuk mengimpor beras tidak mempertimbangkan jumlah data kebutuhan beras nasional.

Pada tahun ini, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah dua kali mengeluarkan izin importasi beras. Sebanyak 500 ribu ton pada Februari 2018, kemudian saat ini telah dikeluarkan lagi izin impor beras tambahan sebanyak 500 ribu ton dan berlaku hingga Juli 2018.

"Penetapan angka impor tidak sepenuhnya pruden dan akuntabel. Angka ini tidak dipertimbangkan sepenuhnya, yaitu kebutuhan, produksi nasional, selisih antara kebutuhan dan produksi nasional, dan alokasi impor berdasarkan persetujuan impor," kata Anggota BPK RI Rizal Djalil di Gedung BPK, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Sejatinya, BPK tidak ikut campur mengenai keputusan pemerintah untuk mengimpor beras. Namun, pemerintah seharusnya memperhatikan kondisi yang ada di Tanah Air. Mengingat, saat ini beberapa wilayah di Indonesia masih panen raya dan pembukaan keran impor berpotensi merusak harga petani.

"Kalau pemerintah memutuskan memang perlu impor silakan saja. Tapi tolong perhatikan juga, kalau pada saat panen raya terus kita lakukan impor 1 juta. Bulog telah melaksanakan operasi pasar, pertanyaannya mengapa harga tidak turun juga. Jadi silakan impor, tapi lakukan dengan pruden dan memperhatikan sesungguhnya pendapat dari kementerian yang bertanggungjawab terhadap pengadaan pangan," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pecah Rekor, Impor Beras...
Pecah Rekor, Impor Beras 2024 Butuh Anggaran Lebih Rp30 Triliun
DPR Sahkan Politikus...
DPR Sahkan Politikus Golkar Ahmadi Noor Supit Jadi Anggota BPK Periode 2022-2027
Jaga Harga dan Stok,...
Jaga Harga dan Stok, Bulog Segera Impor 400.000 Ton Beras
Sudah Jatuh Tempo, 16...
Sudah Jatuh Tempo, 16 Temuan LHP BPK Belum Ditindaklanjuti
Ada Apa, Laporan Keuangan...
Ada Apa, Laporan Keuangan KPU dan BSSN Tidak Dapat WTP dari BPK
Rugikan Keuangan Negara,...
Rugikan Keuangan Negara, Denda Impor Beras Perlu Diusut Tuntas
Berita Terkini
Bahas Efisiensi Anggaran...
Bahas Efisiensi Anggaran MBG, Purbaya dan Kepala BGN Baru Bakal Bertemu Minggu Depan
28 menit yang lalu
Bagaimana Public Listing...
Bagaimana Public Listing Mengubah Perusahaan Crypto?
1 jam yang lalu
Inflasi Kembali Muncul,...
Inflasi Kembali Muncul, Penting bagi Trader Mengamati Rilis CPI Berikutnya
1 jam yang lalu
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%, Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
1 jam yang lalu
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
2 jam yang lalu
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
3 jam yang lalu
Infografis
Zionis Israel Tak Bisa...
Zionis Israel Tak Bisa Hancurkan Hamas secara Militer
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved