Kenaikan Suku Bunga Acuan Dongkrak Rupiah ke Rp13.890

Kamis, 31 Mei 2018 - 10:55 WIB
Kenaikan Suku Bunga...
Kenaikan Suku Bunga Acuan Dongkrak Rupiah ke Rp13.890
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis (31/5/2018) mulai memulih di pasar spot. Di akhir Mei ini, mata uang NKRI menguat 103 poin atau 0,74% ke level Rp13.890 per USD pada pukul 10.25 WIB.

Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan, rupiah di indeks Bloomberg berotot 28 poin atau 0,20% di level Rp13,955 per USD, dibanding penutupan Rabu di level Rp13.993 per USD.

Hal sama terpantau di data Yahoo Finance, dimana rupiah pada hari ini berkibar 100 poin alias 0,72% ke posisi Rp13.885 per USD. Kemarin, rupiah ditutup di level Rp13.985 per USD.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah pada Kamis ini terapresiasi 81 poin di posisi Rp13.951 per USD, berbanding Rabu kemarin di level Rp14.032 per USD.

Menguatnya rupiah merespon hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) tambahan Bank Indonesia (BI) yang memutuskan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan bank sentral menaikkan lagi suku bunga merupakan langkah preemptive memperkuat stabilitas. Khususnya, stabilitas nilai tukar rupiah terhadap perkiraan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (The Fed) yang lebih tinggi, serta meningkatnya risiko di pasar keuangan global.

"Keputusan ini merupakan langkah kebijakan jangka pendek yang menekankan pada stabilitas rupiah," kata Perry di Gedung Bank Indonesia, Rabu (30/5).

Adapun faktor eksternal yang membuat rupiah menguat, karena indeks USD melemah 0,79% terhadap enam mata uang utama ke level 94,069. Dolar Amerika Serikat melemah seiring rebound-nya euro setelah krisis politik di Italia mereda. Partai 5 Bintang, partai terbesar di Italia akhirnya mau mengalah demi mengkahiri kekacauan politik dengan membentuk pemerintahan koalisi.

Selain itu, imbal hasil obligasi Italia menyusut menjadi 1,75%, dari sebelumnya 2,71%. Hal ini membuat menjadi menarik minat investor di pasar utang karena masih murah. Sehingga euro kembali dibeli. Melansir Reuters, euro diperdagangkan naik 1,1% menjadi USD1,1669 per EUR karena spread obligasi Italia telah menyusut.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Pulang Merosot...
Rupiah Pulang Merosot ke Rp14.133 per USD
Rupiah Diprediksi Melanjutkan...
Rupiah Diprediksi Melanjutkan Penguatan
Rupiah Berpotensi Berbalik...
Rupiah Berpotensi Berbalik Menguat
Rupiah Diprediksi Kembali...
Rupiah Diprediksi Kembali Menguat
Hari Ini, Rupiah Diprediksi...
Hari Ini, Rupiah Diprediksi Kembali Menguat
Rupiah Melemah 60 Poin...
Rupiah Melemah 60 Poin ke Rp15.455 per USD
Berita Terkini
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
8 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
8 jam yang lalu
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
9 jam yang lalu
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
9 jam yang lalu
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
9 jam yang lalu
Bahlil Sebut Kehadiran...
Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
10 jam yang lalu
Infografis
Waspada! Ini Gejala...
Waspada! Ini Gejala Super Flu yang Masuk ke Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved