Minim Sentimen, Rupiah Berpeluang Melemah
Kamis, 28 Juni 2018 - 08:50 WIB
Minim Sentimen, Rupiah Berpeluang Melemah
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan rupiah diperkirakan masih cenderung bergerak melemah seiring masih minimnya sentimen dari dalam negeri yang dapat mengangkat rupiah.
Di sisi lain, meningkatnya minat pelaku pasar terhadap mata uang safe haven selain USD, untuk mengantisipasi masih adanya sentimen perang dagang Amerika Serikat-China.
"Ini dikhawatirkan dapat membuat rupiah kembali melemah," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (28/6/2018).
Adapun rupiah diestimasikan Reza akan bergerak dengan kisaran support di level Rp14.180 per USD dan resisten Rp14.166 per USD.
Sementara, belum beranjaknya sentimen yang sama dari sebelumnya terkait dengan potensi terjadinya perang dagang antara AS dan China membuat laju pergerakan rupiah terimbas pergerakan valas global.
Laju rupiah sempat melemah sebelum akhirnya ditutup stagnan. Di sisi lain, pelaku pasar beralih ke mata uang safe haven lainnya, terutama JPY seiring kekhawatiran terjadinya perang dagang AS-China akan menganggu volatilitas USD dan CNY.
"Sementara itu, dari dalam negeri, selain dari minimnya sentimen, adanya pernyataan kontradiksi dari Menko Perekonomian Darmin Nasution yang pesimis pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 tidak akan mencapai 5,2% menahan laju rupiah," pungkasnya.
Di sisi lain, meningkatnya minat pelaku pasar terhadap mata uang safe haven selain USD, untuk mengantisipasi masih adanya sentimen perang dagang Amerika Serikat-China.
"Ini dikhawatirkan dapat membuat rupiah kembali melemah," ujar Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (28/6/2018).
Adapun rupiah diestimasikan Reza akan bergerak dengan kisaran support di level Rp14.180 per USD dan resisten Rp14.166 per USD.
Sementara, belum beranjaknya sentimen yang sama dari sebelumnya terkait dengan potensi terjadinya perang dagang antara AS dan China membuat laju pergerakan rupiah terimbas pergerakan valas global.
Laju rupiah sempat melemah sebelum akhirnya ditutup stagnan. Di sisi lain, pelaku pasar beralih ke mata uang safe haven lainnya, terutama JPY seiring kekhawatiran terjadinya perang dagang AS-China akan menganggu volatilitas USD dan CNY.
"Sementara itu, dari dalam negeri, selain dari minimnya sentimen, adanya pernyataan kontradiksi dari Menko Perekonomian Darmin Nasution yang pesimis pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 tidak akan mencapai 5,2% menahan laju rupiah," pungkasnya.
(ven)