PLN Siapkan Infrastruktur Penuhi Potensi Pasar 3.350 MW di Sulteng
Jum'at, 17 Agustus 2018 - 09:21 WIB
PLN Siapkan Infrastruktur Penuhi Potensi Pasar 3.350 MW di Sulteng
A
A
A
TAHUNA - PT PLN (Persero) mengidentifikasi adanya tambahan kebutuhan pasokan listrik sebesar 3.350 MW di Sulawesi Tenggara (Sulteng) dalam beberapa tahun ke depan. Tambahan permintaan listrik tersebut berasal dari rencana pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral di daerah penghasil nikel tersebut.
"Untuk itu, PLN terus berinvestasi secara bertahap menyiapkan infrastruktur kelistrikan yang dibutuhkan. Kita terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah," ujar Direktur Bisnis Regional Sulawesi PLN Syamsul Huda di acara paparan kondisi kelistrikan Sulawesi di Tahuna, Kepulauan Sangihe, Kamis (16/8) malam.
PLN memperkirakan investasi yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp115 triliun. Terkait dengan itu, Syamsul berharap dukungan semua pihak, termasuk swasta untuk bekerja sama dengan PLN. Dia menegaskan, pemenuhan kebutuhan tambahan listrik tersebut oleh PLN akan jauh lebih efisien dan ekonomis ketimbang masing-masing perusahaan tambang membangun sendiri pembangkit listriknya.
"Kalau masing-masing membangun sendiri, selain sangat mahal, juga akan banyak kapasitas idle yang tak termanfaatkan," tuturnya.
Di sisi lain, sambung dia, untuk mendukung industri dan mendorong perekonomian, PLN berkepentingan untuk menjaga harga jual listriknya tetap terjangkau. Dia menerangkan, saat ini biaya pokok produksi listrik di Sulawesi sebesar Rp1.700/kWh. Namun, dengan skema subsidi silang PLN bisa menjual listriknya ke smelter seharga Rp1.126/kWh. Selain lebih murah, tegas dia, PLN juga menjamin keandalan pasokan listriknya.
Berkat pendekatan yang telah dilakukan, jelas Syamsul, dari kebutuhan 3.350 MW tersebut, PLN telah berhasil menandatangani kesepakatan penyediaan listrik sebesar 2.029 MVA, terdiri dari 16 MoU sebesar 1.639 MVA, satu SPJBTL 350 MVA dan satu yang telah energize sebesar 40 MVA. "Mudah-mudahan sisanya dapat segera komitmen," imbuhnya.
Syamsul menambahkan, potensi pasar tersebut melampaui daya mampu di Sulawesi saat ini yang sebesar 1.500 MW. Jika PLN mampu memenuhi tambahan kebutuhan itu, maka akan akan ada tambahan aset kelistrikan lebih dari 200% di regional Sulawesi. Hal itu diyakini akan membuka lebih banyak kesempatan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
"Sekaligus akan meningkatkan konsumsi listrik per kapita Indonesia yang saat ini sekitar 1.000 kWh/orang/tahun. Dengan begitu kita juga akan semakin dekat dengan kategori negara maju yang salah satu indikatornya adalah konsumsi listrik per kapita yang tinggi," pungkasnya.
"Untuk itu, PLN terus berinvestasi secara bertahap menyiapkan infrastruktur kelistrikan yang dibutuhkan. Kita terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah," ujar Direktur Bisnis Regional Sulawesi PLN Syamsul Huda di acara paparan kondisi kelistrikan Sulawesi di Tahuna, Kepulauan Sangihe, Kamis (16/8) malam.
PLN memperkirakan investasi yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp115 triliun. Terkait dengan itu, Syamsul berharap dukungan semua pihak, termasuk swasta untuk bekerja sama dengan PLN. Dia menegaskan, pemenuhan kebutuhan tambahan listrik tersebut oleh PLN akan jauh lebih efisien dan ekonomis ketimbang masing-masing perusahaan tambang membangun sendiri pembangkit listriknya.
"Kalau masing-masing membangun sendiri, selain sangat mahal, juga akan banyak kapasitas idle yang tak termanfaatkan," tuturnya.
Di sisi lain, sambung dia, untuk mendukung industri dan mendorong perekonomian, PLN berkepentingan untuk menjaga harga jual listriknya tetap terjangkau. Dia menerangkan, saat ini biaya pokok produksi listrik di Sulawesi sebesar Rp1.700/kWh. Namun, dengan skema subsidi silang PLN bisa menjual listriknya ke smelter seharga Rp1.126/kWh. Selain lebih murah, tegas dia, PLN juga menjamin keandalan pasokan listriknya.
Berkat pendekatan yang telah dilakukan, jelas Syamsul, dari kebutuhan 3.350 MW tersebut, PLN telah berhasil menandatangani kesepakatan penyediaan listrik sebesar 2.029 MVA, terdiri dari 16 MoU sebesar 1.639 MVA, satu SPJBTL 350 MVA dan satu yang telah energize sebesar 40 MVA. "Mudah-mudahan sisanya dapat segera komitmen," imbuhnya.
Syamsul menambahkan, potensi pasar tersebut melampaui daya mampu di Sulawesi saat ini yang sebesar 1.500 MW. Jika PLN mampu memenuhi tambahan kebutuhan itu, maka akan akan ada tambahan aset kelistrikan lebih dari 200% di regional Sulawesi. Hal itu diyakini akan membuka lebih banyak kesempatan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
"Sekaligus akan meningkatkan konsumsi listrik per kapita Indonesia yang saat ini sekitar 1.000 kWh/orang/tahun. Dengan begitu kita juga akan semakin dekat dengan kategori negara maju yang salah satu indikatornya adalah konsumsi listrik per kapita yang tinggi," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :