Transaksi Jual Beli Saham Pertagas Jelang Pilpres Dipertanyakan

loading...
Transaksi Jual Beli Saham Pertagas Jelang Pilpres Dipertanyakan
Transaksi Jual Beli Saham Pertagas Jelang Pilpres Dipertanyakan
JAKARTA - Sejumlah kalangan mempertanyakan keputusan pemerintah untuk membentuk Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor minyak dan gas bumi (migas). Kebijakan tersebut dinilai janggal mengingat dilakukan menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif pada 2019.

Seperti diketahui, keputusan untuk membentuk Holding BUMN migas dilakukan dengan cara melimpahkan saham seri B pemerintah di PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebanyak 56,96% menjadi milik PT Pertamina (Persero) selaku holding.

Pertamina mendapatkan saham senilai Rp38,13 triliun tersebut secara cuma-cuma setelah terbitnya Keputusan Menteri Keuangan terkait valuasi harga saham pemerintah yang dipindah kepemilikannya ke Pertamina pada akhir Maret lalu.

Selanjutnya untuk mengintegrasikan seluruh bisnis hilir gas di PGN sebagai subholding bisnis gas Pertamina, maka PGN diminta untuk mengakuisisi PT Pertamina Gas (Pertagas). Perusahaan ini merupakan anak usaha Pertamina di bisnis yang sama sehingga nantinya akan menjadi anak usaha PGN.



Sesuai negosiasi antara ketiga perusahaan, PGN akan membeli secara bertahap seluruh saham Pertagas. Dimulai dengan mengakuisisi 51% saham Pertagas senilai USD1,22 miliar atau setara Rp16,6 triliun yang harus dilunasi dalam waktu 90 hari sejak penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (Conditional Sales Purchase Agreement/CSPA) pada tanggal 29 Juni 2018.

Namun belum juga PGN tuntas membayar 51% saham tersebut, muncul kabar di internal Kementerian BUMN bahwa pemerintah ingin PGN secepatnya melakukan pembelian sisa 49% saham Pertagas tahun ini juga.

Menanggapi hal tersebut, Ekonom Dradjad Wibowo menilai, manajemen yang diterapkan Kementerian BUMN untuk beberapa aksi korporasi perusahaan pelat merah hanya akan merusak BUMN terkait.



"Saya tidak ingin berprasangka buruk. Tapi penanganan BUMN seperti itu, yang tidak sesuai dengan rencana korporasi mereka sejak awal ditambah dengan pentungan besi dari pemerintah, cenderung merusak BUMN," kata Dradjad, di Jakarta, Jumat (24/8/2018).
halaman ke-1 dari 2
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video
Top