BPS Anjurkan Impor Beras, Pengamat: Yang Benar Saja

Jum'at, 26 Oktober 2018 - 12:34 WIB
BPS Anjurkan Impor Beras,...
BPS Anjurkan Impor Beras, Pengamat: Yang Benar Saja
A A A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan Indonesia mengalami surplus beras 2,85 juta ton selama 2018. Meski demikian, Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan Indonesia masih tetap impor beras sebesar 2 juta ton. Hal ini terkait ketersediaan beras yang menyebar di masyarakat, sehingga sulit dikelola langsung oleh pemerintah.

"Pengelolaan beras yang bisa dilakukan pemerintah hanya yang berada di Bulog," kata Suhariyanto di Jakarta, Rabu (24/10) lalu. Tentang pernyataan BPS ini mengundang reaksi keras dari beberapa pihak, salah satunya pengamat ekonomi Suropati Syndicate, Muhammad Ardiansyah Laitte.

Alumnus magister Universitas Indonesia ini mengatakan apa yang disampaikan BPS tersebut sangat kontradiktif yaitu data menunjukan surplus, namun membenarkan masih tetap impor beras sebanyak 2 juta di tahun 2018.

"Saya apresiasi telah dirilis data beras terbaru. Ini akan mengakhiri polemik tentang beras. Tentunya masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan BPS," ujar pria yang biasa disapa Alle di Jakarta, Jumat (26/10/2018).

Dia menekankan data beras terbaru hasil metode KSA sesungguhnya baru pada tahap rilis secara nasional. Data tersebut belum menghitung angka per kecamatan dan kabupaten.

"Publik menunggu data detil untuk dasar kami memantau fakta lapangan. Berikutnya perlu segera dihitung angka mundur hingga 10 atau 20 tahun terakhir dan disebarkan ke publik dan lembaga dunia," terang Alle.

Alle menambahkan beberapa hal menjadi catatan luas panen, yakni apabila menggunakan data luas baku sawah 7,1 juta hektare, lantas bagaimana nasib fakta petani tanam padi diluar luas baku sawah, tidak dihitung.

"Ada banyak padi ladang, padi gogo dan rawa yang ditanam di tegalan/kebun, huma/ladang, belukar, rawa, areal hutan dan areal sementara tidak diusahakan. Apakah diabaikan, padahal luasnya sangat signifikan," imbuhnya.

Namun demikian, Alle menegaskan data surplus beras ini layak diapresiasi karena menunjukkan ada dampak dari program-program pertanian. Surplus 2,85 juta ton artinya produksi berlebih dan melimpah dibandingkan konsumsi.

"Jelas-jelas mubadzir atau sia-sia itu impor beras 2 juta ton. Sekarang ini publik bertanya-tanya mengkaitkan antara rilis data dengan impor ini. BPS ikut-ikutan bicara impor, ada apa ini? BPS ya agar fokus pada data saja," ungkapnya.

Oleh sebab itu, Alle menilai kebijakan dan realisasi impor ini harus dievaluasi. Impor hanya membuang-buang devisa dan merugikan petani. Bahkan, impor bertentangan dengan upaya pemerintah saat ini yang terus mendorong ekspor di tengah situasi sulit menghadapi perang dagang yang terjadi.

"Waktu lalu ada yang bilang, bila tidak impor akan tewas kita. Ya jangan begitulah. Ini data sudah surplus, jadi tidak bakalan tewas. Justru sebaliknya, bila tidak impor akan tewas para pehobi impor itu," tuturnya.

Lebih lanjut Alle menjelaskan agar fair mendapat data yang diinginkan untuk menyelesaikan masalah. Metode KSA harus dikombinasikan dengan Sensus Beras. Cukup sekali Sensus bisa dijadikan pijakan data yang kredibel dan valid.

Metode KSA bisa dianggap sebagai menyelesaikan masalah dengan menyisakan masalah pula jika tidak dilengkapi dengan sensus, maupun pendataan terbaru sebaran stok beras di petani, penggilingan, gudang dan pedagang, di konsumen, warung hotel dan restoran dan tercecer.

"Saya setuju dengan Kepala BPS bahwa stok sebagian besar ada di rumah tangga yang sulit dikendalikan bila dibutuhkan pemerintah. Tapi Kepala BPS tidak menyajikan angka stoknya Survei Kajian Cadangan Beras (SKCB) 2015 itu sehingga seolah tidak gamblang," pintanya.

Alle mengungkapkan hasil survei SKCB BPS 2015 itu di 31 Maret 2015 ada stok beras 7,97 juta ton, lalu 31 Juni stock 10,02 juta ton dan 30 September 2015 stok 8,85 juta ton. Dengan begitu, stok sangat tinggi berkisar 7,9 hingga 10 juta ton. Bahkan beberapa kali Sucofindo survei sejak 2007 hingga 2012, stok beras berkisar 6 hingga 9 juta ton beras

“Artinya survei BPS 2015 ini menjadi kontradiktif dengan angka surplus metode KSA sebesar 2,85 juta ton. Kelihatan janggal dan berbeda jauh untuk dicermati," ungkap Alle.

Namun demikian, Alle menegaskan jika mengacu data stok beras hasil SKCB BPS maupun data surplus hasil KSA, bukan berarti neraca beras defisit. Pasalnya, program pembangunan pertanian sudah menuju modern sehingga mampu menyediakan pangan ke depannya.

"Jadi jangan percaya bila ada yang bilang neraca beras tidak aman. Saya optimis neraca beras sangat aman hingga tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya mengingat infrastruktur pertanian yang dibangun selama ini semakin kuat. Pondasi pertanian sudah mantap untuk akselerasi," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BPS: Indonesia Tak Lagi...
BPS: Indonesia Tak Lagi Impor Beras Medium di 2025
BPS Catat Inflasi November...
BPS Catat Inflasi November Sebesar 0,38 persen
Harga Beras Premium...
Harga Beras Premium Turun Tipis pada Juni 2021
Harga Beras Naik 5,8%...
Harga Beras Naik 5,8% per September 2025, Intip Rinciannya
BPS Perkirakan Harga...
BPS Perkirakan Harga Beras Masih Stabil
Harga Beras April 2021...
Harga Beras April 2021 Rata-rata Turun, Ini Rinciannya
Berita Terkini
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
59 menit yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
2 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
2 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
3 jam yang lalu
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Dorong Pensiunan Tetap Produktif dan Sejahtera
3 jam yang lalu
Personal Branding Berbasis...
Personal Branding Berbasis Kepercayaan Jadi Kunci Peluang Bisnis
3 jam yang lalu
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved