Waspadai Kenaikan Inflasi Desember dari Makanan dan Transportasi
Selasa, 04 Desember 2018 - 01:09 WIB
Waspadai Kenaikan Inflasi Desember dari Makanan dan Transportasi
A
A
A
BANDUNG - Inflasi Jawa Barat pada November 2018 tercatat sebesar 0,28% atau menjadi 2,97% periode Januari hingga November 2018 (year to date). Berkaca inflasi bulanan tahun lalu, Desember biasanya memberi kontribusi besar terhadap inflasi Jawa Barat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat Dody Erlando mengatakan, pihaknya belum bisa memprediksi besaran inflasi Desember tahun ini. Namun dia memperkirakan, trendnya tidak akan terjadi deflasi.
“Desember memang faktor musim. Biasanya naik. Saya tidak bisa perkirakan berapa, tapi Desember pasti tidak deflasi. Karena ada beberapa kenaikan permintaan seperti transportasi, konsumsi, dan lainnya,” kata Dody di kantor BPS Jabar, Jalan PH Mustofa, Kota Bandung, Senin (3/12).
Sektor transportasi akan mengalami kenaikan permintaan lantaran banyak masyarakat bepergian, pada libur sekolah, natal, dan tahun baru. Seiring dnegan itu, permintaan konsumsi diperkirakan juga meningkat yang akan mendorong kenaikan harga.
“Juga harus hati-hati atas persoalan perberasan. Walaupun yang lain stabil,tapi kalau beras naik bisa ngaruh. Karena semua rakyat beli komoditas ini. Apalagi kadang masyarakat beli merek, tanpa melihat kualitas berasnya,” beber dia.
Perum Bulog, kata dia, mesti bisa membuktikan bahwa pasokan beras aman hingga beberapa bulan ke depan. Sehingga tidak ada spekulan yang menaikkan harga beras seenaknya. Semua pihak, kata dia,harus menjaga distribusi beras,supaya alur distribusi ke pedagang tidak tersendat.
Diketahui, penyumbang inflasi terbeasar di Jabar pada November ini adalah Kota Bogor 0,39%, diikuti kota Bandung 0,36%, Sukabumi 0,32%, Kota Cirebon 0,37%, Kota Bekasi 0,2q%, Kota Depok 0,20%, dan Kota Tasikmalaya 0,26%.
Tujuh kelompok yang menyumbang inflasi terbesar adalah bahan makanan 0,21%, makanya jadi, minuman, rokok, 0,22%; perumahan, air, gas, BBM 0,41%; sandang 0,17%, kesehatan 0,26%, pendidikan, rekreasi, olahraga 0,01%; transpor, komunikasi, dan keuangan 0,41%.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat Dody Erlando mengatakan, pihaknya belum bisa memprediksi besaran inflasi Desember tahun ini. Namun dia memperkirakan, trendnya tidak akan terjadi deflasi.
“Desember memang faktor musim. Biasanya naik. Saya tidak bisa perkirakan berapa, tapi Desember pasti tidak deflasi. Karena ada beberapa kenaikan permintaan seperti transportasi, konsumsi, dan lainnya,” kata Dody di kantor BPS Jabar, Jalan PH Mustofa, Kota Bandung, Senin (3/12).
Sektor transportasi akan mengalami kenaikan permintaan lantaran banyak masyarakat bepergian, pada libur sekolah, natal, dan tahun baru. Seiring dnegan itu, permintaan konsumsi diperkirakan juga meningkat yang akan mendorong kenaikan harga.
“Juga harus hati-hati atas persoalan perberasan. Walaupun yang lain stabil,tapi kalau beras naik bisa ngaruh. Karena semua rakyat beli komoditas ini. Apalagi kadang masyarakat beli merek, tanpa melihat kualitas berasnya,” beber dia.
Perum Bulog, kata dia, mesti bisa membuktikan bahwa pasokan beras aman hingga beberapa bulan ke depan. Sehingga tidak ada spekulan yang menaikkan harga beras seenaknya. Semua pihak, kata dia,harus menjaga distribusi beras,supaya alur distribusi ke pedagang tidak tersendat.
Diketahui, penyumbang inflasi terbeasar di Jabar pada November ini adalah Kota Bogor 0,39%, diikuti kota Bandung 0,36%, Sukabumi 0,32%, Kota Cirebon 0,37%, Kota Bekasi 0,2q%, Kota Depok 0,20%, dan Kota Tasikmalaya 0,26%.
Tujuh kelompok yang menyumbang inflasi terbesar adalah bahan makanan 0,21%, makanya jadi, minuman, rokok, 0,22%; perumahan, air, gas, BBM 0,41%; sandang 0,17%, kesehatan 0,26%, pendidikan, rekreasi, olahraga 0,01%; transpor, komunikasi, dan keuangan 0,41%.
(akr)
Lihat Juga :