Menteri Keuangan Sri Mulyani Beberkan Kompleksitas Negosiasi Freeport

Kamis, 27 Desember 2018 - 19:58 WIB
Menteri Keuangan Sri...
Menteri Keuangan Sri Mulyani Beberkan Kompleksitas Negosiasi Freeport
A A A
JAKARTA - Keputusan untuk meningkatkan kepemilikan Indonesia di PT Freeport Indonesia (PTFI) menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melibatkan usaha yang besar dan panjang.

Kehati-hatian dalam bertindak menyangkut PTFI karena menjadi pusat perhatian semua kalangan di dalam maupun luar negeri. Empat Kementerian terlibat dalam mewujudkan peningkatan kepemilikan saham Indonesia melalui Holding Industri Pertambangan PT Inalum (Persero) menjadi 51%.

Selain Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian BUMN, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga terlibat aktif dalam proses ini.

“Saya menghitung sejak pertengahan 2017 hingga Desember 2018, lebih dari 34 kali pertemuan dan rapat di internal Kemenkeu, antar kementerian dan lembaga dan Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Mimika, dengan pihak Freeport McMoRan (FCX) dan Rio Tinto,” tutur Sri Mulyani sebagaimana tertulis dalam laman Facebook resminya.

Jajaran Kemenkeu melakukan negosiasi aspek penerimaan negara yang harus mengkonversi Kontrak Karya (KK) menjadi IUPK dengan jaminan penerimaan negara harus lebih baik di bawah rezim IUPK. Kami berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, Pemda Papua, dan Kabupaten Mimika mengenai hak penerimaan daerah.

Proses alot selama kurang lebih dua tahun yang dijalankan oleh semua pihak dilakukan untuk mencapai tujuan bersama yang jelas.

“Setiap ucapan, tindakan dan keputusan pemerintah Indonesia menyangkut penanganan pertambangan PTFI akan membuktikan di mana posisi pemerintah Republik Indonesia terhadap kepentingan negara dan kemakmuran rakyatnya, baik di Papua maupun seluruh rakyat Indonesia. Kepentingan membangun ketahanan ekonomi Indonesia termasuk pembangunan industri, kepentingan perbaikan dan kelestarian lingkungan, kepentingan penerimaan negara, kepentingan kepastian hukum dan menjaga tata kelola yang baik, dan kepentingan menjaga kepercayaan dunia usaha dan investasi,” papar Sri Mulyani.

Dia pun berbangga atas berhasilnya divestasi PTFI. Bagi Sri Mulyani, pencapaian ini merupakan hasil kerja keras penuh profesionalisme dan integritas serta dedikasi dari seluruh komponen bangsa yang ingin memperjuangkan dan memberikan terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia.

"Indonesia boleh bangga dengan hasil terbaik yang dipersembahkan anak-anak bangsanya,” ujar Sri Mulyani.

PTFI melakukan eksplorasi dan penambangan berdasarkan KK dengan pemerintah Indonesia yang ditandatangani pada tahun 1967 di zaman Soeharto dan diperbarui melalui KK tahun 1991 di zaman presiden yang sama dengan masa operasi hingga 2021.

Terkait dengan masa operasi tersebut, FCX sebagai pengendali PTFI dan pemerintah memiliki interpretasi yang berbeda atas isi pasal perpanjangan. Pengertian FCX, yang berbasis di Amerika Serikat, adalah bahwa KK akan berakhir di tahun 2021 namun mereka berhak mengajukan perpanjangan dua kali 10 tahun (hingga 2041). Pemerintah tidak akan menahan atau menunda persetujuan tersebut secara "tidak wajar".

Interpretasi yang berbeda terkait kata “tidak wajar” ini harus diselesaikan di pengadilan internasional (arbitrase).

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD baru-baru ini, tidak ada jaminan Indonesia dapat menang di arbitrase yang sidangnya dapat berlangsung bertahun-tahun, dan jika kalah pemerintah bisa diwajibkan membayar ganti rugi jauh lebih besar dari harga divestasi.

"Di KK itu pun tidak ada pasal yang mengatakan jika kontrak berakhir, pemerintah bisa mendapatkan PTFI dan tambang Grasberg secara gratis," kata Mahfud.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan, KK PTFI tidak sama dengan kontrak yang berlaku di sektor minyak dan gas di mana jika kontrak berakhir langsung dimiliki oleh pemerintah.
(akn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Bukti Konsistensi Inalum...
Bukti Konsistensi Inalum Bangun Industri Alumunium Adaptif dan Ramah Lingkungan
Integrasikan CSR dalam...
Integrasikan CSR dalam Strategi Bisnis, Inalum Raih Dua Penghargaan Bergengsi
Inalum Terbitkan Global...
Inalum Terbitkan Global Bond USD2,5 Miliar
Pasar Aluminium Menantang...
Pasar Aluminium Menantang 2 Tahun Terakhir, Inalum Cetak Kinerja Apik di Awal 2022
Setelah Idul Fitri,...
Setelah Idul Fitri, Grup Mind Id Bekerja dengan 'New Normal'
Inalum Dapat Utangan,...
Inalum Dapat Utangan, Dua Mega-Proyek di Sumsel Akan Digarap
Berita Terkini
Akuisisi Aster Jadi...
Akuisisi Aster Jadi Titik Balik Chandra Asri Group, Diversifikasi Bisnis Mulai Dongkrak Kinerja
32 menit yang lalu
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
43 menit yang lalu
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
9 jam yang lalu
Menghadapi Tekanan Ekonomi,...
Menghadapi Tekanan Ekonomi, Agen Asuransi Jiwa Terus Tingkatkan Kapasitas lewat MDRT Day 2026
10 jam yang lalu
7 BUMN Kolaborasi Gelar...
7 BUMN Kolaborasi Gelar Blue Impact, Lestarikan Terumbu Karang dan Berdayakan Masyarakat Pesisir
10 jam yang lalu
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
10 jam yang lalu
Infografis
Jusuf Muda Dalam, Menteri...
Jusuf Muda Dalam, Menteri yang Dihukum Mati karena Korupsi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved