Inflasi Inggris Turun ke Level Terendah Dua Tahun di Januari

Kamis, 14 Februari 2019 - 14:49 WIB
Inflasi Inggris Turun...
Inflasi Inggris Turun ke Level Terendah Dua Tahun di Januari
A A A
LONDON - Inflasi Inggris turun ke level terendah dalam dua tahun pada Januari 2019, usai terseret seiring dengan penurunan harga energi dan bahan bakar. Kantor Statistik Nasional juga menerangkan Indeks Harga Konsumen (CPI) berada di level 1,8% bulan lalu dari 2,1% pada Desember.

Seperti dilansir BBC, penurunan pada Januari sebagian diimbangi oleh kenaikan tarif tiket transportasi udara dan feri, lebih besar dari perkiraan ekonom dan mencuat saat data terbaru menunjukkan upah mengalami kenaikan 3,3%. Inflasi memuncak ke posisi tertinggi lima tahun di 3,1% pada November 2017 dan terakhir 1,8% pada Januari 2017, silam.

Para ekonom telah memperkirakan bahwa CPI akan jatuh pada bulan Januari menjadi 2% yang menjadi target inflasi Bank Inggris. "Penurunan inflasi ini terutama disebabkan oleh gas, listrik, dan bensin yang lebih murah. Lalu diimbangi oleh kenaikan harga tiket feri dan tarif transportasi udara turun lebih lambat daripada tahun lalu," jelas Kepala Inflasi ONS Mike Hardie

Batas harga energi Ofgem, yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2019, membantu menurunkan inflasi, terang ONS. Namun, batas itu sedang dinaikkan dan ini kemungkinan akan dimasukkan ke angka CPI selanjutnya.

ONS mencatat harga bensin juga turun sebesar 2,1% per liter antara Desember 2018 dan Januari 2019 seiring jatuhnya harga minyak mentah. Tarif hotel dan restoran juga lebih rendah sementara harga pakaian wanita dan anak-anak mengalami penurunan harga yang lebih besar dari tahun sebelumnya.

Ketika upah naik 3,3%, Ekonom senior Institute of Directors Tej Parikh mengatakan, inflasi yang lebih rendah adalah "anugerah" bagi ekonomi karena upaya untuk mengatasi dampak ketidakpastian. "Selama dua tahun terakhir, rumah tangga telah terjepit di antara harga yang tinggi dan pertumbuhan upah yang lemah. Dengan inflasi sekarang pada level terendah dua tahun dan meningkatnya momentum dalam paket pembayaran, konsumen cenderung merasa kurang," ungkapnya.

Ian Stewart, Kepala ekonom di Deloitte, juga menyoroti potensi bantuan bagi peritel. Dia mengatakan penurunan inflasi di samping meningkatnya pendapatan juga memberikan peningkatan yang kuat untuk daya beli. "Brexit mendominasi saat ini, tetapi jika risiko Brexit berkurang, konsumen akan berada di posisi yang baik untuk mencapai High Street," tambahnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menanti Gebrakan Ekonomi...
Menanti Gebrakan Ekonomi PM Inggris Rishi Sunak
Keuangan Inggris Terburuk...
Keuangan Inggris Terburuk Sejak 1945, Menkeu Baru Rachel Reeves Salahkan Pendahulunya
Ekonomi Inggris di Ambang...
Ekonomi Inggris di Ambang Kolaps, Krisis 1976 Bakal Terulang?
Inggris Masih Resesi,...
Inggris Masih Resesi, Ekonominya Minus 9,6 Persen pada Kuartal III
5 Fakta Resesi Ekonomi...
5 Fakta Resesi Ekonomi Inggris dan Apa Saja Dampaknya
Ekonomi Inggris Jatuh...
Ekonomi Inggris Jatuh ke Dalam Resesi pada Akhir 2023
Berita Terkini
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
14 menit yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
33 menit yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
1 jam yang lalu
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
1 jam yang lalu
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
1 jam yang lalu
Jelang Mandatori SAF...
Jelang Mandatori SAF 1% di 2027, Pertamina Patra Niaga Percepat Ekosistem
2 jam yang lalu
Infografis
22 Tahun Mangkrak, 109...
22 Tahun Mangkrak, 109 Tiang Monorel di Jakarta Dibongkar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved