IHSG Selasa Pagi Anjlok 45,59 Poin Iringi Tergelincirnya Bursa Asia
Selasa, 05 Maret 2019 - 09:45 WIB
IHSG Selasa Pagi Anjlok 45,59 Poin Iringi Tergelincirnya Bursa Asia
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan, Selasa (18/8/2017) dibuka anjlok ke zona merah untuk melanjutkan tren negatif sejak kemarin. Pada sesi pagi, IHSG turun 45,590 poin atau 0,703% menjadi 6.442,83 saat bursa Asia lainnya juga tergelincir.
Sementara pada perdagangan kemarin IHSG memerah setelah pergerakan variatif sepanjang hari hingga melemah. Pada sesi penutupan awal pekan, IHSG kehilangan 11,46 poin atau setara -0.18% ke level 6.488,42 saat bursa China melompat tinggi diikuti beberapa lainnya.
Penurunan bursa saham Tanah Air pada Selasa pagi ini dipicu antara lain oleh kemerosotan harga beberapa saham di antaranya Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Bank Central Asia Tbk (BBCA), Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), H.M. Sampoerna Tbk (HMSP) dan Astra International Tbk (ASII).
Hingga pukul 09.30 WIB, harga saham emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp300 triliun, yaitu BBCA turun 1,08% jadi Rp27.375 per unit. Adapun harga saham UNVR turun 0,36% ke Rp48.825, HMSP turun 1,29% jadi Rp3.830, ASII turun 0,35% ke Rp7.125, dan TLKM turun 0,26% jadi Rp3.840 per saham.
Adapun nilai transaksi pada bursa Indonesia tercatat sebesar Rp70 miliar dengan 201 juta saham diperdagangkan pada sesi pagi dan transaksi bersih asing minus Rp2,41 miliar dengan aksi jual asing sebesar Rp16,99 miliar dan aksi beli asing mencapai Rp14,58 miliar. Tercatat 56 saham naik, 51 saham turun dan 94 saham stagnan.
Di sisi lain sebagian besar pasar saham wilayah Asia turun pada sesi perdagangan Selasa pagi, setelah tergelincirnya Wall Street yang membuat Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 mengalami raihan terburuk satu hari dalam hampir sebulan. Penurunan dipimpin pergerakan variatif saham-saham di daratan China pada awal sesi.
Tercatat komposit Shanghai menurun lebih dari 0,2% untuk mengiringi komposit Shenzhen yang meningkat sebesar 0,104%. Target pertumbuhan ekonomi China secara resmi tahun ini, akan menjadi 6,0 hingga 6,5 persen, sesuai dengan harapan. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu melaporkan pertumbuhan 6,6% pada 2018, atau berada dalam laju paling lambat sejak 1990.
Indeks Nikkei diperdagangkan lebih rendah usai tergelincir 0,57% karena saham indeks kelas berat seperti Softbank Group turun sekitar 1,6% sedangkan indeks Topix turun 0,78%. Selanjutnya di tempat lain, indeks Kospi, Korea Selatan menyusut 0,77% terseret kejatuhan produsen chip yakni SK Hynix yang lebih rendah 1,5%.
Tren pelemahan juga terjadi pada bursa patokan Australia, dimana ASX 200 tergelincir 0,67% dengan sebagian besar sektor menurun. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga mengalami penurunan hingga 0,55%.
Sementara pada perdagangan kemarin IHSG memerah setelah pergerakan variatif sepanjang hari hingga melemah. Pada sesi penutupan awal pekan, IHSG kehilangan 11,46 poin atau setara -0.18% ke level 6.488,42 saat bursa China melompat tinggi diikuti beberapa lainnya.
Penurunan bursa saham Tanah Air pada Selasa pagi ini dipicu antara lain oleh kemerosotan harga beberapa saham di antaranya Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Bank Central Asia Tbk (BBCA), Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), H.M. Sampoerna Tbk (HMSP) dan Astra International Tbk (ASII).
Hingga pukul 09.30 WIB, harga saham emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp300 triliun, yaitu BBCA turun 1,08% jadi Rp27.375 per unit. Adapun harga saham UNVR turun 0,36% ke Rp48.825, HMSP turun 1,29% jadi Rp3.830, ASII turun 0,35% ke Rp7.125, dan TLKM turun 0,26% jadi Rp3.840 per saham.
Adapun nilai transaksi pada bursa Indonesia tercatat sebesar Rp70 miliar dengan 201 juta saham diperdagangkan pada sesi pagi dan transaksi bersih asing minus Rp2,41 miliar dengan aksi jual asing sebesar Rp16,99 miliar dan aksi beli asing mencapai Rp14,58 miliar. Tercatat 56 saham naik, 51 saham turun dan 94 saham stagnan.
Di sisi lain sebagian besar pasar saham wilayah Asia turun pada sesi perdagangan Selasa pagi, setelah tergelincirnya Wall Street yang membuat Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 mengalami raihan terburuk satu hari dalam hampir sebulan. Penurunan dipimpin pergerakan variatif saham-saham di daratan China pada awal sesi.
Tercatat komposit Shanghai menurun lebih dari 0,2% untuk mengiringi komposit Shenzhen yang meningkat sebesar 0,104%. Target pertumbuhan ekonomi China secara resmi tahun ini, akan menjadi 6,0 hingga 6,5 persen, sesuai dengan harapan. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu melaporkan pertumbuhan 6,6% pada 2018, atau berada dalam laju paling lambat sejak 1990.
Indeks Nikkei diperdagangkan lebih rendah usai tergelincir 0,57% karena saham indeks kelas berat seperti Softbank Group turun sekitar 1,6% sedangkan indeks Topix turun 0,78%. Selanjutnya di tempat lain, indeks Kospi, Korea Selatan menyusut 0,77% terseret kejatuhan produsen chip yakni SK Hynix yang lebih rendah 1,5%.
Tren pelemahan juga terjadi pada bursa patokan Australia, dimana ASX 200 tergelincir 0,67% dengan sebagian besar sektor menurun. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga mengalami penurunan hingga 0,55%.
(akr)
Lihat Juga :