Gubernur BI Bercerita Ekonomi Dunia di Tahun 2018 Tidak Ramah

Rabu, 27 Maret 2019 - 13:24 WIB
Gubernur BI Bercerita...
Gubernur BI Bercerita Ekonomi Dunia di Tahun 2018 Tidak Ramah
A A A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menceritakan, bahwa kondisi perekonomian global pada 2018 sangat tidak ramah. Bahkan terang dia, dampaknya perekonomian Indonesia pun mengalami guncangan tahun lalu.

Seperti diketahui perekonomian Indonesia sendiri tumbuh melambat tahun kemarin, sedangkan di sisi lain nilai tukar Rupiah juga sempat menyentuh angka Rp15.000 per USD. "Sejak tahun 2018 dunia tidak ramah. Termasuk ke Indonesia, bahkan semakin menjadi-jadi sejak saya jadi Gubernur BI," ujar Perry di Jakarta, Rabu (27/3/2019).

Menurut Perry, salah satu faktor yang membuat perekonomian global tidak ramah adalah kebijakan pemerintah dan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Dari sisi kebijakan pemerintah Amerika Serikat sendiri banyak sekali yang jadi penyebab, namun yang paling berdampak adalah pengenaan bea masuk terhadap produk baja asal China.

"Hal ini memiliki dampak domino yang membuat antara Amerika Serikat dan China mengalami perang dagang. Perang Dagang ini juga cukup berdampak pada negara lain karena ada beberapa negara juga mengenakan bea masuk untuk melakukan proteksi terhadap produk asal Amerika Serikat dan China," paparnya.

Sambung dia menambahkan, ada juga kebijakan kenaikan suku bunga oleh The Fed dimana telah menaikan suku bunganya sebanyak 4 kali. Hal ini cukup berpengaruh terhadap nilai tukar negara-negara di dunia. Sebab, banyak aliran modal asing yang berada di negara tersebut kembali pulang kampung menuju Amerika Serikat.

Selain itu masih ada beberapa hal lagi seperti peristiwa lain yakni negosiasi Brexit atau keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa (UE). Ditambah juga adanya penurunan harga komoditas yang sangat amat berpengaruh bagi negara berkembang yang masih mengandalkan ekspor komoditas.

"Kenaikan suku bunga AS lebih cepat dan tinggi. Ketegangan dari AS terhadap sejumlah negara (perang dagang) termasuk Tiongkok. Lambatnya perekonomian dunia, dan turunnya harga komoditas serta Brexit," jelasnya.

Ketidakpastian global itu pun membuat beberapa negara mengalami krisis, dimana salah satu contohnya adalah Turki hingga Argentina. "Aliran modal asing keluar dari negara termasuk Indonesia. Menguatnya dolar terhadap seluruh mata uang dunia termasuk Rupiah. Tingginya primer risk. Ketegangan silih berganti menghantam, termasuk negara emerging market. Banyak yang tidak tahu. Turki dan Argentina masuk krisis finansial," terang dia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
BI Optimistis Ekonomi...
BI Optimistis Ekonomi Indonesia Capai 5,5% di 2024
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,9%–5,7% di 2026
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bank Dunia Pangkas Proyeksi...
Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi Indonesia, Tak Sampai 5,2% di 2026
Berita Terkini
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
16 menit yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
35 menit yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
1 jam yang lalu
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
1 jam yang lalu
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
1 jam yang lalu
Jelang Mandatori SAF...
Jelang Mandatori SAF 1% di 2027, Pertamina Patra Niaga Percepat Ekosistem
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved