Sama-Sama Negara Berkembang, Pertumbuhan RI Kalah Jauh dari India dan Vietnam

Kamis, 11 April 2019 - 21:01 WIB
Sama-Sama Negara Berkembang,...
Sama-Sama Negara Berkembang, Pertumbuhan RI Kalah Jauh dari India dan Vietnam
A A A
JAKARTA - Capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,17% di tahun 2018 dinilai perlu menjadi perhatian khusus. Pasalnya, di beberapa negara berkembang seperti India dan Vietnam, pertumbuhan ekonomi pada tahun yang sama jauh lebih tinggi, mencapai 7%.

Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho mengatakan, kendati sama-sama negara berkembang, pertumbuhan ekonomi di dua negara itu masih kuat di tengah gejolak ekonomi global yang terjadi.

"Pertumbuhan ekonomi kkta enggak secepat India, seperti Vetnam dan Filipina mereka makin kencang sedangkan kita lambat. Padahal mereka juga terkena imbas dari gejolak ekonomi global," ujar Andy di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Ekonom senior Indef Nawir Messi menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pun hanya tersentralisasi di Pulau Jawa saja. Hal itu yang membuat pertumbuhan Indonesia mentok di angka 5%. Saat ini, 57,4% Produk Domestik Bruto Indonesia disumbang Pulau Jawa.

"Yang tumbuh adalah pusat pertumbuhan di Jawa. Saya kira balancing antara kualitas dan kuantitas dalam lima tahun ke depan harusnya jadi fokus perhatian siapapun (presiden) yang nanti terpilih," katanya. Dia menegaskan, selain kuantitas, pertumbuhan ekonomi dari sisi kualitas pun perlu diperbaiki. Persoalan kesejahteraan sosial menurutnya masih menjadi masalah utama di Indonesia.

Lebih jauh, Indef menilai perlu langkah konkrit untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 6-7%. Salah satunya adalah harus terus menjaring modal asing.

Menurut Nawir, saat ini rasio produktivitas Indonesia atau ICOR (Implemental Capital to Output Ratio) masih tinggi. "Sehingga, harus menjaring modal asing yang banyak untuk menumbuhkan ekonomi," ujarnya.

Dia mengatakan, rasio ICOR Indonesia masih di kisaran 6,1%. Artinya, untuk menumbuhkan ekonomi 1% butuh penambahan investasi sebesar 6,1%. "Kalau mau tumbuh 6-7% enggak ada pilihan kecuali modal asing masuk," tandasnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menelisik Status Upper...
Menelisik Status Upper Middle Income Country
PDB Meroket 8,2%, India...
PDB Meroket 8,2%, India Menegaskan Status Ekonomi Utama dengan Pertumbuhan Tercepat
Menjaga Tren Pertumbuhan...
Menjaga Tren Pertumbuhan Ekonomi
Indef Perkirakan Pertumbuhan...
Indef Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2022 Capai 4,3%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia
Negara Berkembang Rebound...
Negara Berkembang Rebound Semester II, China Satu-satunya Negara yang Tumbuh Positif
Berita Terkini
Minat Makin Tinggi,...
Minat Makin Tinggi, Perdagangan Pasar Fisik Emas secara Digital di ICDX Tumbuh 338%
1 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Ambles ke Level 6.266 saat Ada 518 Saham Malas Bergerak
3 jam yang lalu
Bangun PFII di Bali...
Bangun PFII di Bali Butuh Waktu 3 Tahun, Danantara Siapkan Masa Transisi di Jakarta
3 jam yang lalu
4 Negara Bebas Kewajiban...
4 Negara Bebas Kewajiban Parkir DHE SDA di Himbara, Pemerintah Beri Kelonggaran
3 jam yang lalu
Panda Bond Laris Manis,...
Panda Bond Laris Manis, Indonesia Raup Rp18,47 Triliun
5 jam yang lalu
Trump Berlakukan Tarif...
Trump Berlakukan Tarif Impor Baru secara Global, Indonesia Kena 10%
5 jam yang lalu
Infografis
5 Presiden dan Ibu Negara...
5 Presiden dan Ibu Negara Miliki Perbedaan Usia Sangat Jauh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved