BUMN Tidak Lagi Lazy Company, Sudah Memberi Kontribusi Ekonomi

Rabu, 17 April 2019 - 06:34 WIB
BUMN Tidak Lagi Lazy...
BUMN Tidak Lagi Lazy Company, Sudah Memberi Kontribusi Ekonomi
A A A
JAKARTA - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai sudah mampu memberikan kontribusi ekonomi. Ada banyak fakta BUMN mulai bergerak, tidak lagi menjadi lazy company, dan mulai berkontribusi besar pada perekonomian.

Pandangan demikian disampaikan oleh Guru Besar bidang Ilmu Manajemen dari Universitas Indonesia, Rhenald Kasali menyikapi tudingan bahwa BUMN tidak memberikan kontribusi dan salah kelola.

BUMN turut berjuang membuka daerah-daerah terpencil, misalnya Angkasa Pura II yang turut mengelola Bandara Silangit, kemudian Banyuwangi yang kini telah diperbesar. Pekerjaan yang kira-kira swasta tidak berani masuk dan pemerintah daerah juga ingin melepas, kini ditangani oleh BUMN.

"Saat ini, BUMN tengah mengembangkan bandara di Purbalingga, bayangkan bertahun-tahun ekonomi sudah berkembang di sana, namun masih kurang perhatian untuk pembangunan bandara di wilayah itu. Jalan tol dibangun juga karena pihak swasta tidak ada yang berminat untuk itu, maka di situ lah BUMN masuk," jelasnya, Selasa (16/4/2019).

Ia menjelaskan, BUMN juga turun mengaktifkan langkah-langkah mengharumkan nama bangsa, terutama untuk menjalankan amanah Pasal 33 konstitusi, yaitu mengambil alih dari asing. Freeport sudah masuk, Blok Mahakam, Blok Rokan juga sudah masuk. Menurut Rhenald, BUMN telah menjalankan peran ini dengan baik.

Terkait tudingan-tudingan terhadap holding BUMN, menurutnya malah holding BUMN itu dapat membantu kelengkapan dan membuat lebih besar, dan memberikan kemampuan untuk melakukan financial laveraging. Laveraging itu berarti menjadi lebih besar, karena kapasitasnya menjadi lebih besar.

"Saya beri contoh dalam debat kemarin, disebutkan oleh satu narasumber, sampai kapanpun Garuda Indonesia tidak akan pernah untung, karena load factor-nya harus mencapai setidaknya 120%. Jawabnya karena kita melihat Garuda itu untungnya atau bisnisnya penumpang, padahal bisnis terbersar maskapai itu ada di jasa kargo dan selama ini kargo yang menikmati bukan maskapai, bukan juga Angkasa Pura. Siapa yang menikmati? Yang menikmati adalah pihak asing di Indonesia. Mereka punya perusahaan penerbangan yang khusus mengangkat kargo, mereka mempunyai pelabuhan yang khusus spesialis mengenai kargo," papar Rhenald.

Ia mencontohkan, dengan holding seperti yang dilakukan Singapura. Bila Singapore Airlines masuk ke seluruh negara, tidak hanya Singapore Airlines yang akan masuk, tetapi juga bandaranya. Makanya bandara Singapura bisa mengelola bandara lain di dunia.

"Dengan holding, mereka bisa menjamin. Kalau saya mengelola bandara di negara anda, saya akan bawa kargo, saya akan bawa penumpang. Bisa seperti itu," ujarnya.

"Indonesia kenapa tidak bisa? Karena kita mainnya sendiri-sendiri, bandara sama maskapai saling injak-injakkan. Sekarang harus sinergi, sehingga dengan begitu menjadi kuat, besar, dan kita tidak ditertawakan lagi oleh negara tetangga. Maskapai kalau hanya mengandalkan penumpang sampai kapan pun tidak akan bisa untung," pungkas Rhenald.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Holding Ultra Mikro...
Holding Ultra Mikro Mandek, Ini Penjelasan Kementerian BUMN
Rapat Kerja BUMN dengan...
Rapat Kerja BUMN dengan Komisi V DPR Bahas Pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro
BUMN Dipangkas Jadi...
BUMN Dipangkas Jadi 30, Ini Perusahaan yang Bakal Dimerger
Bentuk Holding Ultra...
Bentuk Holding Ultra Mikro Tanpa Otak-atik DPR, Tanri Abeng: Pemerintah Perlu Terbitkan PP
Erick Thohir Pastikan...
Erick Thohir Pastikan Pendirian Holding BUMN Tetap Berjalan
Wamen BUMN: Kalau Semua...
Wamen BUMN: Kalau Semua BUMN IPO, Bisa Lebih dari Temasek
Berita Terkini
Prabowo Sentil Pihak...
Prabowo Sentil Pihak yang Tolak B50, Ungkap Mereka Ambil Komisi Impor BBM
9 menit yang lalu
Yamaha Grand Filano...
Yamaha Grand Filano Irit BBM, Hemat Pengeluaran untuk Penggunaan Harian
30 menit yang lalu
Buka Peluang Cuan Baru,...
Buka Peluang Cuan Baru, POJ dan TOP Kolaborasi Tambah Armada Ride-Hailing
32 menit yang lalu
Dulu Diperebutkan hingga...
Dulu Diperebutkan hingga Rp1,6 Juta per Barel, Kini Minyak Dunia Malah Mencari Pembeli
1 jam yang lalu
Menutup Kesenjangan...
Menutup Kesenjangan Komunikasi Talenta Indonesia untuk Genjot Kinerja Bisnis di Era AI
1 jam yang lalu
Nasib 2.374 Pekerja...
Nasib 2.374 Pekerja Freeport Menggantung Sembilan Tahun, Said Iqbal Lapor Menaker
2 jam yang lalu
Infografis
10 Radar Militer Terbaik...
10 Radar Militer Terbaik di Dunia, Sudah Teruji di Medan Perang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved