Yuan China Terkapar Karena Perang Tarif, Level Terlemah Sejak Desember

Selasa, 14 Mei 2019 - 07:45 WIB
Yuan China Terkapar...
Yuan China Terkapar Karena Perang Tarif, Level Terlemah Sejak Desember
A A A
TORONTO - Meningkatnya perang tarif antara Amerika Serikat dan China tidak hanya menjungkalkan pasar saham AS (Wall Street) juga nilai tukar mata uang China, yuan terhadap dolar AS.

Melansir dari Reuters, Selasa (14/5/2019), kurs yuan terhadap USD jatuh ke level 6,92, merupakan yang terendah sejak 24 Desember 2018. China diperkirakan bakal melakukan intervensi untuk menghentikan penurunan tidak sampai level psikologis 7 yuan per USD.

Yuan jatuh setelah Kementerian Keuangan China mengumumkan rencana kenaikan tarif terhadap barang-barang AS senilai USD60 miliar, dari semula 10% menjadi 25% pada 1 Juni mendatang. Hal ini untuk membalas kenaikan tarif barang-barang China senilai USD200 miliar oleh Abang Sam.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan kenaikan tarif karena Beijing "melanggar kesepakatan", mengingkari komitmen yang telah dibuat selama negosiasi berbulan-bulan. Sementara, China berdalih bahwa pihaknya tidak akan menerima begitu saja syarat dari AS yang bisa merusak kepentingannya.

"Perang tarif ini membuat investor memilih mata uang safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss," ujar Bipan Rai, kepala strategi valuta asing di CIBC Capital Markets di Toronto, Kanada.

Akibat perang tarif ini, yuan China pun mengalami kerugian terhadap euro. Euro juga mendapat keuntungan terhadap USD karena memperoleh surplus neraca pembayaran saat perang dagang.

Selain memanasnya perang tarif AS-China, investor juga khawatir dengan langkah Trump yang akan mengenakan kenaikan tarif pada impor mobil dan suku cadang dari Uni Eropa dan Jepang.

Sebelumnya, Trump menerima laporan investigasi "Section 232" pada Februari lalu, dimana disimpulkan impor suku cadang mobil dan mobil dari Uni Eropa dan Jepang berisiko bagi keamanan nasional. Masa pembahasan 90 hari tersebut akan berakhir pada 18 Mei mendatang.

Investor berharap pemerintahan Trump memperpanjang tenggat waktu tersebut. "Jika terjadi, maka pasar akan kembali mendapatkan pukulan," kata Rai.

Adapun poundsterling Inggris tergelincir ke level terendah dalam dua minggu ditengah kekhawatiran parlemen Inggris akan gagal mencapai kesepakatan soal Brexit. Sebanyak 150 anggota parlemen Inggris menolak perjanjian kesepakatan Brexit.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BRICS Andalkan Transaksi...
BRICS Andalkan Transaksi Lokal Singkirkan Dolar AS, Tunda Pembentukan Mata Uang Bersama
AS Kembali di Tangan...
AS Kembali di Tangan Trump, Mimpi China Jadikan Mata Uang Yuan Terkuat Bisa Terkubur
Rusia: Dolar Jadi Senjata...
Rusia: Dolar Jadi Senjata AS untuk Perang Dagang Global
Rupiah Menguat saat...
Rupiah Menguat saat Banyak Mata Uang Asia Melemah
Gara-gara Perang Rusia-Ukraina!...
Gara-gara Perang Rusia-Ukraina! Sejarah Euro dan Dolar 20 Tahun yang Lalu Terulang
Dominasi Dolar AS Terkikis,...
Dominasi Dolar AS Terkikis, Transaksi Yuan di ASEAN Tembus Rp22.000 Triliun
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
8 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
9 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
10 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
12 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
12 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
12 jam yang lalu
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved