Target Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Bakal Buat Defisit Energi Membengkak

Senin, 17 Juni 2019 - 20:35 WIB
Target Pertumbuhan Ekonomi...
Target Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Bakal Buat Defisit Energi Membengkak
A A A
JAKARTA - Pemerintah menargetkan angka pertumbuhan ekonomi dalam asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2020 mencapai sebesar 5,3-5,6%. Dengam tingginya target pertumbuhan tersebut, Kemenkeu memastikan akan menjaga poin-poin external balance perekonomian nasional, salah satunya defisit perdagangan (Current Account Deficit/CAD).

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, perekonomian negara cenderung akan mendapatkan suatu gejolak yang tinggi, dengan semakin tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Hal ini bisa terjadi diakibatkan negara membutuhkan kebutuhan yang lebih besar untuk merealisasikan angka pertumbuhan ekonomi, sehingga mendorong adanya pertumbuhan impor yang lebih besar dibandingkan ekspor.

"Biasanya secara internasional 3 persen dari GDP itu salah satu indikator yang menciptakan vulnerabilitas lebih tinggi," ujar Sri Mulyani di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Dia mengatakan sejak kuartal I-2017 sampai dengan kuartal I-2019 untuk merelasikan angka pertumbuhan di atas 5%, sebagian besar sektor perdagangan nasional mengalami defisit. Bahkan, dari 23 sektor yang Ia jabarkan, hanya 8 sektor yang mengalami surplus.

"Beberapa handicap pertumbuhan ekonomi, dapat dilihat dari transaksi berjalan. Kalau kita lihat penyumbang defisit transaksi berjalan, komoditas maupun subsektor hanya sedikit yang surplus," tutur dia.

Salah satu sektor defisit yang disoroti oleh Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ialah sektor energi. Menurutnya, sektor energi selama ini selalu menyumbangkan defisit ke transaksi perdagangan, sejalan dengan tingginya permintaan dalam negeri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "Makin tumbuh pertumbuhan ekonomi, makin tinggi permintaan energi, kalau kita lihat defisit makin meningkat agar bisa tumbuh tinggi," paparnya.

Oleh karenanya, Ia menekankan komitmen untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, sekaligus memperbaiki angka neraca perdagangan. "Adapun dua program yang kita tekankan untuk merealisasikan hal tersebut ialah, melalui substitusi impor dan promosi ekspor melalui pembangunan infrastruktur," jelasnya
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ramalan Jokowi: Ekonomi...
Ramalan Jokowi: Ekonomi RI Tahun 2022 Tumbuh 5,5%
Intip Desain RAPBN 2026:...
Intip Desain RAPBN 2026: Pertumbuhan Ekonomi 5,4%, Rupiah Rp16.500 per USD
Prioritas RAPBN 2021...
Prioritas RAPBN 2021 Bukan untuk Kesehatan, Jangan Ngarep Ekonomi Tumbuh 5,5%
Anggaran Pemulihan Ekonomi...
Anggaran Pemulihan Ekonomi Naik Jadi Rp677,2 Triliun, Ini Rinciannya
Stimulasi Pertumbuhan...
Stimulasi Pertumbuhan Ekonomi, Menkeu Berharap pada Ekonomi Desa
Indonesia Berpotensi...
Indonesia Berpotensi Resesi, MPR Dorong Percepatan Belanja Anggaran
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
9 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
10 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
11 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
11 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
11 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
11 jam yang lalu
Infografis
10 Fakta Konflik AS...
10 Fakta Konflik AS - Venezuela: Perebutan Pengaruh dan Energi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved