IATA Optimistis Pendapatan Tembus USD21,7 Juta

Kamis, 20 Juni 2019 - 12:16 WIB
IATA Optimistis Pendapatan...
IATA Optimistis Pendapatan Tembus USD21,7 Juta
A A A
JAKARTA - PT Indonesia Transport and Infrastructure Tbk (IATA) optimistis menargetkan pendapatan tahun 2019 bisa mencapai USD21,7 juta.

Target itu naik dari total pendapatan tahun 2018 sebesar USD20,27 juta. Wakil Direktur Utama IATA Wish nu Handoyono mengatakan, pihaknya optimistis di tengah kondisi sektor pertambangan yang masih lesu, perseroan sebagai penyedia layanan udara bagi industri minyak dan gas tetap menargetkan pertumbuhan pendapatan. Pihaknya terus berusaha meningkatkan pendapatan perseroan. “Target kami USD21,7 juta untuk 2019. Tahun ini kita akan tumbuh kurang lebih 7,5-10% dari pendapatan perusahaan,” ujar Wishnu di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, kinerja perseroan sangat terpengaruh dengan kondisi industri minyak dan gas. Seperti diketahui, sejak 2018 harga minyak in ternasional mengalami penurunan yang signifikan. Harga minyak dan batu bara mengalami penurunan yang signifikan dan berlangsung lama.

Pada 2018 harga minyak dunia sudah relatif membaik di level USD43-USD76 per barel namun belum stabil. Hal ini menurutnya, menyebabkan dalam beberapa tahun ke belakang terdapat sedikit perubahan market share. Industri minyak dan gas bumi serta pertambangan tidak terlalu banyak sehingga bisnis penerbangan carter pada industri itu juga berkurang.

“Maka kita lakukan improvisasi, bukan hanya dengan minyak dan gas serta pertambangan, tapi juga melakukan kerja sama dengan perkebunan-perkebunan,” ungkapnya.

Kendati demikian, dia optimistis peluang bisnis operator penerbangan berbayar di Indonesia masih prospektif ke depan. Sebab adanya kebutuhan untuk memberikan dukungan di berbagai daerah, termasuk pariwisata dan menunjang kegiatan perekonomian lainnya.

Di sisi lain, perusahaan juga bergerak pada layanan private jet yang kini menyumbang 30-40% dari pendapatan perseroan. Ke depan, lini bisnis ini juga akan terus dikembangkan mengingat prospek bisnisnya yang baik di Indonesia.

“Bertambahnya pertumbuhan pengguna private jet juga menjadi peluang bagi perseroan mengembangkan diri dalam bisnis yang menjanjikan ini,” kata dia.

Dia menyatakan, pertumbuhan pendapatan ke depannya akan disumbang dari layanan penyewaan pesawat, yakni private jet dengan kontribusi ke pendapatan sebesar 30-40% dan sebesar 50% dari bisnis carter untuk komoditas.

Selain itu, pendapatan juga akan ditopang dari pendapatan anak usahanya, yaitu PT MNC Infrastruktur Utama yang bergerak di bidang pembangunan, pengembangan, dan pengelolaan infrastruktur, khususnya sektor pertambangan. “Tahun ini kami optimistis MNC Infratama bisa menyumbang 35-40% dari pendapatan perseroan,” katanya.

Sekadar diketahui, pada 2018 segmen jasa penyewaan pesawat menjadi kontributor terbesar bagi perseroan. Segmen ini mencatat pendapatan sebesar USD15,26 juta atau 75,27% dari total konsolidasi. Sementara dari segmen lainnya, pengoperasian jasa pelabuhan tercatat sebesar USD5,01 juta atau 24,73% dari total pendapatan konsolidasi.

Direktur Utama IATA Henry Suparman mengungkapkan, perseroan juga berencana mengambil alih PT Global Main tenance Facility (GMF), perusahaan yang bergerak di bidang jasa reparasi pesawat.

Pro ses akuisisi itu akan dilakukan dalam waktu dekat. Rencana untuk mengakuisisi GMF diharapkan bisa dilaksanakan tahun ini. Dia yakin proses akui sisi tidak terlalu rumit. “Karena itu bukan transaksi yang material dan nilainya juga tidak terlalu besar, langsung kita akan laksanakan setelah RUPS ini selesai,” ujarnya.

Dia mengatakan, proses pengambilalihan GMF oleh IATA akan menggunakan skema debt to equity swap karena GMF memiliki utang Rp3,8 miliar pada IATA. Aksi korporasi itu dipastikan membuat IATA menjadi pemegang saham mayoritas GMF. “Kita alihkan utang jadi equity. Jadi ada saham baru. Kita ambil alih saham perusahaan itu senilai 87%,” ujar dia.

Dia optimistis akuisisi ini merupakan langkah tepat sebagai ekspansi bisnis IATA yang selama ini memiliki bisnis inti berupa pelayanan jasa angkutan udara bagi industri. Dia yakin GMF akan memberikan kontribusi positif bagi kinerja keuangan IATA. (Hafid Fuad)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Anak Usaha IATA Peroleh...
Anak Usaha IATA Peroleh Sertifikat Operator Pesawat Udara
IATA Pastikan Operasional...
IATA Pastikan Operasional Tetap Berjalan di Masa Pandemi Covid-19
IATA Akan Peroleh Suntikan...
IATA Akan Peroleh Suntikan Aset Senilai USD181,9 Juta
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Memerah, MNC Energy (IATA) Pimpin Top Gainers
IATA Masuk Bisnis Energi,...
IATA Masuk Bisnis Energi, Rencanakan Akuisisi Perusahaan Tambang Batu Bara
Melesat 34 Persen, IATA...
Melesat 34 Persen, IATA Pimpin Top Gainers Hari Ini
Berita Terkini
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
16 menit yang lalu
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
18 menit yang lalu
Purbaya Kembali Tepis...
Purbaya Kembali Tepis Rumor Reshuffle dan Resign: Saya Sukanya Maju, Bukan Mundur
21 menit yang lalu
Bukan Sekadar Bisnis,...
Bukan Sekadar Bisnis, Sektor Keuangan Mikro Integrasikan Kelestarian Alam ke Dalam Ekosistem UMKM
22 menit yang lalu
IHSG Makin Parah, Hari...
IHSG Makin Parah, Hari Ini Ditutup Ambles 4,20 Persen ke 5.594
1 jam yang lalu
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
2 jam yang lalu
Infografis
5 CEO Terkaya di Jagat...
5 CEO Terkaya di Jagat Raya, Hartanya Tembus Rp8,2 Kuadriliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved