BEI Pecahkan Rekor IPO Terbanyak di Kawasan ASEAN

Rabu, 26 Juni 2019 - 13:09 WIB
BEI Pecahkan Rekor IPO Terbanyak di Kawasan ASEAN
BEI Pecahkan Rekor IPO Terbanyak di Kawasan ASEAN
A A A
JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meraih beberapa pencapaian pada tahun 2018, dimana salah satunya menjadi bursa terbanyak yang mencatatkan IPO di kawasan ASEAN. Hal ini disampaikan saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dengan agenda Persetujuan atas Laporan Tahunan dan Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris serta pengesahan Laporan Keuangan untuk Tahun Buku 2018.

Ditambah Penunjukan dan Pengangkatan Akuntan Publik Perseroan untuk Tahun Buku 2019, dan Penambahan Penyertaan Modal pada PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). "Sepanjang tahun 2018, BEI berhasil menjadi bursa yang mencapai jumlah frekuensi transaksi harian saham tertinggi di kawasan ASEAN dengan rata-rata 387 ribu transaksi per harinya, mengungguli Thailand," ungkap Direktur Utama BEI Inarno Djajadi di Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Inarno juga menambahkan bahwa hingga April 2019, BEI tetap unggul dengan rata-rata frekuensi harian saham mencapai 436 ribu per hari. "BEI juga berhasil mencapai rekor pencapaian tertinggi sejak privatisasi bursa efek dalam 26 tahun terakhir, dimana BEI berhasil memfasilitasi 57 perusahaan tercatat baru pada tahun 2018, serta menjadi bursa terbanyak yang mencatatkan IPO di kawasan ASEAN," tandasnya.

Hal ini juga didukung dengan data dari tahun 2014 hingga April 2019 yang mencatatkan bahwa jumlah perusahaan tercatat di Indonesia mengalami peningkatan tertinggi sebanyak 24,3%, dibandingkan dengan Thailand (15,5%), Filipina (1,5%), Malaysia (1,0%), dan Singapura yang menurun sebesar 4,5%.

Dari segi pengembangan investor, pada 2018 jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 1,6 juta, atau mengalami pertumbuhan sebesar 44% dari tahun 2017 yang sebanyak 1,1 juta.

"Sementara pada periode yang sama, investor saham telah mencapai 854 ribu atau naik 36% dibandingkan tahun 2017. Saat ini, per Mei 2019, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 1,9 juta dengan 952 ribu investor saham," ungkap Inarno lebih jauh.

Pencapaian lainnya tidak lepas dari dukungan segenap stakeholders pasar modal Indonesia diantaranya implementasi pencepatan siklus penyelesaian transaksi dari T+3 menjadi T+2 yang telah berhasil diimplementasikan pada 26 November 2018.

"Kesuksesan implementasi ini tercermin dari peningkatan rata-rata transaksi saham, yakni peningkatan pada nilai transaksi sebesar 18%, frekuensi sebesar 14%, dan volume sebesar 29%," jelasnya.

Selain itu, pada tanggal 28 Desember 2018, Notasi Khusus pada Kode Saham Perusahaan Tercatat mulai diimplementasikan. "Inisiatif ini merupakan bentuk awareness dan sebagai langkah awal untuk proteksi investor terkait dengan kinerja dari perusahaan tercatat yang mencerminkan kinerja, going concern, dan compliance-nya," tutur Inarno.
(akr)
Komentar
Copyright ©2023 SINDOnews.com
All Rights Reserved