IHSG Sesi Pagi Menanjak 26,060 Poin Mengiringi Lompatan Bursa China
Kamis, 27 Juni 2019 - 09:40 WIB
IHSG Sesi Pagi Menanjak 26,060 Poin Mengiringi Lompatan Bursa China
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan, Kamis (27/6/2019) dibuka menguat untuk kembali melaju pada zona hijau, usai kemarin pada sesi penutupan berbalik melemah. Tren penguatan IHSG terlihat pagi ini dengan tambahan 26,060 poin atau 0,413% menjadi 6.336,55.
Sementara pada perdagangan, Rabu kemarin tercatat IHSG ditutup tergelincir untuk berbalik melemah. Hingga sesi sore, IHSG berakhir turun tipis 9,96 poin atau 0,16% ke level 6.310,49.
Peningkatan bursa saham Tanah Air pagi ini didorong antara lain oleh kenaikan harga saham emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp300 triliun. Saham emiten tersebut adalah Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Astra International Tbk (ASII), H.M. Sampoerna Tbk (HMSP), dan Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
Hingga pukul 09.17 WIB, harga saham BBCA naik 0,43% jadi Rp29.450 per unit. Adapun harga saham UNVR naik 0,22% ke Rp44.925, TLKM naik 1,76% jadi Rp4.050, BMRI naik 0,94% ke Rp8.025, BBRI naik 0,46% jadi Rp4.380, ASII naik 2,07% ke Rp7.400, dan HMSP naik 0,94% jadi Rp3.220 per saham
Di sisi lain bursa saham Asia menanjak naik ketika harapan mencuat terhadap negosiasi perdagangan Amerika Serikat dan China yang diyakini bakal kesepakatan. Optimisme tersebut cukup menghibur para investor, serta mengirimkan indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,6%.
Sedangkan China memimpin kenaikan dengan indeks blue-chip naik 1,4%. Selanjutnya Indeks Kospi di Korea Selatan menguat 0,6% untuk mengiringi indeks Hang Seng, Hong Kong dan Nikkei Jepang yang melonjak 0,8%.
Hubungan antara Washington dan Beijing telah menurun sejak pembicaraan kedua ekonomi terbesar dunia itu gagal pada Mei, saat itu Amerika Serikat menuduh China mengingkari janji untuk mereformasi ekonominya.
Perang perdagangan yang sedang berlangsung telah mengguncang investor hingga membuat mereka menjual saham untuk keamanan obligasi dan emas tahun ini. Hal itu juga telah mendorong Federal Reserve AS untuk menghentikan pengetatan suku bunga dan, pada kenyataannya memberi sinyal penurunan secepatnya bulan depan.
Banyak para pelaku pasar memperkirakan bursa akan tetap ketat sampai setelah pertemuan para pemimpin G20 di Osaka, Jepang di mana Trump juga mengadakan pembicaraan bilateral dengan negara-negara lain.
Sementara pada perdagangan, Rabu kemarin tercatat IHSG ditutup tergelincir untuk berbalik melemah. Hingga sesi sore, IHSG berakhir turun tipis 9,96 poin atau 0,16% ke level 6.310,49.
Peningkatan bursa saham Tanah Air pagi ini didorong antara lain oleh kenaikan harga saham emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp300 triliun. Saham emiten tersebut adalah Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Astra International Tbk (ASII), H.M. Sampoerna Tbk (HMSP), dan Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
Hingga pukul 09.17 WIB, harga saham BBCA naik 0,43% jadi Rp29.450 per unit. Adapun harga saham UNVR naik 0,22% ke Rp44.925, TLKM naik 1,76% jadi Rp4.050, BMRI naik 0,94% ke Rp8.025, BBRI naik 0,46% jadi Rp4.380, ASII naik 2,07% ke Rp7.400, dan HMSP naik 0,94% jadi Rp3.220 per saham
Di sisi lain bursa saham Asia menanjak naik ketika harapan mencuat terhadap negosiasi perdagangan Amerika Serikat dan China yang diyakini bakal kesepakatan. Optimisme tersebut cukup menghibur para investor, serta mengirimkan indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,6%.
Sedangkan China memimpin kenaikan dengan indeks blue-chip naik 1,4%. Selanjutnya Indeks Kospi di Korea Selatan menguat 0,6% untuk mengiringi indeks Hang Seng, Hong Kong dan Nikkei Jepang yang melonjak 0,8%.
Hubungan antara Washington dan Beijing telah menurun sejak pembicaraan kedua ekonomi terbesar dunia itu gagal pada Mei, saat itu Amerika Serikat menuduh China mengingkari janji untuk mereformasi ekonominya.
Perang perdagangan yang sedang berlangsung telah mengguncang investor hingga membuat mereka menjual saham untuk keamanan obligasi dan emas tahun ini. Hal itu juga telah mendorong Federal Reserve AS untuk menghentikan pengetatan suku bunga dan, pada kenyataannya memberi sinyal penurunan secepatnya bulan depan.
Banyak para pelaku pasar memperkirakan bursa akan tetap ketat sampai setelah pertemuan para pemimpin G20 di Osaka, Jepang di mana Trump juga mengadakan pembicaraan bilateral dengan negara-negara lain.
(akr)
Lihat Juga :