Pemerintah Masih Godok Aturan E-commerce

Rabu, 17 Juli 2019 - 19:09 WIB
Pemerintah Masih Godok...
Pemerintah Masih Godok Aturan E-commerce
A A A
JAKARTA - Pemerintah masih menggodok aturan transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce). Aturan tersebut ditujukan untuk menumbuhkan level playing field antara usaha konvensional dengan digital.

Direktur Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Heru Pambudi mengatakan, salah satu masalah yang dibahas adalah terkait penguatan sistem pada wilayah lintas batas atau cross border.

"Intinya kita ingin level playing field dari semua pihak dari pemain domestik, e-commerce, dan tradisional," ujarnya di Jakarta, Rabu (17/72019).

Heru melanjutkan, pemerintah telah menerima masukan dari beberapa pihak terkait, salah satunya masukan mengenai volume transaksi e-commerce. Di satu sisi, pemerintah harus memperhatikan produksi nasional. Namun di sisi lain, ada konsumen yang memerlukan produk yang berasal dari luar negeri.

"Tidak bisa dihindari bahwa beberapa diantara konsumen memerlukan produk luar negeri, namun pemerintah juga memperhatikan produk nasional. Bagaimana ini bisa seimbang antara kepentingan-kepentingan tadi," tuturnya.

Heru menambahkan, secara teknis bea cukai sudah memiliki sistem anti-splitting untuk mencegah praktik splitting dan undervaluation yang marak dilakukan dalam pengiriman barang e-commerce. Dalam aturan tersebut, barang yang masuk ke Indonesia di atas USD75 akan dikenakan pajak dalam rangka impor (PDRI).

"Ini untuk melindungi dalam negeri. Kalau dari sisi komunikasi atau koneksi antara sistem bea cukai dan platform berguna agar nanti tidak ada transaksi yang dilaporkan di bawah harga," jelasnya.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayanti mengatakan, selama ini besaran transaksi barang impor melalui e-commerce hanya 5% dari total keseluruhan transaksi e-commerce.

Meski begitu, transaksi barang impor harus dikontrol karena dikhawatirkan akan meningkat. "Ini kecenderungannya selalu meningkat dan tidak bisa dikontrol. Itu sebabnya kita harus buat rambu-rambunya," tuturnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Petugas Bea Cukai Inspeksi...
Petugas Bea Cukai Inspeksi Tempat Penyimpanan Kargo Formula E di JIS
Pemerintah Resmi Menaikkan...
Pemerintah Resmi Menaikkan Cukai Rokok 10 Persen untuk Tahun Depan
Ramaikan Pasar e-commerce,...
Ramaikan Pasar e-commerce, Market America Worldwide | SHOP.COM Resmi Masuk Indonesia
E-CD Bikin Pengisian...
E-CD Bikin Pengisian Dokumen Impor Barang oleh Penumpang Kian Mudah
DJBC Sulawesi Bagian...
DJBC Sulawesi Bagian Selatan Ikut Meriahkan Hari Bea Cukai ke-75
Waspada, Social Commerce...
Waspada, Social Commerce Bakal Digerus AI Commerce
Berita Terkini
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
8 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
8 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
8 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
8 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
9 jam yang lalu
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
9 jam yang lalu
Infografis
8 Negara dengan Aturan...
8 Negara dengan Aturan Berpakaian Paling Ketat, Ada yang Melarang Sandal Jepit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved