Pengusaha Sebut Target Pertumbuhan Ekonomi 2020 Masih Berat

Sabtu, 17 Agustus 2019 - 02:14 WIB
Pengusaha Sebut Target...
Pengusaha Sebut Target Pertumbuhan Ekonomi 2020 Masih Berat
A A A
JAKARTA - Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menilai asumsi pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,3% di tahun 2020 masih berat untuk dicapai. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 diperkirakan tidak akan sampai 5,2%.

"Realistisnya mungkin hanya sekitar 5%. Itu juga melihat keadaan perekonomian global yang penuh ketidakpastian," ujarnya di Jakarta, Jumat (16/8).

Sambung Shinta mengungkapkan, untuk meningkatkan ekonomi sampai pada level pertumbuhan 5,3% di akhir 2020 akan sangat tergantung pada apa yang akan dilakukan pemerintah hingga akhir tahun 2019 untuk memicu produktivitas nasional. Khususnya ekspor dan inbound investasi dengan lebih baik.

"Kalau hingga akhir tahun driver pertumbuhan hanya terus bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan pemerintah, rasanya target 5,3% masih terlalu ambisius," imbuhnya.

Menurut dia, meski pemerintah merencanakan ada perubahan kebijakan yang signifikan di tahun depan, para pelaku usaha, eksportir dan investor perlu waktu untuk bertindak berdasarkan kebijakan yg akan dikeluarkan. Misalnya, kebijakan penurunan PPh badan tidak serta merta akan ditindaklanjuti dengan investasi pada keesokan harinya.

"Pelaku usaha perlu berhitung dulu kelebihan dananya berapa dan sebaiknya dipergunakan untuk apa di antara opsi-opsi investasi yang ada dan memikirkan juga bagaimana manage-nya sebelum direalisasikan dalam bentuk transaksi investasi riil. Jadi waktu 1 tahun itu sebetulnya terlalu singkat untuk mengejar pertumbuhan kalau driver pertumbuhannya tidak “dipanaskan” dari sekarang," jelas Shinta.

Sementara nilai tukar dinilai masih realistis. Namun ini sangat tergantung pada kinerja kontrol pemerintah terhadap defisit current account. "Kita perlu lihat apakah pasca 1 September ekspor kita bisa cukup terdongkrak dengan peningkatan ekspor ke US atau tidak," tuturnya.

Apabila masih sluggish dan defisit dengan China masih lebar atau semakin lebar, maka akan menjadi masalah karena ini akan langsung mempengaruhi nilai tukar rupiah secara negatif di 2020.

"Pangsa pasar yang meningkat hanya di AS untuk bisa kita ekspansi ekspor. Kalau kita tidak bisa meningkatkan performa ekspor ke AS dengan baik bahkan pasca total war on tariff antara US-China, kemungkinan kita untuk bisa menembus pasar internasional lain akan sangat kecil karena ini berarti kita sudah sangat tidak kompetitif di pasar global," jelas Shinta.

Shinta menambahkan, untuk asumsi makro ekonomi seperti suku bunga, harga minyak, dan inflasi dinilai masih rasional dan realitis. "Saya rasa masih rasional dan realistis terhadap trend kondisi global dan domesik hingga tahun 2020," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Apindo Prediksi Pertumbuhan...
Apindo Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5% di 2022
Ramalan Jokowi: Ekonomi...
Ramalan Jokowi: Ekonomi RI Tahun 2022 Tumbuh 5,5%
Apindo: Pertumbuhan...
Apindo: Pertumbuhan Sektor Properti RI Terendah di Asia Tenggara
Perry Warjiyo Lebih...
Perry Warjiyo Lebih Pede dari Pemerintah Soal Pertumbuhan Ekonomi RI di 2021
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Terkulai, Investasi Asing Bakal Lunglai
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Berita Terkini
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
35 menit yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
1 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
1 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
2 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
3 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
4 jam yang lalu
Infografis
Konstribusi BRICS terhadap...
Konstribusi BRICS terhadap Pertumbuhan Ekonomi Global Kalahkan G7
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved