Pemerintah Diminta Utamakan Kepentingan Nasional dalam Kebijakan Hilirisasi

Kamis, 29 Agustus 2019 - 16:53 WIB
Pemerintah Diminta Utamakan...
Pemerintah Diminta Utamakan Kepentingan Nasional dalam Kebijakan Hilirisasi
A A A
JAKARTA - Center For Indonesian Resources Strategic Studies (CIRUSS) mendorong pemerintah untuk menentukan prioritas yang bersifat jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek dalam kebijakan hilirisasi. Dengan begitu, diharapkan tujuan jangka pendek tidak malah mengorbankan tujuan jangka panjangnya.

Pemerintah diminta memberikan perhatian dan keperpihakan kepada kemampuan nasional daripada kemampuan asing. Dalam konteks ini, CIRUSS menyayangkan rencana pemerintah untuk mempercepat larangan ekspor bijih nikel. CIRUSS menilai, pemerintah seolah-olah tidak memperhatikan kepentingan jangka panjang dan terkesan mengikuti tekanan kelompok tertentu.

"Pemerintah seharusnya melakukan evaluasi permasalahan yang dihadapi pengusaha nasional untuk mewujudkan hilirisasi. Kebijakan ini gagal memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan yakni tahun 2014 dan 2017. Sedang 2022 juga berpotensi gagal," ungkap Direktur CIRUS Budi Santoso dalam keterangan tertulis, Kamis (29/8/2019).

Selama ini, kata dia, ada beberapa kesulitan pengusaha tambang nasional dalam membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter), mulai dari perizinan, teknikal (sumber daya dan cadangan), infrastruktur, keuangan dan pasar yang secara praktik bisnis tidak memungkinkan bisa dicapai hanya dalam kurun waktu lima tahun.

Menurut dia, pemerintah seharusnya dapat mengurangi atau meringankan beban tersebut atau memberi kelonggaran waktu lebih fleksibel untuk memenuhi rencana sesuai dengan praktik umum kegiatan usaha.

"Fakta yang dialami pengusaha nasional yang akhirnya menjadi mitra minoritas seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah untuk membuat kebijakan yang lebih mendorong kapasitas dan kemampuan nasional meningkat. Bukan sebaliknya, hanya karena tujuan pembuatan smelter," tandasnya.

Budi mengatakan, dalam praktiknya, bijih nikel yang dipasok ke pabrik dibeli dengan harga di bawah harga harga pasar internasional. Sehingga, secara tidak langsung pemilik smelter menikmati keuntungan berlipat, yaitu margin harga dengan pasar internasional dan biaya pengapalan.

Terkait dengan itu, CIRUSS memberi beberapa masukan kepada pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan yang dinilai inkonsisten tersebut. Pertama, melakukan evaluasi atas kegagalan perusahaan nasional membangun smelter dan menghilangkan faktor-faktor penghambat seperti perizinan, faktor teknis, infrastruktur, teknologi, keuangan dan pasar.

Kedua, meninjau kembali konsep hilirasi yang mengikat dengan IUP untuk lebih mendorong ke produk hilirnya atau ke industri. Ketiga, mempercepat ditetapkannya Kebijakan Mineral dan Batubara Nasional sebelum melakukan perubahan UU ataupun peraturan.

"Keempat, menjamin smelter yang sudah beroperasi membeli bijih nikel tidak melalui mediator sehingga harga jual dari pemilik tambang kepada smelter mendekati harga pasar internasional," ujarnya.

Pemerintah juga diminta mempertimbangkan masalah kegiatan ekonomi regional yang masih mengandalkan kegiatan tambang, sehingga tidak terjadi keresahan sosial apabila terjadi pemberhentian produksi karena tidak dapat menjual hasil tambangnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ini Pentingnya Hilirisasi,...
Ini Pentingnya Hilirisasi, Smelter Nikel Sumbang Ekspor USD7 M
Jalankan Mandat Hilirisasi,...
Jalankan Mandat Hilirisasi, MIND ID Perbanyak Smelter
CNI Group Dukung Kebijakan...
CNI Group Dukung Kebijakan Hilirisasi Nikel Presiden Jokowi
Kebut Hilirisasi, 48...
Kebut Hilirisasi, 48 Proyek Smelter Ditargetkan Selesai 2024
Ini 5 Negara Siap Bangun...
Ini 5 Negara Siap Bangun Smelter Nikel di Indonesia
32 Smelter Dibangun...
32 Smelter Dibangun Tahun Ini, Terbanyak Hilirisasi Tambang Nikel
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
5 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
6 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
6 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
7 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
7 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
7 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved