Meski Neraca Dagang Surplus, Ekonom Minta Perhatikan Perlambatan Global
Selasa, 17 September 2019 - 00:18 WIB
Meski Neraca Dagang Surplus, Ekonom Minta Perhatikan Perlambatan Global
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan meski neraca perdagangan bulan Agustus mengalami surplus USD85,1 juta, berkat penurunan impor, namun tetap harus memperhatikan potensi perlambatan ekonomi global. Karena hal ini bisa berdampak terhadap kinerja ekspor yang masih tidak menggembirakan.
"Kinerja ekonomi masih tertekan karena perlambatan ekonomi global, imbas meningkatnya tensi dagang Amerika Serikat dan China. Di sisi impor, cenderung mengalami perlambatan seiring stagnansi aktivitas investasi serta moderasi permintaan domestik," ujar Josua saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Senin (16/9/2019).
Karena itu, sambung Josua, meski defisit neraca perdagangan 2019 diperkirakan lebih baik dari defisit perdagangan 2018, pemerintah harus tetap memperhatikan perlambatan ekonomi global yang bisa mengganggu kinerja ekspor Indonesia.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2019 mengalami surplus tipis yaitu hanya USD85,1 juta atau membaik, meski tidak terlalu besar dibandingkan Juli 2019 yang mengalami defisit USD0,06 miliar. Surplus ini terjadi lantaran realisasi nilai impor yang turun tajam mencapai 8,53%.
Sedangkan, ekspor nonmigas belum membaik dipengaruhi kondisi perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas yang terus menurun, di tengah ekspor nonmigas ke negara ASEAN terutama ekspor produk manufaktur yang meningkat.
Defisit neraca perdagangan migas pada Agustus 2019 meningkat menjadi sebesar USD0,76 miliar lebih tinggi dari defisit pada bulan sebelumnya sebesar USD0,14 miliar.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak penurunan ekspor migas sejalan dengan harga minyak yang menurun. Sementara itu, impor migas menurun terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya harga impor baik barang mentah maupun hasil olahan.
"Kinerja ekonomi masih tertekan karena perlambatan ekonomi global, imbas meningkatnya tensi dagang Amerika Serikat dan China. Di sisi impor, cenderung mengalami perlambatan seiring stagnansi aktivitas investasi serta moderasi permintaan domestik," ujar Josua saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Senin (16/9/2019).
Karena itu, sambung Josua, meski defisit neraca perdagangan 2019 diperkirakan lebih baik dari defisit perdagangan 2018, pemerintah harus tetap memperhatikan perlambatan ekonomi global yang bisa mengganggu kinerja ekspor Indonesia.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2019 mengalami surplus tipis yaitu hanya USD85,1 juta atau membaik, meski tidak terlalu besar dibandingkan Juli 2019 yang mengalami defisit USD0,06 miliar. Surplus ini terjadi lantaran realisasi nilai impor yang turun tajam mencapai 8,53%.
Sedangkan, ekspor nonmigas belum membaik dipengaruhi kondisi perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas yang terus menurun, di tengah ekspor nonmigas ke negara ASEAN terutama ekspor produk manufaktur yang meningkat.
Defisit neraca perdagangan migas pada Agustus 2019 meningkat menjadi sebesar USD0,76 miliar lebih tinggi dari defisit pada bulan sebelumnya sebesar USD0,14 miliar.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak penurunan ekspor migas sejalan dengan harga minyak yang menurun. Sementara itu, impor migas menurun terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya harga impor baik barang mentah maupun hasil olahan.
(ven)
Lihat Juga :