Adaptasi Perubahan Bisnis, BUMN Didorong Perkuat Budaya Ramah
Kamis, 03 Oktober 2019 - 15:48 WIB
Adaptasi Perubahan Bisnis, BUMN Didorong Perkuat Budaya Ramah
A
A
A
JAKARTA - Perubahan dan persaingan bisnis di era digital menuntut perusahaan untuk memperkuat budaya ramah (hospitable culture) dalam menjalankan bisnisnya. Termasuk dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang banyak bergerak di sektor pelayanan publik.
Staf Khusus II Menteri BUMN, Bambang Eka Cahya, mengatakan budaya ramah yang dimaksud yaitu kemampuan memberikan pelayanan dan ikatan yang optimal kepada setiap pemangku kepentingan sebagai orientasi hospitaliti yang strategis.
Menurut Bambang Eka, disamping mengejar keuntungan, penting bagi BUMN untuk bisa menetapkan tujuan lain yang mencakup kepentingan aspek ekonomi, sosial, politik negara dan lingkungan, yang melibatkan juga partisipatif masyarakat sebagai wujud pelayanan maksimal perusahaan kepada masyarakat.
"Hospitable culture penting bagi BUMN karena merupakan suatu kapabilitas yang harus dimiliki BUMN ditengah perubahan landscape bisnis yang terjadi. Tanpa hospitable culture, BUMN akan mengalami kesulitan jangka panjang dalam menjalankan bisnis dan sulit dalam mempertahankan reputasi korporasi," kata Bambang Eka, dalam ujian akhir disertasi promosi doktor di Program Doktor Ilmu Administrasi dengan konsentrasi Ilmu Administrasi Bisnis di Universitas Brawijaya Malang, Kamis (3/10/2019).
Dalam disertasinya, ia pun mengungkapkan saat ini banyak BUMN yang hospitalitinya masih bisa lebih ditingkatkan. Merujuk pada sampel disertasinya pada BUMN bidang kepelabuhan, Bambang Eka menyatakan diperlukannya transformasi organisasi bagi sebuah perusahaan untuk mencapai hospitable culture yang optimal. Dimana dalam transformasi terdapat dua faktor penting bagi BUMN.
Pertama. pada aspek kepemimpinan strategik yang harus mengadopsi prinsip ambidextrous leadership yang mampu menyeimbangkan orientasi jangka pendek dengan orientasi jangka panjang. Kedua, tata kelola organisasi yang membuka ruang bagi partisipasi publik dalam penetapan kebijakan strategis.
"BUMN harus mampu benar-benar menunjukkan bahwa perannya sudah mencerminkan prinsip transparansi dan akuntabel. Serta membuka partisipasi publik dalam tata kelola perusahaan, harus di buka ruang kepada publik. Sehingga dapat dengan cepat mendorong transformasi organisasi di aspek kepemimpinan strategik, tata kelola korporasi, perbaikan budaya korporasi, infrastuktur bisnis dan keselarasan korporasi," ujarnya dalam keterangan yang diterima SINDOnews di Jakarta.
Disertasi Bambang Eka berjudul "Transformasi Organisasi Sebagai Determinan Corporate Hospitality dan Pengaruhnya terhadap Corporate Sustainability Melalui Reputasi Korporasi". Variabel yang diuji secara empiris yakni kepemimpinan strategik, budaya organisasi, tata kelola korporasi, infrastruktur bisnis, keselarasan korporasi sebagai determinan corporate hospitality.
Penelitian yang dilakukan menghasilkan model corporate sustainability yang bersifat lebih terintegrasi dan simultan, dimana konsep transformasi organisasi diletakkan sebagai determinan corporate hospitality. Selain itu, kepemimpinan strategik juga menjadi pendorong terkuat pembentukan corporate hospitality.
"Semoga disertasi ini dapat menjadi sumber informasi untuk merancang strategi dan kebijakan perusahaan dalam mendorong pertumbuhan bisnis dan terwujudnya corporate sustainability di BUMN. Sekaligus menjadi solusi konkret dalam memastikan praktik bisnis perusahaan tidak memicu dampak negatif lingkungan, sosial dan ekonomi," tutup Bambang Eka.
Staf Khusus II Menteri BUMN, Bambang Eka Cahya, mengatakan budaya ramah yang dimaksud yaitu kemampuan memberikan pelayanan dan ikatan yang optimal kepada setiap pemangku kepentingan sebagai orientasi hospitaliti yang strategis.
Menurut Bambang Eka, disamping mengejar keuntungan, penting bagi BUMN untuk bisa menetapkan tujuan lain yang mencakup kepentingan aspek ekonomi, sosial, politik negara dan lingkungan, yang melibatkan juga partisipatif masyarakat sebagai wujud pelayanan maksimal perusahaan kepada masyarakat.
"Hospitable culture penting bagi BUMN karena merupakan suatu kapabilitas yang harus dimiliki BUMN ditengah perubahan landscape bisnis yang terjadi. Tanpa hospitable culture, BUMN akan mengalami kesulitan jangka panjang dalam menjalankan bisnis dan sulit dalam mempertahankan reputasi korporasi," kata Bambang Eka, dalam ujian akhir disertasi promosi doktor di Program Doktor Ilmu Administrasi dengan konsentrasi Ilmu Administrasi Bisnis di Universitas Brawijaya Malang, Kamis (3/10/2019).
Dalam disertasinya, ia pun mengungkapkan saat ini banyak BUMN yang hospitalitinya masih bisa lebih ditingkatkan. Merujuk pada sampel disertasinya pada BUMN bidang kepelabuhan, Bambang Eka menyatakan diperlukannya transformasi organisasi bagi sebuah perusahaan untuk mencapai hospitable culture yang optimal. Dimana dalam transformasi terdapat dua faktor penting bagi BUMN.
Pertama. pada aspek kepemimpinan strategik yang harus mengadopsi prinsip ambidextrous leadership yang mampu menyeimbangkan orientasi jangka pendek dengan orientasi jangka panjang. Kedua, tata kelola organisasi yang membuka ruang bagi partisipasi publik dalam penetapan kebijakan strategis.
"BUMN harus mampu benar-benar menunjukkan bahwa perannya sudah mencerminkan prinsip transparansi dan akuntabel. Serta membuka partisipasi publik dalam tata kelola perusahaan, harus di buka ruang kepada publik. Sehingga dapat dengan cepat mendorong transformasi organisasi di aspek kepemimpinan strategik, tata kelola korporasi, perbaikan budaya korporasi, infrastuktur bisnis dan keselarasan korporasi," ujarnya dalam keterangan yang diterima SINDOnews di Jakarta.
Disertasi Bambang Eka berjudul "Transformasi Organisasi Sebagai Determinan Corporate Hospitality dan Pengaruhnya terhadap Corporate Sustainability Melalui Reputasi Korporasi". Variabel yang diuji secara empiris yakni kepemimpinan strategik, budaya organisasi, tata kelola korporasi, infrastruktur bisnis, keselarasan korporasi sebagai determinan corporate hospitality.
Penelitian yang dilakukan menghasilkan model corporate sustainability yang bersifat lebih terintegrasi dan simultan, dimana konsep transformasi organisasi diletakkan sebagai determinan corporate hospitality. Selain itu, kepemimpinan strategik juga menjadi pendorong terkuat pembentukan corporate hospitality.
"Semoga disertasi ini dapat menjadi sumber informasi untuk merancang strategi dan kebijakan perusahaan dalam mendorong pertumbuhan bisnis dan terwujudnya corporate sustainability di BUMN. Sekaligus menjadi solusi konkret dalam memastikan praktik bisnis perusahaan tidak memicu dampak negatif lingkungan, sosial dan ekonomi," tutup Bambang Eka.
(ven)
Lihat Juga :