Wacana Pemisahan Ditjen Pajak dari Kemenkeu, Sri Mulyani: Tak Ada Perubahan

Rabu, 23 Oktober 2019 - 16:10 WIB
Wacana Pemisahan Ditjen...
Wacana Pemisahan Ditjen Pajak dari Kemenkeu, Sri Mulyani: Tak Ada Perubahan
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menegaskan, tidak ada perubahan kelembagaan dalam tubuh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) setelah dirinya kembali terpilih sebagai Menkeu dalam Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin. Hal ini menanggapi wacana pemisahan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Bahkan pada era pemerintahan Jokowi Jilid II ini, wacana pemisahan tersebut dan pembentukan Badan Penerimaan Negara (BPN) kembali mencuat. "Tidak ada perubahan kelembagaan (di Kemenkeu), kita tetap berjalan seperti yang sekarang," tegas Menkeu Sri Mulyani di Aula Mezzanine, Kemenkeu, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Wacana pemisahan Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) alias DJP dari Kemenkeu dinilai ekonom tidak akan berdampak signifikan terhadap penerimaan pajak. Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam menerangkan, kalaupun ada tidak terlalu besar. "Bisa (meningkat), tapi tidak akan signifikan. karena hanya berubah organisasi, tapi uangnya tetap," ujar Pieter awal tahun lalu.

Sebelumnya, rencana pemisahan Ditjen Pajak menjadi institusi tersendiri yang tidak lagi di bawah Kemenkeu seiring proses revisi atas undang-undang perubahan terhadap Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). Dalam proses revisi itu, muncul wacana untuk melepaskan DJP dari Kemenkeu, sekaligus menjadikannya sebagai badan otonom langsung di bawah presiden.

Ekonom Bank Permata Pieter menambahkan, saat ini permasalahan utama yang dihadapi DJP yakni bagaimana menggenjot realisasi penerimaan pajak ialah masih rendahnya aliran uang dalam negeri. Menurutnya, hal tersebut terjadi akibat suku bunga pinjaman yang dinilai masih terlalu tinggi.

Hal ini terang dua kemudian membuat Indonesia menjadi negara dengan biaya yang mahal. "Dengan likuiditas yang lebih baik, suku bunga yang lebih rendah, apa yang terjadi? Transaksi akan naik, konsumsi akan naik," jelasnya.

Apabila konsumsi meningkat, maka disaat yang bersamaan angka permintaan produksi juga naik. Hal inilah yang kemudian akan meningkatkan angka investasi di Indonesia. "Saya yakini tidak akan ada lompatan yang besar di dalam konteks penerimaan pajak selama kondisi perekonomian kita masih kering likuiditas seperti saat ini," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kasus Suap Pajak, Ditjen...
Kasus Suap Pajak, Ditjen Imigrasi Cegah 2 ASN Ditjen Pajak
Viral Pegawai Pajak...
Viral Pegawai Pajak Lakukan KDRT, DJP: Sudah Ditangani Polisi
Penjelasan Ditjen Pajak...
Penjelasan Ditjen Pajak Soal Pengenaan Bea Meterai Rp10.000
Tingkatkan Transparansi,...
Tingkatkan Transparansi, PLN-Ditjen Pajak Integrasi Data Perpajakan
Didakwa Terima Suap...
Didakwa Terima Suap Rp57 Miliar, 2 Eks Pejabat Ditjen Pajak Divonis Hari Ini
Perkuat Sistem Perpajakan,...
Perkuat Sistem Perpajakan, Ditjen Pajak Gandeng LG CNS dan Deloitte Consulting
Berita Terkini
Misteri Brankas Rahasia:...
Misteri Brankas Rahasia: Mengapa Banyak Negara Pilih Simpan Cadangan Emasnya di Luar Negeri?
39 menit yang lalu
BRI Hadirkan KKB Expo...
BRI Hadirkan KKB Expo Serentak di 131 Titik, Tawarkan Berbagai Promo Spesial untuk Masyarakat
1 jam yang lalu
Rupiah Semringah Sambut...
Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Sumbagut dan Polda Sumut Sinergi Percepat Normalisasi Distribusi BBM
2 jam yang lalu
Yamaha Grand Filano...
Yamaha Grand Filano Hybrid Tawarkan Gaya Kalcer, Konsumsi BBM Diklaim Capai 60 Km per Liter
2 jam yang lalu
Produktivitas Kebun...
Produktivitas Kebun Sawit Sitaan Negara Menurun, Muncul Desakan Audit Total
2 jam yang lalu
Infografis
Eks Panglima Militer...
Eks Panglima Militer Ukraina: Hampir Tak Ada Peluang Bertahan Hidup
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved