Lima Perjanjian Dagang Jadi Prioritas hingga Akhir 2020
Minggu, 10 November 2019 - 19:11 WIB
Lima Perjanjian Dagang Jadi Prioritas hingga Akhir 2020
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) bakal terus mempercepat perjanjian dagang, dimana pada tahun depan setidaknya ada lima yang jadi prioritas. Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga membeberkan, ada lima perjanjian dagang yang bakal dikebut RI hingga tahun 2020.
“Ada lima yang merupakan top prioritas kami yang menjadi arahan Bapak Presiden karena negara-negara tersebut menjalin secara strategis hubungan dengan kita, dan tentu ini merupakan sebuah potensi bagi kita untuk segera merealisasikan dalam waktu dekat,” ujar Jerry, di Jakarta
Lebih lanjut Ia menerangkan perjanjian dagang dengan EU atau Uni Eropa sendiri merupakan salah satu prioritas utama Presiden Joko Widodo (Jokowi). "EU CEPA itu yang sangat-sangat menjadi prioritas kami, atas arahan Bapak Presiden kepada Pak Mendag dan saya bahwa ini harus segera diselesaikan sebelum akhir tahun 2020,” terang dia.
Dia berharap, blok dagang dengan Uni Eropa ini bakal rampung di pertengahan tahun 2020. “Uni Eropa ini akan coba kita segerakan mudah-mudahan pertengahan tahun depan bisa mencapai titik terang,” pungkasnya.
Adapun lima perjanjian dagang yang bakal dikejar sebagai berikut:
1. Indonesia- EU (European Union)-CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement)
Indonesia dengan European Free Trade Agreement atau IE-CEPA merupakan kerjasama yang melibatkan Indonesia dan anggota EFTA, seperti Swiss, Liechtenstein, Norwegia dan Islandia.
2. Indonesia-Moroko PTA (Preferential Trade Area)
Indonesia dan Maroko menyepakati peningkatan kerja sama perdagangan melalui aktivasi forum joint trade commission (JTC) dan segera memulai perundingan Perjanjian Perdagangan Preferensial atau preferential trade agreement (PTA). Perjanjian dagang ini menjajaki kerja sama di sektor kelapa sawit, kopi, tekstil, karet dan ban, agro industri, farmasi, dan minyak zaitun
3. Indonesia-Tunisia PTA
Indonesia dan Tunisia telah menyelenggarakan Konsultasi Bilateral ke-1 Indonesia – Tunisia di Tunis, Tunisia pada 26-27 September 2019. Indonesia perlu memanfaatkan potensi yang dimiliki Tunisia dalam upaya penetrasi pasar bagi produk ekspor Indonesia ke kawasan Afrika Utara, Sub Sahara dan Eropa, dengan menjadikannya sebagai pintu masuk. Karena selain letak geografisnya yang strategis, Tunisia juga memiliki banyak perjanjian perdagangan bebas dengan sejumlah negara di tiga kawasan dimaksu
4. Indonesia-Bangladesh PTA
Indonesia memiliki aset besar dalam menjalin hubungan bilateral yang erat dan bersahabat dengan Bangladesh. Kenyataan sebagai sesama negara berpenduduk muslim terbesar, serta sesama anggota PBB, KAA, GNB, OKI, D-8, G77, ARF serta berbagai forum kerjasama antar negara berkembang.
Delegasi Indonesia dan Bangladesh sepakat melaksanakan pertemuan ketiga TNC IB-PTA di Bangladesh pada Januari 2020. Agenda yang akan dibahas yaitu finalisasi teks perjanjian (termasuk teks draf ROO) IB-PTA, serta daftar permintaan dan penawaran kedua negara.
Berdasarkan hasil kajian awal dan masukan dari instansi pembina sektor, beberapa produk dan sektor potensial yang dapat ditingkatkan ekspornya ke Bangladesh antara lain minyak kelapa sawit, batu bara, gerbong kereta api, pelumas mesin, gelatin (bahan baku kapsul), pestisida, produk dari serat jute, vaksin, serta alat- alat kesehatan dan konstruksi.
5. Indonesia-Turki CEPA
Indonesia dan Turki sepakat untuk menyelesaikan perundingan Indonesia-Turki Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada tahun ini. Produk Indonesia, seperti minyak kelapa sawit dan ban, saat ini mengalami hambatan tarif di Turki yang menyebabkan penurunan nilai ekspor secara tajam.
“Ada lima yang merupakan top prioritas kami yang menjadi arahan Bapak Presiden karena negara-negara tersebut menjalin secara strategis hubungan dengan kita, dan tentu ini merupakan sebuah potensi bagi kita untuk segera merealisasikan dalam waktu dekat,” ujar Jerry, di Jakarta
Lebih lanjut Ia menerangkan perjanjian dagang dengan EU atau Uni Eropa sendiri merupakan salah satu prioritas utama Presiden Joko Widodo (Jokowi). "EU CEPA itu yang sangat-sangat menjadi prioritas kami, atas arahan Bapak Presiden kepada Pak Mendag dan saya bahwa ini harus segera diselesaikan sebelum akhir tahun 2020,” terang dia.
Dia berharap, blok dagang dengan Uni Eropa ini bakal rampung di pertengahan tahun 2020. “Uni Eropa ini akan coba kita segerakan mudah-mudahan pertengahan tahun depan bisa mencapai titik terang,” pungkasnya.
Adapun lima perjanjian dagang yang bakal dikejar sebagai berikut:
1. Indonesia- EU (European Union)-CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement)
Indonesia dengan European Free Trade Agreement atau IE-CEPA merupakan kerjasama yang melibatkan Indonesia dan anggota EFTA, seperti Swiss, Liechtenstein, Norwegia dan Islandia.
2. Indonesia-Moroko PTA (Preferential Trade Area)
Indonesia dan Maroko menyepakati peningkatan kerja sama perdagangan melalui aktivasi forum joint trade commission (JTC) dan segera memulai perundingan Perjanjian Perdagangan Preferensial atau preferential trade agreement (PTA). Perjanjian dagang ini menjajaki kerja sama di sektor kelapa sawit, kopi, tekstil, karet dan ban, agro industri, farmasi, dan minyak zaitun
3. Indonesia-Tunisia PTA
Indonesia dan Tunisia telah menyelenggarakan Konsultasi Bilateral ke-1 Indonesia – Tunisia di Tunis, Tunisia pada 26-27 September 2019. Indonesia perlu memanfaatkan potensi yang dimiliki Tunisia dalam upaya penetrasi pasar bagi produk ekspor Indonesia ke kawasan Afrika Utara, Sub Sahara dan Eropa, dengan menjadikannya sebagai pintu masuk. Karena selain letak geografisnya yang strategis, Tunisia juga memiliki banyak perjanjian perdagangan bebas dengan sejumlah negara di tiga kawasan dimaksu
4. Indonesia-Bangladesh PTA
Indonesia memiliki aset besar dalam menjalin hubungan bilateral yang erat dan bersahabat dengan Bangladesh. Kenyataan sebagai sesama negara berpenduduk muslim terbesar, serta sesama anggota PBB, KAA, GNB, OKI, D-8, G77, ARF serta berbagai forum kerjasama antar negara berkembang.
Delegasi Indonesia dan Bangladesh sepakat melaksanakan pertemuan ketiga TNC IB-PTA di Bangladesh pada Januari 2020. Agenda yang akan dibahas yaitu finalisasi teks perjanjian (termasuk teks draf ROO) IB-PTA, serta daftar permintaan dan penawaran kedua negara.
Berdasarkan hasil kajian awal dan masukan dari instansi pembina sektor, beberapa produk dan sektor potensial yang dapat ditingkatkan ekspornya ke Bangladesh antara lain minyak kelapa sawit, batu bara, gerbong kereta api, pelumas mesin, gelatin (bahan baku kapsul), pestisida, produk dari serat jute, vaksin, serta alat- alat kesehatan dan konstruksi.
5. Indonesia-Turki CEPA
Indonesia dan Turki sepakat untuk menyelesaikan perundingan Indonesia-Turki Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada tahun ini. Produk Indonesia, seperti minyak kelapa sawit dan ban, saat ini mengalami hambatan tarif di Turki yang menyebabkan penurunan nilai ekspor secara tajam.
(akr)
Lihat Juga :