Dukung Pembiayaan Infrastruktur, Likuiditas Perlu Dilonggarkan

Kamis, 14 November 2019 - 23:59 WIB
Dukung Pembiayaan Infrastruktur,...
Dukung Pembiayaan Infrastruktur, Likuiditas Perlu Dilonggarkan
A A A
JAKARTA - Pemerintah mendorong keterlibatan swasta dalam pembangunan infrastruktur mengingat pembiayaan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terbatas.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, untuk meningkatkan peran swasta dalam pembangunan infrastruktur maka kendala pembiayaan harus diselesaikan.

Menurut dia, ada persoalan ekonomi makro yang menghambat swasta terlibat dalam proyek infrastruktur, yaitu likuiditas perekonomian yang masih sangat ketat. Hal ini terlihat dari rasio M2 atau uang dibanding Produk Domestik Bruto (PDB) yang idealnya mencapai angka 100. Sementara rasio Indonesia hanya berada di kisaran 40 pada periode 2014-2018.

"Bandingkan dengan China yang mencapai angka 199, Jepang 252, Malaysia 127, Singapura 123, dan Thailand 123. Kita tidak pernah mencapai angka segitu," ujarnya di Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Di sisi lain, ada perebutan dana di tengah keringnya likuiditas antara berbagai pihak mulai dari perbankan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI).

"Di tengah perebutan dana seperti itu, kalau barangnya sedikit direbutin, harganya jadi semakin tinggi. Bagaimana mereka punya willingness swasta untuk berinvestasi," tuturnya.

Piter melanjutkan, suku bunga kredit yang masih tinggi dan kaku juga menghambat swasta untuk ikut dalam pembiayaan infrastruktur. Meski BI telah menurunkan suku bunga secara agresif dalam setahun terakhir, suku bunga kredit tidak ikut turun.

Menurut Piter, saat ini BI sangat melonggarkan likuiditas tetapi belum cukup. Perlu upaya yang cukup besar dari BI untuk membuat likuiditas menjadi lebih longgar. "Kalau mau meningkatkan peran swasta maka persoalan likuiditas harus diselesaikan," tandasnya.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), kemampuan APBN 2020-2024 hanya mampu menutupi sekitar Rp623 triliun. Angka ini setara dengan 30% dari total kebutuhan anggaran untuk penyediaan infrastruktur sebesar Rp2.058 triliun.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Proyek Infrastruktur...
Proyek Infrastruktur Digencarkan dengan Terobosan Pembiayaan
Infrastruktur dan Pembiayaan
Infrastruktur dan Pembiayaan
Pembiayaan Infrastruktur...
Pembiayaan Infrastruktur Turun
Kebutuhan Infrastruktur:...
Kebutuhan Infrastruktur: Pembiayaan Alternatif?
Bappenas Beberkan 4...
Bappenas Beberkan 4 Terobosan Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur
Indonesia Butuh Rp2.085...
Indonesia Butuh Rp2.085 Triliun untuk Mengejar Ketertinggalan Infrastruktur
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
6 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
6 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
6 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
7 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
7 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
8 jam yang lalu
Infografis
Anggap Zelensky Tidak...
Anggap Zelensky Tidak Populer, Trump Dukung Pemilu di Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved