Meski Banyak Tantangan, Jokowi Optimistis 2020 Akan Lebih Baik

Kamis, 02 Januari 2020 - 07:58 WIB
Meski Banyak Tantangan,...
Meski Banyak Tantangan, Jokowi Optimistis 2020 Akan Lebih Baik
A A A
YOGYAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, tahun 2020 akan banyak tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia. Namun, dia juga menyebut bahwa akan banyak peluang yang dapat dimanfaatkan. “Tahun 2020 yang kita lihat akan penuh dengan tantangan, tetapi juga banyak peluang,” tandas Jokowi di 0 km Kota Yogyakarta, kemarin malam.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu optimistis tahun 2020 bakal dilalui dengan baik. Untuk mencapai itu, dia mengajak seluruh rakyat sekali lagi bekerja keras bersama-sama, menjaga kerukunan, dan menjaga persatuan.

“Saya meyakini dengan sebuah optimisme, dengan sebuah kerja keras kita dan modal besar kita, kerukunan, persatuan kita sebagai sebuah bangsa besar. Saya meyakini Insya Allah nanti di 2020 akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Presiden Jokowi menghabiskan malam pergantian tahun di Kota Yogyakarta. Jokowi sempat menyapa warga di sekitar Istana Kepresidenan Yogyakarta. Ketua DPR Puan Maharani mengatakan, legislatif tetap akan mengawal program-program pemerintah di tahun 2020.

“Program-program pemerintah harus menjamin terpenuhinya hak-hak dasar warga di bidang sosial dan ekonomi berupa penyediaan lapangan kerja, layanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan publik lainnya agar masyarakat makin merasakan hadirnya keadilan sosial,” tandas Puan dalam siaran pers Refleksi Akhir Tahun 2019, kemarin.

Puan mengatakan, pemenuhan hak-hak dasar warga di bidang sosial dan ekonomi juga bermanfaat sebagai instrumen pengamanan sosial mengingat tahun 2020 ada tantangan ekonomi akibat dari ketidakpastian global. Pemenuhan hak-hak dasar warga dan jaminan ketersediaannya sekaligus akan menjadi program kontra-siklus untuk mengurangi dampak akibat kontraksi ekonomi global.

“Kita optimistis dengan semangat gotong royong yang menjadi sifat dasar bangsa ini, maka segala tantangan di 2020 akan teratasi. Tentu saja sikap bergotong royong akan muncul bila dilandasi semangat persatuan dan kerukunan nasional,” ujarnya. Menurut Ketua DPP PDIP ini, persatuan dan kerukunan nasional menjadi fundamental mengingat tahun 2020 akan ada 270 pilkada yang berlangsung serentak.

Sebagai bagian dari proses demokrasi, Pilkada Serentak 2020 harus menghadirkan kegembiraan politik untuk mencari pemimpin-pemimpin daerah terbaik, bukan menjadi ajang konflik horizontal. “DPR bersama pemerintah dan penyelenggara pemilu lewat peraturan yang disusun bersama akan memastikan proses Pilkada Serentak 2020 berlangsung jurdil,” ujarnya.

Karena itu, Puan mengajak semua pihak untuk bersiap menghadapi tantangan politik dan ekonomi di 2020 dengan optimistis. “Mari kita hadapi tantangan ekonomi dan politik tahun 2020 dengan optimistis lewat semangat gotong royong untuk mencari solusi terbaik bagi bangsa ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ekonom Indef Bhima Yudisthira mengatakan, masih banyak tantangan dan pekerjaan rumah di bidang ekonomi yang harus dikerjakan pemerintah pada 2020. Terlebih, pemerintah telah menegaskan tekad untuk membawa Indonesia menjadi negara maju, melewati perangkap negara pendapatan menengah (middle income trap).

“Tapi, kalau tidak ada perubahan yang fundamental, di mana pemerintah melakukan terobosan-terobosan yang luar biasa, stagnasi akan terus terjadi. Maka dari itu perlu ada langkah konkret,” ungkapnya. Sejumlah masalah ekonomi yang bakal dihadapi di 2020 di antaranya, pertumbuhan ekonomi yang akan diprediksi melambat.

Hal ini dikarenakan dampak ketidakpastian serta perlambatan ekonomi global yang diprediksi masih akan terjadi pada tahun ini. “Adanya ketidakpastian global masih akan terus berlanjut yang mana bisa menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020. Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan di kisaran 5%,” paparnya.

Masalah lainnya adalah defisit neraca perdagangan. Tekanan atas kinerja perdagangan Indonesia diperkirakan belum akan mereda seiring masih terus terkoreksinya pertumbuhan perdagangan global. Sementara, perang dagang diperkirakan masih akan berlanjut dan turut menekan negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

“Komoditas ekspor andalan Indonesia seperti batu bara dan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) akan mengalami kenaikan signifikan pada tahun ini. Hal itu akan memengaruhi pertumbuhan nilai ekspor Indonesia,” lanjut Bhima Yudishitra.

Selanjutnya, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). CAD masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah. Pada kuartal III/2018, CAD tercatat sebesar USD8,8 miliar atau 3,37% dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu membaik di kuartal III/2019 menjadi USD7,7 miliar atau 2,7% dari PDB namun masih di atas target CAD pada tahun ini yang berada di kisaran 2,5%.

“Ini sulit melihat tekanan CAD ini. Untuk itu perlu meningkatkan lifting minyak dan menggunakan energi alternatif seperti biodiesel guna mengurangi impor. Kemudian, dorong ekspor ke negara-negara alternatif,” kata Ekonom CORE Piter Abdullah.

Masalah selanjutnya, pertumbuhan kredit masih akan melambat. Penyaluran kredit perbankan hingga tahun 2020 diyakini masih akan mengalami perlambatan. Pasalnya, kondisi permintaan kredit tahun ini juga masih dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global.

“Perlu adanya sinergitas antara bank dengan pemerintah agar tidak terjadi perebutan dana. Selain sinergitas, penurunan suku bunga kredit dipengaruhi kuat oleh suku bunga deposito, sedangkan transmisi penurunan suku bunga kredit membutuhkan waktu karena deposito perbankan memiliki jangka waktu kontrak,” kata Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto.

Seperti tahun 2019, investasi ke dalam negeri diperkirakan juga masih akan mengalami tekanan. Hal ini terlihat pada pencapaian pajak yang tidak sesuai target di tahun 2019. Profesor Riset Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Syarif Hidayat mengatakan, untuk memastikan konsep maupun implementasi program akselerasi transformasi ekonomi, diperlukan adanya tata kelola yang baik dan tepat.

Orientasi reformasi kebijakan pemerintah pun harus lebih menekankan pada penguatan kapasitas negara dengan tetap tidak meninggalkan ikhtiar reformasi kelembagaan dalam meningkatkan investasi. “Dua program ini diusulkan agar tata kelola dan akselerasi transformasi ekonomi dapat tercapai,” tandasnya.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sangkal 15 Menteri Jokowi...
Sangkal 15 Menteri Jokowi Mundur, Moeldoko: Kabinet Tetap Solid Bekerja
Erick Thohir Dinilai...
Erick Thohir Dinilai Tokoh Muda Berpengaruh dalam Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin
Pemerintah Berusaha...
Pemerintah Berusaha Jawab Ekspektasi Masyarakat
Fahri Hamzah: Bagian...
Fahri Hamzah: Bagian Dapur Pemerintahan Jokowi Berantakan
Jokowi Kembali Ingatkan...
Jokowi Kembali Ingatkan Menterinya: Jangan Biasa-biasa Saja
Jokowi Sampaikan Permintaan...
Jokowi Sampaikan Permintaan Maaf selama Jadi Presiden
Berita Terkini
EPI Clean Energy Day...
EPI Clean Energy Day Catat Penghematan Emisi Lebih dari 710 Kg CO2e
20 menit yang lalu
Bulog Serap 3,4 Juta...
Bulog Serap 3,4 Juta Ton Beras Petani, Setara 85% dari Target Nasional
34 menit yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung Edukasi Pasar Modal untuk Mahasiswa Universitas Budi Luhur
51 menit yang lalu
PLN Hadirkan Listrik...
PLN Hadirkan Listrik Gratis bagi Masyarakat Kurang Mampu di Siantan
1 jam yang lalu
Pegadaian Raih Penghargaan...
Pegadaian Raih Penghargaan Top Company in Bullion Bank Industry 2026 Berkat Kontribusi Nyata pada Asta Cita
1 jam yang lalu
Sucor AM Manfaatkan...
Sucor AM Manfaatkan Ajang Lari Perkuat Literasi Investasi
1 jam yang lalu
Infografis
Panglima Militer Israel:...
Panglima Militer Israel: Tentara yang Tewas di Gaza Jauh Lebih Banyak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved