Hanura Ungkap Indikasi Mafia Migas dalam Pengadaan LNG

Kamis, 09 Januari 2020 - 17:15 WIB
Hanura Ungkap Indikasi...
Hanura Ungkap Indikasi Mafia Migas dalam Pengadaan LNG
A A A
JAKARTA - Ketua DPP Partai Hanura Inas N Zubir mengungkapkan, kontrak impor LNG yang dilakukan oleh Pertamina dengan anak perusahaan Cherniere Energy Inc. (USA) yakni, Corpus Christi Liquefaction LLC, tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Dia menuturkan, kontrak pembelian LNG dari Corpus Christi Liquefaction LLC itu diteken Pertamina pada 26 Oktober 2015 dan disaksikan oleh Presiden Joko Widodo di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Dalam kontrak tersebut diketahui, Pertamina akan menerima LNG dari Cherniere pada awal tahun 2019, dengan durasi kontrak selama 20 tahun hingga 2039.

"Tapi, faktanya barang tersebut tidak pernah masuk ke Indonesia. LNG dari AS tersebut pada saat itu digembar-gemborkan sangat murah, tapi mengapa justru tidak masuk ke Indonesia? Padahal kalau memang murah dan ekonomis, segera saja didatangkan ke Indonesia untuk mengatasi tingginya harga gas domestik saat ini," ujarnya melalui keterangan tertulis, Kamis (9/1/2019).

Inas melanjutkan, harga LNG dari Cherniere tersebut ternyata justri tidak ekonomis jika didistribusikan ke dalam negeri. Pasalnya adalah formula harga yang digunakan dalam kontrak dengan Cherniere tersebut adalah HH x 1,15, belum termasuk biaya likuifaksi sebesar USD3,50/MMBTU, dimana HH adalah publikasi harga gas Henry Hub yang merupakan basis harga gas yang digunakakan di Amerika.

Dengan formula itu, papar Inas, jika publikasi harga gas Henry Hub untuk loading di bulan Januari 2019 adalah USD3,11/MMBTU, maka harga FOB LNG berdasarkan kontrak tersebut adalah USD7/MMBTU. Selain itu masih ada biaya tambahan seperti freight, insurance, regasifikasi dan tol fee untuk transmisi dan distribusi, sehingga harga di pengguna akhir bisa lebih dari USD11-12/MMBTU.

Selain itu, terbatasnya fasilitas penampungan LNG yang ada di Indonesia atau yang dimiliki oleh Pertamina menurutnya juga tidak diperhitungkan. Karena itu, kata Inas, patut diduga ada campur tangan mafia migas pada saat itu. "Apalagi impor LNG dari Amerika tersebut di-handling oleh PPT Tokyo, yakni perusahaan Jepang yang 50% sahamnya dimiliki oleh Pertamina. Kabarnya bisnis LNG tersebut bukannya untung, tapi malahan rugi," tambahnya. Oleh karena itu, Inas meminta agar pemerintah segera turun tangan menyelidiki persoalan impor LNG dari AS tersebut.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertamina Berbenah Dinilai...
Pertamina Berbenah Dinilai Bikin Mafia Migas Gerah
Pandemi Corona Bikin...
Pandemi Corona Bikin Penjualan LNG Domestik Turun Tajam
PGN dan Pupuk Iskandar...
PGN dan Pupuk Iskandar Muda Kembangkan Blue Ammonia
Pertamina Tak Perlu...
Pertamina Tak Perlu Gentar Hadapi Gugatan Mozambik
Babak Baru Mafia Migas:...
Babak Baru Mafia Migas: Mendorong Tersangka Riza Chalid Dipulangkan ke Indonesia
IPO Pertamina Berpotensi...
IPO Pertamina Berpotensi Cegah Mafia Migas
Berita Terkini
BUMN Mulai Pangkas Anak...
BUMN Mulai Pangkas Anak Usaha, dari Pupuk Indonesia sampai PLN
16 menit yang lalu
WYCE Targetkan Penjualan...
WYCE Targetkan Penjualan 100.000 Boks pada Tahun Pertama
39 menit yang lalu
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
1 jam yang lalu
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
2 jam yang lalu
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
2 jam yang lalu
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
11 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved