Gelombang Utang Negara Berkembang Mencemaskan

Sabtu, 11 Januari 2020 - 17:47 WIB
Gelombang Utang Negara...
Gelombang Utang Negara Berkembang Mencemaskan
A A A
WASHINGTON - Bank Dunia memperingatkan dampak ‘gelombang’ akumulasi utang yang terus meningkat selama lima dekade terakhir. Terutama bagi pasar dan negara berkembang yang mengalami kenaikan secara signifikan dalam menarik utang.

Bank Dunia mencatat, ada empat gelombang utang dalam 50 tahun terakhir, dimana gelombang terbaru dimulai pada 2010 yang dilihat sebagai yang terbesar, tercepat serta yang paling luas. Sebelumnya terdapat tiga gelombang historis akumulasi utang, yaitu 1970-1989, 1990-2001 dan 2002-2009.

Lead Economic Forester dari Bank Dunia, Ayhan Kose, mengatakan bahwa gelombang akumulasi utang kerap ditutup dengan akhir yang tidak bahagia. Tren ini berdasarkan pengalaman masa lalu. "Sejarah gelombang akumulasi utang masa lalu menunjukkan bahwa cenderung memiliki akhiran tidak bahagia. Dalam lingkungan global yang rapuh, perbaikan kebijakan sangat penting untuk meminimalkan risiko yang terkait dengan gelombang utang saat ini," ungkap Rose seperti dilansir laman resmi Bank Dunia.

Diterangkan juga olehnya risiko krisis keuangan di tingkat global masih ada, meski tren suku bunga rendah membuat utang bisa lebih mudah dikelola. Sepanjang tahun 2018, Bank Dunia mencatatkan rasio utang baik di negara berkembang mencapai 170% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Utang tersebut mencapai USD55 triliun atau meningkat 54% sejak tahun 2010.

China merupakan salah satu negara dengan peningkatan terbesar seiring dengan besaran ekonomi negara tersebut, meski peningkatan terjadi secara meluas, termasuk negara berkembang seperti Brasil. Utang yang menumpuk sejak tahun 2010 umumnya terjadi di negara-negara berkembang ketimbang di negara maju. Hampir 80% tingkat utang di negara ekonomi berkembang lebih tinggi pada 2018 dibanding tahun 2010.

"Ketika tingkat suku bunga rendah mengurangi beberapa risiko terkait dengan utang tinggi. Dibutuhkan kebijakan yang tepat untuk mengurangi kemungkinan krisis dan meminimalisir dampaknya dengan membangun moneter yang kuat serta kerangka fiskal. Selanjutnya pengawasan ketat serta menerapkan manajemen transparan," paparnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
5 Negara Berkembang...
5 Negara Berkembang yang Terlilit Utang Besar ke China, Produksi Minyak Sampai Jadi Jaminan
10 Negara dengan Utang...
10 Negara dengan Utang Terbanyak ke Bank Dunia, Indonesia Posisi Berapa?
Warning Krisis Utang...
Warning Krisis Utang Negara Berkembang! Bank Dunia Sebut Beban Makin Berat
Bank Dunia Wanti-wanti...
Bank Dunia Wanti-wanti Negara Berkembang Kehabisan Tenaga Dikejar Utang
Ledakan Utang Global...
Ledakan Utang Global ke Rekor Tertinggi Mengancam Ekonomi Dunia
10 Negara Berkembang...
10 Negara Berkembang Alami Krisis Ekonomi Akibat Utang Menumpuk
Berita Terkini
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
2 jam yang lalu
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
2 jam yang lalu
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
2 jam yang lalu
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
2 jam yang lalu
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
2 jam yang lalu
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved