Defisit Neraca Dagang Bulan Desember Turun Menjadi USD28,2 Juta

Rabu, 15 Januari 2020 - 13:14 WIB
Defisit Neraca Dagang...
Defisit Neraca Dagang Bulan Desember Turun Menjadi USD28,2 Juta
A A A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia bulan Desember 2019 mengalami defisit USD28,2 juta. Angka ini turun dari posisi Desember 2018, yang mengalami defisit hingga USD1,07 miliar.

Kepala BPS, Suhariyanto, menerangkan defisit bulan Desember lalu itu, lebih rendah dibandingkan November 2019 yang mengalami defisit hingga USD1,39 miliar.

"Jadi realisasi Desember mempersempit defisit. Ini lebih rendah dari defisit di November 2019," ujar Suhariyanto di Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Dia menjelaskan, penyebab defisit neraca dagang di Desember 2019 adalah impor migas. Sektor ini mengalami defisit USD971,3 juta sepanjang bulan lalu, melonjak dari defisit di Desember 2018 sebesar USD318,5 juta.

Rinciannya terdiri dari minyak mentah yang defisit USD522,5 juta dan hasil minyak defisit USD1,05 miliar. Sedangkan untuk gas tercatat surplus sebesar USD609,9 juta.

Pada bulan lalu, laju ekspor migas tercatat sebesar USD1,16 miliar, namun laju impor migas mencapai USD2,13 miliar. Adapun pada Desember 2018, kinerja ekspor migas memang tinggi sebesar USD1,70 miliar, sedangkan impor migas sebesar USD2,02 miliar.

Sedangkan untuk kinerja sektor non migas, masih mencatatkan surplus sebesar USD943,1 juta di Desember 2019. Bulan lalu, ekspor non migas sebesar USD13,31 miliar, sedangkan laju impor lebih lambat yakni sebesar USD12,26 miliar.

Menurut Suhariyanto, kinerja ini tak terlepas dari kondisi perekonomian global yang tengah mengalami ketidakpastian.

"Harga komoditas sepanjang Desember 2019 pun mengalami kenaikan dan penurunan dari November 2018," jelasnya

Seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) menjadi USD67,18 per barel dari bulan sebelumnya USD63,26 per barel. Harga minyak kelapa sawit (CPO) pun naik 12,67% dan karet naik 7,35% di Desember 2019.

Sedangkan yang mengalami penurunan diantaranya komoditas batu bara sebesar 1,21% di Desember 2019.

"Tentunya dengan hasil ini, berharap ke depan, ekspor bisa semakin meningkat dan impor terkendali, sehingga neraca dagang bisa mengalami suprlus," tandasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Neraca Perdagangan Jawa...
Neraca Perdagangan Jawa Timur Defisit USD9,17 Miliar Selama 2022
Neraca Dagang Defisit...
Neraca Dagang Defisit Perdana usai 72 Bulan Surplus, Ini Biang Keladinya
Neraca Perdagangan Jatim...
Neraca Perdagangan Jatim Defisit USD1,02 Miliar Selama Agustus 2022
Selama Januari - Oktober...
Selama Januari - Oktober 2022, Neraca Perdagangan Jatim Defisit USD7,85 Miliar
Selama Januari - April...
Selama Januari - April 2022, Neraca Perdagangan Jawa Timur Defisit USD2,38 Miliar
Tertinggi dalam 15 Tahun...
Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir, Neraca Dagang RI Surplus USD35,34 Miliar di 2021
Berita Terkini
Jakarta Fair 2026 Diserbu...
Jakarta Fair 2026 Diserbu 6 Juta Pengunjung, Nilai Transaksi Cetak Rp8,2 Triliun
2 jam yang lalu
Laporan Menkop ke Prabowo:...
Laporan Menkop ke Prabowo: 15.845 Koperasi Merah Putih Sudah Berdiri, 19 Ribu Masih Dibangun
3 jam yang lalu
Pengawasan DMO Diperketat,...
Pengawasan DMO Diperketat, PLN Didorong Kebut Kontrak Pasokan Batu Bara
5 jam yang lalu
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
7 jam yang lalu
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
8 jam yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
9 jam yang lalu
Infografis
Indonesia-AS Teken Perjanjian...
Indonesia-AS Teken Perjanjian Dagang Resiprokal: Kabar Baik buat 4 Juta Buruh Tekstil
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved