Sinyal The Fed dan Virus Corona Bikin Rupiah Terkapar ke Rp13.651

Kamis, 30 Januari 2020 - 10:24 WIB
Sinyal The Fed dan Virus...
Sinyal The Fed dan Virus Corona Bikin Rupiah Terkapar ke Rp13.651
A A A
JAKARTA - Sinyal dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang mempertahankan suku bunga dan wabah virus corona telah memukul aset berisiko, termasuk rupiah. Investor mencoba melindungi asetnya dengan memilih mata uang safe haven seperti dolar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun melemah di pasar spot pada Kamis (30/1/2020). Indeks Bloomberg mencatat rupiah dibuka terkapar 17 poin atau 0,13% ke level Rp13.651 per USD, dibandingkan penutupan Rabu lalu di Rp13.634 per USD.

Data Yahoo Finance mencatat rupiah melemah 9 poin atau 0,06% ke posisi Rp13.629 per USD, dibandingkan posisi Rp13.620 per USD pada Rabu kemarin.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mematok kurs tengah rupiah di Rp13.652 per USD, terdepresiasi 18 poin dari posisi Rp13.634 per USD pada Rabu lau.

Sinyal The Fed dan wabah corona membuat dolar AS berada di level tertinggi dua bulan terhadap enam mata uang utama. Melansir dari Reuters, dolar AS menjadi mata uang berkinerja terbaik diantara mata uang negara-negara G10 sepanjang Januari ini, dimana telah naik 1,6%.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama juga menguat ke level 98,033, setelah kemarin berada di level 98,037, mendekati level tertinggi dua bulan. Yen Jepang dan franc Swiss berada di peringkat kedua dan ketiga.

Yen Jepang diperdagangkan di posisi 109,06 yen per USD, setelah naik 0,14% pada hari sebelumnya. Namun yen Jepang telah turun 0,3% terhadap dolar AS sejauh bulan Januari ini. Franc Swiss berada di 0,9729 franc per dolar AS.

"Pasar sekarang menjauhi aset berisiko dan memilih mata uang safe haven seperti dolar AS, yen dan franc Swiss. Dan meski dampak corona belum diketahui seberapa besarnya, yang jelas telah menghantam perekonomian China dan berdampak ke aset berisiko," kata Minori Uchida, kepala analis mata uang di MUFG Bank.

Beberapa kalangan memprediksi pertumbuhan ekonomi China mungkin turun menjadi 5% atau bahkan di bawah itu akibat wabah virus korona. Dan ini akan memberikan pukulan hebat bagi ekonomi negara lain yang sangat bergantung terhadap China.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Bakal Terdongkrak...
Rupiah Bakal Terdongkrak Guyuran Dolar dari The Fed
Dapat Angin dari Pernyataan...
Dapat Angin dari Pernyataan The Fed, Rupiah Diprediksi Menguat
Rupiah Bergerak Melemah...
Rupiah Bergerak Melemah Jelang Pertemuan The Fed
Rupiah Balik Berotot...
Rupiah Balik Berotot Merespons Keputusan The Fed
Bunga The Fed Diramal...
Bunga The Fed Diramal Turun, Rupiah Sepekan Berotot di Hadapan Dolar AS
Rupiah Terjungkal 40...
Rupiah Terjungkal 40 Poin ke Level Rp14.020 per USD
Berita Terkini
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
1 jam yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
3 jam yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
3 jam yang lalu
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
4 jam yang lalu
Masa Transisi ke B50...
Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
5 jam yang lalu
Selat Hormuz Dikunci...
Selat Hormuz Dikunci Rapat Iran, Jalur Minyak Terpenting Dunia Kembali Mandek
7 jam yang lalu
Infografis
4 Tentara Wanita Israel...
4 Tentara Wanita Israel yang Dibebaskan Tersenyum dan Lambaikan Tangan ke Warga Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved