Jelang Data Inflasi, Rupiah Diprediksi Terkoreksi
Senin, 03 Februari 2020 - 09:01 WIB
Jelang Data Inflasi, Rupiah Diprediksi Terkoreksi
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini diprediksi tertahan. Sebelumnya rupiah tergelincir ke posisi Rp13.650 per USD atau sedikit lebih rendah dari sebelumnya Rp13.640 per USD.
Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, mengatakam sentimen negatif didorong oleh wabah virus corona masih menjadi kekhawatiran pasar. Namun, kekhawatiran mereda setelah WHO menyatakan keyakinannya bahwa China dapat mengendalikan penyebaran virus ini dengan cepat.
"Kabar bertambahnya penyebaran virus corona di China dan global memicu kembalinya kekhawatiran pasar sehingga harga aset-aset berisiko mengalami penurunan. Potensi USD-IDR hari ini di Rp13.630-Rp13.680," ujar Ariston di Jakarta, Senin (3/2/2020).
Dia menambahkan perkembangan China bisa melambat dan bisa turut melambatkan laju pertumbuhan ekonomi global. Adapun Bank Sentral China melakukan stimulus dengan menyuntikan dana ke pasar repo sebesar 1,2 triliun yuan.
"Kebijakan ini bisa menahan laju penurunan aset berisiko dan penurunan yield obligasi pemerintah AS, yang sekarang berada di kisaran 1,5%, juga bisa menahan laju penguatan dolar terhadap mata uang emerging markets," jelasnya.
Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, mengatakam sentimen negatif didorong oleh wabah virus corona masih menjadi kekhawatiran pasar. Namun, kekhawatiran mereda setelah WHO menyatakan keyakinannya bahwa China dapat mengendalikan penyebaran virus ini dengan cepat.
"Kabar bertambahnya penyebaran virus corona di China dan global memicu kembalinya kekhawatiran pasar sehingga harga aset-aset berisiko mengalami penurunan. Potensi USD-IDR hari ini di Rp13.630-Rp13.680," ujar Ariston di Jakarta, Senin (3/2/2020).
Dia menambahkan perkembangan China bisa melambat dan bisa turut melambatkan laju pertumbuhan ekonomi global. Adapun Bank Sentral China melakukan stimulus dengan menyuntikan dana ke pasar repo sebesar 1,2 triliun yuan.
"Kebijakan ini bisa menahan laju penurunan aset berisiko dan penurunan yield obligasi pemerintah AS, yang sekarang berada di kisaran 1,5%, juga bisa menahan laju penguatan dolar terhadap mata uang emerging markets," jelasnya.
(ven)
Lihat Juga :