Pasar Saham Sepekan Ini Masih Dihantui Virus Corona

Sabtu, 22 Februari 2020 - 16:11 WIB
Pasar Saham Sepekan...
Pasar Saham Sepekan Ini Masih Dihantui Virus Corona
A A A
JAKARTA - Pasar saham sepekan ini masih dihantui oleh perkembangan wabah virus corona. Beragam stimulus yang diberikan belum mampu menggairahkan pasar saham Asia dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian, tekanannya tidak sebesar pekan sebelumnya.

IHSG cenderung membaik namun belum mampu menembus level 6.000. Pada perdagangan Senin 17 Februari, IHSG ditutup di level 5.865,10. Dan akhir pekan lalu, Jumat 21 Februari, IHSG berada di level 5.882,26. Stimulus dari Bank Indonesia dengan menurunkan suku bunga acuan 25 basis point (bps) menjadi 4,75% belum mampu berbuat banyak.

Pun demikian dengan langkah The People's Bank of China (bank sentral China) yang menurunkan suku bunga kredit bertenor 1 tahun sebanyak 10 bps dan bunga kredit tenor 5 tahun sebesar 5 bps.

Bank sentral China juga mengumumkan akan memberi pendanaan jangka menengah sebesar 200 miliar yuan (USD29 miliar) kepada perbankan komersial dan memangkas suku bunga utamanya 10 bps menjadi 3,15%.

Menteri Keuangan Liu Kun mengatakan pemerintah China merencanakan pemotongan pajak dan akan meningkatkan belanja pemerintah untuk memberikan stimulus fiskal bagi perekonomian demi mengatasi dampak ekonomi akibat wabah virus corona. Namun upaya tersebut hanya sedikit dicerna oleh pasar saham Asia.

"Pasar saham global terutama Asia dan Indonesia sepekan ini masih dipengaruhi oleh penyebaran virus corona. Namun demikian, lebih baik dibanding tekanan pada pekan sebelumnya karena kabar perlambatan penyebaran virus corona," ujar Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee kepada SINDOnews di Jakarta, Sabtu (22/2/2020).

Hans Kwee menambahkan bila virus corona berhasil ditanggulangi, maka dampak ekonomi dan bisnis akan menjadi pusat perhatian pasar. Jika tidak diatasi segera ini akan terjadi risiko koreksi terus menerus kedepannya.

Dampak ekonomi akibat virus corona tergolong besar. Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mengatakan perbankan China bisa mengalami kredit macet sebanyak USD1,1 triliun karena virus corona yang berakibat tekanan pada ekonomi China.

"Hal ini membuat potensi terjadinya risiko korekais pada indeks pasar saham dunia kedepannya," kata Hans Kwee.

Dan dampak ekonomi virus corona masih akan berlanjut di pekan depan. Karena itu, Hans merekomendasikan pelaku pasar untuk melakukan BOW (buy on weakness) ketika terjadi koreksi.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pergerakan IHSG Masih...
Pergerakan IHSG Masih Tersandera Corona, Bursa Asia Kompak Melemah
IHSG Awal Juni 2020...
IHSG Awal Juni 2020 Dibuka Menghijau Saat Bursa Asia Mixed
IHSG Akhir Pekan Dibuka...
IHSG Akhir Pekan Dibuka Merayap, Naik Tipis 5,30 Poin
Seharian Bergeming di...
Seharian Bergeming di Zona Hijau, IHSG Ditutup Naik ke 6.289
Ada Peluang IHSG Terkoreksi...
Ada Peluang IHSG Terkoreksi Hari Ini, Bergerak Terbatas 6.123-6.288
Menghijau, IHSG Pagi...
Menghijau, IHSG Pagi Ini Dibuka Naik 19,70 poin ke Level 6.290
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
8 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
9 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
9 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
9 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
10 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
10 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved