Harga Minyak Sakit Tiga Hari Beruntun, Terburuk Sejak 1991
Jum'at, 13 Maret 2020 - 10:49 WIB
Harga Minyak Sakit Tiga Hari Beruntun, Terburuk Sejak 1991
A
A
A
TOKYO - Harga minyak memperpanjang penurunan tiga hari beruntun pada Jumat (13/3/2020). Harga si emas hitam sakit akibat jatuhnya permintaan pasar akibat wabah virus corona secara global dan telah mencengkeram pasar.
Melansir dari Reuters, harga minyak Brent Internasional jatuh 67 sen atau 2% ke level USD32,55 per barel pada pukul 01:26 GMT. Dalam minggu ini, harga Brent telah melemah 28%, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak 18 Januari 1991, ketika itu turun 29% saat pecahnya Perang Teluk I.
Harga minyak berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) rugi 66 sen atau 2,1% menjadi USD30,84 per barel. Harga WTI telah melemah 25% selama minggu ini, terbesar sejak 19 Desember 2008, ketika itu turun 27% pada puncak Krisis Keuangan Global.
Harga minyak semakin babak belur setelah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melakukan perang harga dengan Rusia. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melancarkan produksi besar-besaran sehingga membuat pasokan menjadi overhang.
"Wabah corona telah memicu penurunan permintaan minyak dunia dalam beberapa tahun. Dan harga semakin jatuh karena Arab Saudi dan Rusia melakukan lonjakan produksi yang bisa membuat pasokan overhang 4 juta barel per hari," tulis Eurasia Group.
Kelebihan pasokan empat juta barel ini setara dengan 4% konsumsi global setiap hari, sebelum wabah virus corona.
Melansir dari Reuters, harga minyak Brent Internasional jatuh 67 sen atau 2% ke level USD32,55 per barel pada pukul 01:26 GMT. Dalam minggu ini, harga Brent telah melemah 28%, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak 18 Januari 1991, ketika itu turun 29% saat pecahnya Perang Teluk I.
Harga minyak berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) rugi 66 sen atau 2,1% menjadi USD30,84 per barel. Harga WTI telah melemah 25% selama minggu ini, terbesar sejak 19 Desember 2008, ketika itu turun 27% pada puncak Krisis Keuangan Global.
Harga minyak semakin babak belur setelah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melakukan perang harga dengan Rusia. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melancarkan produksi besar-besaran sehingga membuat pasokan menjadi overhang.
"Wabah corona telah memicu penurunan permintaan minyak dunia dalam beberapa tahun. Dan harga semakin jatuh karena Arab Saudi dan Rusia melakukan lonjakan produksi yang bisa membuat pasokan overhang 4 juta barel per hari," tulis Eurasia Group.
Kelebihan pasokan empat juta barel ini setara dengan 4% konsumsi global setiap hari, sebelum wabah virus corona.
(ven)
Lihat Juga :