Negara Industri Mulai Bangkit, Harga Minyak Diprediksi Menguat
Senin, 04 Mei 2020 - 10:32 WIB
loading...
Harga minyak mentah diprediksi akan terus meningkat seiring meredanya wabah Covid-19 dan bangkitnya negara-negara industri. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai keputusan PT Pertamina (Persero) tidak menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah tepat. Pasalnya harga minyak mentah global diprediksi bakal menguat seiring mulai redanya wabah Covid-19 di sejumlah negara-negara industri seperti China, Jepang dan Korea Selatan.
"Diperkirakan 2-3 bulan ke depan harga minyak mentah akan kembali normal karena sejumlah negara industri mulai bangkit. Bahkan China juga sudah mulai melakukan pengadaan migas. Jadi tidak menutup kemungkinan harga minyak kembali naik karena terjadi peningkatan permintaan," ujar Direktur Eksekutif ReforMiners Institute Komaidi Notonegoro, di Jakarta, Senin (4/5/2020).
Menurut dia selain waspada terhadap naiknya harga minyak ke depan, Pertamina juga mempertimbangkan jebloknya konsumsi BBM selama pandemi Covid-19 sehingga tidak mengambil langkah menurunkan harga BBM. Disamping itu, perseroan juga memiliki beban besar melakukan distribusi BBM hingga pelosok negeri.
"Sejauh ini kalau kita dengar laporan Pertamina konsumsi BBM secara nasional turun mencapai 34%. Sementara Pertamina harus tetap berupaya mendistribusikan hingga pelosok negeri," tandas dia.
Hal senada juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan. Dalam kondisi seperti ini memang tidak mudah bagi Pertamina untuk menurunkan harga BBM. Pasalnya Pertamina tidak hanya bergerak di bisnis hilir saja tapi juga harus menanggung beban besar di hulu akibat rendahnya harga minyak dunia. Untuk menekan beban, Pertamina tidak mungkin menghentikan altivitas sumur-sumur migasnya karena di samping biaya mahal juga mengancam kelanjutan produksi minyak nasional.
"Diperkirakan 2-3 bulan ke depan harga minyak mentah akan kembali normal karena sejumlah negara industri mulai bangkit. Bahkan China juga sudah mulai melakukan pengadaan migas. Jadi tidak menutup kemungkinan harga minyak kembali naik karena terjadi peningkatan permintaan," ujar Direktur Eksekutif ReforMiners Institute Komaidi Notonegoro, di Jakarta, Senin (4/5/2020).
Menurut dia selain waspada terhadap naiknya harga minyak ke depan, Pertamina juga mempertimbangkan jebloknya konsumsi BBM selama pandemi Covid-19 sehingga tidak mengambil langkah menurunkan harga BBM. Disamping itu, perseroan juga memiliki beban besar melakukan distribusi BBM hingga pelosok negeri.
"Sejauh ini kalau kita dengar laporan Pertamina konsumsi BBM secara nasional turun mencapai 34%. Sementara Pertamina harus tetap berupaya mendistribusikan hingga pelosok negeri," tandas dia.
Hal senada juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan. Dalam kondisi seperti ini memang tidak mudah bagi Pertamina untuk menurunkan harga BBM. Pasalnya Pertamina tidak hanya bergerak di bisnis hilir saja tapi juga harus menanggung beban besar di hulu akibat rendahnya harga minyak dunia. Untuk menekan beban, Pertamina tidak mungkin menghentikan altivitas sumur-sumur migasnya karena di samping biaya mahal juga mengancam kelanjutan produksi minyak nasional.
Lihat Juga :