alexametrics

Harga Minyak Mentah Dunia Sentuh USD25,89/Barel Dihantam Corona dan Perang Harga

loading...
A+ A-
SINGAPURA - Harga minyak mentah dunia pada perdagangan, Senin (23/3/2020) terus anjlok ketika eskalasi pemerintah yang meningkat untuk mengekang penyebaran wabah virus corona telah memangkas prospek permintaan minyak. Kondisi ini juga diyakini bisa mengancam kontraksi ekonomi global.

Seperti dilansir CNBC hari ini, harga minyak mentah berjangka Brent terpantau turun USD1,09 yang setara 4% untuk berada di level USD25,89 per barel pada pukul 02.09 GMT. Sedangkan harga minyak mentah berjangkas AS yakni West Texas Intermediate (WTI) merosot 15 sen atau 0,7% menjadi USD22,48 per barel.

Harga minyak dunia terpantau telah jatuh selama empat minggu berturut-turut dan telah ambruk sekitar 60% sejak awal tahun. Harga komoditas lain seperti batu bara hingga tembaga juga telah terpukul oleh krisis, sementara pasar obligasi dan saham memasuki wilayah zona merah.



Virus corona sendiri sudah menginfeksi lebih dari 325.000 orang dan menewaskan lebih dari 14.000 di seluruh dunia. Corona juga telah mengganggu bisnis, perjalanan dan kehidupan sehari-hari. Banyak perusahaan minyak bergegas memotong pengeluaran mereka dan beberapa produsen sudah mulai memberikan cuti karyawan.

Pasar minyak dunia harus bertahan dihantam guncangan double dari kehancuran permintaan yang disebabkan oleh pandemi virus corona dan perang harga minyak yang tak terduga meletus antara produsen Rusia dan Arab Saudi pada awal bulan ini. Kebijakan pemangkasan produksi saat ini akan berakhir pada 31 Maret 2020, mendatang.

"Kami percaya harga minyak akan terus jatuh dalam jangka pendek di tengah anjloknya permintaan, gejolak saham global dan tidak ada batas produksi setelah 1 April," kata Joseph McMonigle selaku analis kebijakan energi senior di Hedgeye Potomac Research, dalam sebuah catatannya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top