Komitmen SBY selaku ketua DEN dipertanyakan

Jum'at, 23 Desember 2011 - 20:43 WIB
Komitmen SBY selaku...
Komitmen SBY selaku ketua DEN dipertanyakan
A A A
Sindonews.com- Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianggap terlambat. Pidato mengenai lemahnya birokrasi dan korupsi menjadi penghambat ekonomi seharusnya disampaikan di awal pemerintahan, bukan pada saat semua pihak sudah gerah dengan kerapuhan pemerintah dan berteriak di mana-mana.

Permasalahan ini sebenarnya tidak tepat diwacanakan lagi. Sebaliknya, dibutuhkan aksi nyata dan gerakan perubahan di semua lini birokrasi kementerian dan instansi lainnya. Bakan, reformasi birokrasi harus dimulai dari dalam Istana sendiri.

"Seharusnya dilakukan sekarang. Segera membuat kebijakan-kebijakan yang mengarah kepada kemandirian energi, pemenuhan kebutuhan dalam negeri," ujar anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani, Jakarta, Jumat (23/12/2011).

Menurut dia, kebijakan di bidang energi harus diutamakan. Masalah ini harus segera dibahas dalam draft kebijakan energi nasional, di mana Presiden duduk sebagai ketua Dewan Energi Nasional (DEN).

"Pemenuhan kebutuhan dalam negeri harus menjadi prioritas teratas, memangkas biaya-biaya dan belanja tetap pegawai. Dan yang penting adalah konsisten melaksanakan good governance," imbuhnya.

Dia menambahkan, potret kebijakan energi saat ini mencerminkan pemerintah tidak punya daya untuk mengelola kekayaan alam yang sedemikian melimpah. Pemerintah seolah mengabaikan persoalan ini dan menjauhkan impian rakyat mengenai kedaulatan energi.

Contohnya, berbagai kasus mulai dari tidak tercapainya lifting, beban Tarif Dasar Listrik
(TDL) yang semakin tinggi untuk rakyat, elektrifikasi yang masih di bawah rata-rata kebutuhan rakyat. Belum lagi, masalah kontrak karya, kasus freeport, dan beberapa blok gas potensial.

Permasalahan ini luput dari perhatian Presiden. Tambah lagi Domestic Market Obligation (DMO) hanya menjadi wacana,dan tidak pernah ada realisasi pemenuhan energi dalam negeri menjadi utama.

"Dynamic governance harus diciptakan untuk mendapatkan hasil maksimal berupa pemerintahan yang kapabel, sehingga memilki peran sebagaimana pemerintah berkewajiban sebagai layaknya pemerintah, sesuai dengan tujuan awal negara ini di dirikan," tutupnya.

Sebelumnya, Presiden SBY dalam rapat kabinet besar di Istana Bogor menyampaikan, ada tiga masalah yang mengganjal terhadap pembangunan nasional. Salah satunya persoalan korupsi.

"Dulu yang menjadi hambatan yaitu situasi keamanan, pada saat krisis, sekarang ternyata birokrasi, infrastruktur, dan korupsi," jelas SBY di Istana Bogor.

Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini mengingatkan dalam memberantas korupsi, bukan tugas Kepala Negara saja. Semua pihak harus terlibat. "Tidak semua berada dibawah kendali Presiden," serunya.

Meskipun demikian, Indonesia patut bersyukur lantaran perekonomiannya tumbuh dengan baik,ketika dunia tengah mengalami ketidakkepastian ekonomi. "Kredit rating kita kembali sebelum krisis itu kita dapatkan setelah 14 tahun itu fakta dan itu riil," tandasnya.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
9 menit yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
1 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
2 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
2 jam yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
11 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
12 jam yang lalu
Infografis
PTUN Cabut SK Ketua...
PTUN Cabut SK Ketua MK Suhartoyo usai Anwar Usman Menang Gugatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved