Gara-gara motor, kuota BBM jebol!

Senin, 16 Januari 2012 - 17:16 WIB
Gara-gara motor, kuota...
Gara-gara motor, kuota BBM jebol!
A A A
Sindonews.com - Penyebab utama dari jebolnya kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi selama ini disinyalir adalah pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak pernah di batasi di negara ini.

"Pertumbuhan sepeda motor tujuh juta per tahun. Satu motor menghabiskan 2,75 liter per hari. Kalau dihitung sehari dapat mencapai 1,9 juta per hari. Sementara itu mobil tumbuh 800 ribu per hari dan konsumsinya rata-rata tiga liter per hari," ungkap Menteri ESDM Jero Wacik, saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, di Senayan, Jakarta, Senin (16/1/2012).

Dari kondisi tersebut pemerintah mengaku pesimis dengan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tahun ini yang telah ditetapkan sebesar 37,5 juta Kiloliter (kl) tidak akan terlampaui. Walaupun sebenarnya pemerintah tetap berusaha untuk menghemat kuota BBM tersebut.

"Kuota 37,5 juta KL pasti lewat. Kan mestinya 43,7 juta yang kami minta tetapi kami mengerti komisi VII ingin hemat dan kami sedang mempersiapkan," ungkap Jero.

Masih menurut Jero Wacik, dalam Undang-undang tidak diperbolehkan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. "Sehingga kami tidak berani untuk menaikkan harga," tegasnya.

Sedangkan, lanjut dia nantinya akan diarahkan untuk memakai Bahan Bakar Gas (BBG) di 2014. Di mana program konversi akan mulai dilakukan pada 1 April mendatang. "Semua mobil nanti sudah terpasang konverter kit sehingga diarahkan untuk memakai BBG di 2014," jelasnya.

Lebih lanjut Jero Wacik menambahkan memang ada kelebihan dan kekurangan dalam pemakaian BBG tersebut, namun pihaknya akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mengenai konversi ke BBG. "Memang ada kekurangan dan kelebihan dalam memakai gas. Tetapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghemat beban subsidi yang setiap tahun makin besar," pungkasnya.

Masih dalam suasana rapat kerja, dukungan juga datang dari Anggota DPR RI Heriyanto yang mengatakan, pemerintah harus memperhatikan kesiapan-kesiapan khususnya infrastruktur penunjang program pembatasan BBM dan konversi BBM ke BBG yang saat ini mungkin masih kurang.

"Saya setuju apa yang direncanakan, jangan pernah menyerah untuk mencoba. Apabila terjadi hal-hal yang membahayakan, misal mobil terbakar dan yang lalu-lalu. Ini merupakan bahaya yang akan timbulkan persoalan baru. Maka kesiapan ini harus dipikirkan," jelas Anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat ini.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
2 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
2 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
2 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
4 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
4 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
4 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved