Pembatasan BBM, DPR nilai BPH Migas tidak siap

Rabu, 18 Januari 2012 - 14:45 WIB
Pembatasan BBM, DPR...
Pembatasan BBM, DPR nilai BPH Migas tidak siap
A A A


Sindonews.com - Komisi VII DPR menilai Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) belum siap melakukan pengawasan program pembatasan BBM bersubsidi yang rencananya diberlakukan mulai 1 April 2012. Selain itu, DPR juga menilai program tersebut akan sulit diterapkan di lapangan.

"BPH Migas belum siap melakukan pengawasan jika pembatasan mulai ditetapkan. Itu bisa dilihat dari pemaparan mereka mulai dari program-program pemetaan, pengawasan dan tindakan masih nampak belum ada kesiapan," kata anggota Komisi VII DPR Ismayatun, saat rapat dengar pendapat dengan BPH Migas di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (18/1/2012).

Sementara itu anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PKS Ahmad Riyadi mengatakan, BPH Migas harus membentuk Tim Anti-Mafia BBM sehingga jika ada penyimpangan akan langusng dilaporkan ke tim tersebut.

"Lalu sosialisasi harus berjalan dengan baik. Jangan baru datang terus pergi lagi. Kalau bisa tiru program gerakan KB yang sukses menjaga pertumbuhan penduduk," tegasnya.

Menurutnya, BPH Migas belum terbilang sukses karena di 2011, wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Timur selalu over kuota. "Bagaimana mengendalikannya, ini yang harus dicari BPH Migas," katanya.

Hal senada diungkapkan anggota Komisi VII dari Fraksi Golkar Satya W Yudha. BPH Migas harus memikirkan rencana konversi BBM ke BBG. "Apakah itu realistis atau tidak sehingga rencana konversi ini dapat berhasil," kantanya.

Satya melanjutkan, seharusnya ada kajian tentang opsi lain seperti menyediakan premium nonsubsidi yang harganya tidak jauh berbeda dengan pertamax.

"Dampaknya banyak, apalagi memaksa masyarakat untuk mengkonsumsi premium ke pertamax berat, apalagi mengalihkan konsumsi BBM ke gas sama beratnya, dan itu mau dilakukan dalam beberapa bulan lagi," ujarnya.

Menurut Satya, yang lebih sulit lagi dalam mengawasi tiap SPBU. Bagaimana tim pengawas BPH Migas harus mengawasi satu per satu SPBU. "Apalagi dari yang disampaikan BPH Migas yakni, pengawasan tertutup melalui teknologi best practices dengan Radio Frequency Identification (RFID). Tidak dipaparkan bagaimana pengwasan yang akan dilakukan, sistemnya bagaimana, seberapa besar efektifnya, tidak dijelaskan sama sekali," ucapnya. (bro)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Tarif Listrik Tidak...
Tarif Listrik Tidak Naik hingga September 2026, Dirut PLN Bicara soal Pasokan
12 menit yang lalu
Cadangan Energi AS Ternyata...
Cadangan Energi AS Ternyata Keropos: Stok Minyak Dikuras Habis, Stok Terendah Sejak 1983!
3 jam yang lalu
Sistem Payment Gateway...
Sistem Payment Gateway Revolusioner untuk UMKM & Startup Dirilis, Jaminan Uptime 99,95%
12 jam yang lalu
Liburan Sekolah Penuh...
Liburan Sekolah Penuh Aktivitas Seru, Edukatif, dan Bermakna Bersama Paramount Gading Serpong
12 jam yang lalu
Perang Iran Picu Guncangan...
Perang Iran Picu Guncangan Pasokan Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah, Lampaui Krisis 1979
12 jam yang lalu
Pertamina Jamin Stok...
Pertamina Jamin Stok LPG di Surabaya Aman
13 jam yang lalu
Infografis
Keterbatasan Strategis...
Keterbatasan Strategis USS Abraham Lincoln: Si ’Benteng Terapung’ yang Tidak Kebal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved