Kelom Geulis, lestarikan budaya Sunda

Selasa, 24 Januari 2012 - 12:27 WIB
Kelom Geulis, lestarikan...
Kelom Geulis, lestarikan budaya Sunda
A A A
Sindonews.com - Di tengah persaingan produk-produk asing yang masuk ke Indonesia, ternyata masih ada segilintir masyarakat pribumi yang mau memproduksi dan memasarkan produk tradisonal.

Adalah Uus, seorang pria asli Sumedang yang memproduksi sendal kayu yang lebih dikenal dengan nama kelom geulis dengan modifikasi dot painting dan ukiran.

"Sebenarnya ini kalau boleh dibilang adalah produk tradisi orang Sunda. Dulunya kelom geulis ini cuma dalam bentuk polos saja. Kemudian melihat sekarang anak muda jarang memakai ini lagi karena takut terlihat tua, lalu saya modifikasi dengan pemakaian warna dan ukiran. Sehingga, terlihat menarik dan masuk untuk anak muda," ujarnya saat ditemui Sindonews, beberapa waktu lalu.

Ceritanya usaha ini telah berjalan turun-temurun, namun untuk fokus di bidang kelom geulis, dia baru memulai di tahun 2007 dengan memanfaatkan modal yang hanya Rp500 ribu. "Dari kondisi turun-temurun ini yang saya manfaatkan untuk belajar secara otodidak, hingga dari modal pribadi yang hanya segitu saya bisa memproduksi satu kodi kelom geulis," tambah pria yang merupakan generasi ketiga dari keluarganya.

Keunikan dari sepatu ini menurutnya memang berada pada pembuatan yang cukup lama dengan manual tangan yang menonjolkan nilai seni, sehingga harga yang ditawarkan pun cukup mahal, yakni berkisar antara Rp150 ribu-Rp350 ribu. Walaupun demikian, Uus tetap menuju segmentasi pasar mulai dari anak-anak, remaja dan ibu-ibu di mana setiap bulannya mendapatkan omzet hingga Rp30 juta-Rp40 juta.

Usaha ini sudah memiliki 11 karyawan yang dibina langsung oleh Uus, dan setiap dua pekan dapat memproduksi 200 pasang. Penjualan produk Kelom geulis memang lebih kepada pemanfaatan kerja sama dengan beberapa toko-toko dan factory outlet untuk wilayah Bandung dan Jakarta.

"Jadi untuk penjualan kita serahkan saja ke mereka, karena mereka juga dapat untung kan, mau dipasarkan lewat apapun ya terserah mereka saja. Kalau konsumen mah ada saja," tambahnya.

Kesulitan yang dihadapi pria yang kurang lebih memiliki tinggi 175 cm ini adalah pada pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, yang mengerjakan produk ini tidak sembarangan orang, butuh ketrampilan khusus walaupun itu secara otodidak.

Ke depannya Uus berharap dapat membenahi manajemen usaha yang sudah dirintisnya selama ini menjadi lebih baik dan bisa menciptakan inovasi-inovasi produk yang dapat menunjang produktivitas usaha itu sendiri.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
14 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
31 menit yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
1 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
2 jam yang lalu
Pjs Dirut BEI Sebut...
Pjs Dirut BEI Sebut Fundamental Pasar Saham RI Masih Bagus, Ini Buktinya
2 jam yang lalu
Infografis
Hewan yang Dianggap...
Hewan yang Dianggap Sakral dalam Budaya Jawa dan Melebihi Harimau
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved