Naikkan BBM, jangan takut rakyat marah
Kamis, 02 Februari 2012 - 13:15 WIB
Naikkan BBM, jangan takut rakyat marah
A
A
A
Sindonews.com - Belum tegasnya kebijakan pemerintah soal Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membuat Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) gregetan. Menurut JK, dibandingkan dengan opsi pembatasan Premium, opsi menaikkan harga dinilai lebih rasional dan realistis.
"Sebenarnya untuk pembatasan itu sangat tidak realistis untuk dilaksanakan sekarang, karena banyak yang belum selesai perencanan dan sistem kerja itu harus disempurnakan dulu," ujar JK usai mengikuti acara Seminar "2012 Economic and Capital Market Outlook" di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (2/2/2012).
Selain itu JK pun meminta agar pemerintah tidak takut melakukan kebijakan yang dinilai sejumlah kalangan tak populer tersebut, terutama jika kebijakan tersebut dinilai mendesak. "Jangan takut rakyat marah, zaman dulu tiga kali saya naikkan BBM tidak ada marah," ungkap JK.
Sedangkan untuk pilihan besarnya angka kenaikan harga BBM, JK berharap agar pemerintah tidak terlalu mementingkan besaran kenaikan karena berapapun angkanya akan diterima masyarakat juga nantinya, meski mungkin diawalnya akan menimbulkan kekhawatiran.
"Pilihannya terserah, mau berapun harganya nanti, atau mungkin bisa di kembalikan saja ke harga awal Rp6.000 , atau Rp7.000 pun sebenarnya dapat diterima, toh enggak ada pilihan lain lagi," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut JK juga menyampaikan kritikan terhadap pemerintah yang tidak memikirkan gejolak sosial dengan adanya opsi pembatasan BBM sebagai kebijakan yang dinilai dadakan ini. Sehingga menurutnya, opsi tersebut tidak masuk akal untuk diterapkan.
"Bagaimana caranya pembatasan? Silakan saja menterinya itu menjaga pompa bensin untuk membatasi orang ingin beli premium. Bisa berkelahi di pompa bensin itu orang," tambahnya.
Lebih lanjut mengenai konversi ke Bahan Bakar Gas (BBG) pun juga ikut diragukan JK, melihat persiapan infrastuktur BBG tersebut hingga kini belum tersedia lengkap. "Apanya yang mau di konversi, konverter tidak ada, gasnya tidak ada. SPBG-nya juga tidak ada. Kan tidak mungkin konversi dilakukan hanya dengan omongan pidato," pungkasnya.
"Sebenarnya untuk pembatasan itu sangat tidak realistis untuk dilaksanakan sekarang, karena banyak yang belum selesai perencanan dan sistem kerja itu harus disempurnakan dulu," ujar JK usai mengikuti acara Seminar "2012 Economic and Capital Market Outlook" di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (2/2/2012).
Selain itu JK pun meminta agar pemerintah tidak takut melakukan kebijakan yang dinilai sejumlah kalangan tak populer tersebut, terutama jika kebijakan tersebut dinilai mendesak. "Jangan takut rakyat marah, zaman dulu tiga kali saya naikkan BBM tidak ada marah," ungkap JK.
Sedangkan untuk pilihan besarnya angka kenaikan harga BBM, JK berharap agar pemerintah tidak terlalu mementingkan besaran kenaikan karena berapapun angkanya akan diterima masyarakat juga nantinya, meski mungkin diawalnya akan menimbulkan kekhawatiran.
"Pilihannya terserah, mau berapun harganya nanti, atau mungkin bisa di kembalikan saja ke harga awal Rp6.000 , atau Rp7.000 pun sebenarnya dapat diterima, toh enggak ada pilihan lain lagi," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut JK juga menyampaikan kritikan terhadap pemerintah yang tidak memikirkan gejolak sosial dengan adanya opsi pembatasan BBM sebagai kebijakan yang dinilai dadakan ini. Sehingga menurutnya, opsi tersebut tidak masuk akal untuk diterapkan.
"Bagaimana caranya pembatasan? Silakan saja menterinya itu menjaga pompa bensin untuk membatasi orang ingin beli premium. Bisa berkelahi di pompa bensin itu orang," tambahnya.
Lebih lanjut mengenai konversi ke Bahan Bakar Gas (BBG) pun juga ikut diragukan JK, melihat persiapan infrastuktur BBG tersebut hingga kini belum tersedia lengkap. "Apanya yang mau di konversi, konverter tidak ada, gasnya tidak ada. SPBG-nya juga tidak ada. Kan tidak mungkin konversi dilakukan hanya dengan omongan pidato," pungkasnya.
()