Suku bunga KPR sulit diturunkan

Kamis, 09 Februari 2012 - 12:24 WIB
Suku bunga KPR sulit...
Suku bunga KPR sulit diturunkan
A A A


Sindonews.com – Upaya Kementerian Perumahan Rakyat agar perbankan menurunkan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi menjadi 5–6 persen dengan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) tampaknya sulit direalisasikan.

Sebab, jika hal itu diterapkan, perbankan akan merugi. “Pada prinsipnya dalam menyalurkan kredit bank itu berorientasi pada profit taking. Mana ada perbankan yang mau merugi,” kata Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) cabang Palembang Fatmahadi Kumala, Rabu 8 Februari 2012.

Menurut dia, pemerintah boleh saja merencanakan tingkat suku bunga rendah dengan dalih menumbuhkan iklim usaha. Apalagi, rumah merupakan kebutuhan primer yang didambakan masyarakat. Akan tetapi, perbankan akan sangat sulit untuk mengimplementasikan atas rencana penurunan suku bunga KPR bersubsidi dengan skema FLPP tersebut, mengingat kondisi perbankan saat ini.

“Jika dilihat dari loan to deposit ratio (LDR) perbankan, sudah berada di atas rata-rata mencapai 90 persen. Artinya dana yang disalurkan ke masyarakat sudah berada di atas rata-rata. Bahkan, hampir semuanya sudah dikembalikan lagi dalam bentuk kredit,” kata Pimpinan BCA cabang Palembang ini.

Khusus di Bank Central Asia (BCA) cabang Palembang, dari sisi LDR masih berada di kisaran 50–60 persen. Dengan angka itu, pihaknya optimistis dapat bersaing secara kompetitif dalam hal suku bunga KPR.

“Tapi, bagi kami masih cukup sehat untuk memberikan suku bunga KPR di kisaran 6–7 persen. Jika terlalu rendah dikhawatirkan kredit yang diberikan tidak produktif,” ungkapnya.

Sementara itu, Assistant Manager BTN cabang Palembang Uka Trisna Wardhana menambahkan, ukuran ideal atau tidaknya suku bunga kredit itu tergantung dari porsi kredit yang diberikan. Tahun lalu saja, pihaknya memberlakukan suku bunga KPR dengan skema FLPP berkisar antara 8,15– 8,5 persen.

“Kami belum bisa menentukan seberapa besar idealnya karena tergantung porsi kredit yang disalurkan. Jika suku bunga di angka 5–7 persen memang masih menguntungkan tetapi relatif kecil. Dikhawatirkan tidak sesuai biaya operasional yang dikeluarkan,” tuturnya. (bro)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
1 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
2 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
2 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
2 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
3 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
3 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved