Golkar anggap BLT bukan solusi

Selasa, 13 Maret 2012 - 11:27 WIB
Golkar anggap BLT bukan...
Golkar anggap BLT bukan solusi
A A A


Sindonews.com
- Rencana pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diajukan pemerintah dipandang tidak menguntungkan masyarakat, sehingga lebih baik diganti dengan program jangka panjang, seperti pembangunan infrastruktur jalan.

”Bila kompensasi kenaikan BBM ini tetap diberikan, kita Partai Golkar akan menolaknya karena tidak menguntung kan masyarakat. Harusnya, kompensasi kenaikan BBM bukan dalam bentuk BLT, namun pembangunan infrastruktur seperti jalan. Ini lebih produktif dalam jangka panjang,” ujar Kepala Bidang Koperasi dan UKM DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto saat di Malang, Senin 12 Maret 2012.

Menurutnya, selama ini BLT hanya menjadi alat politik yang menguntungkan partai tertentu saja. BLT dalam jangka panjang tidak menguntungkan masyarakat karena kompensasi yang sifatnya sesaat saja. Sehingga, pola tersebut harus diubah menjadi kompensasi yang sifatnya produktif dalam jangka panjang.

Dia menyarankan pemerintah memberikan kompensasi dalam bentuk program fasilitas industri dan pembangunan sarana infrastruktur jalan. Sebab, selama ini harga berbagai macam kebutuhan pokok terlalu mahal karena buruknya akses jalan di berbagai daerah.

Dia mencontohkan, harga buah manggis dari petani di Bogor, Jawa Barat hanya Rp5.000/kilogram, namun ketika masuk ke supermarket di Jakarta, harganya bisa mencapai Rp25.000/kilogram.

”Nah, kemana Rp20.000-nya? Ini karena akses jalan yang buruk jadi harganya tinggi ketika jatuh di konsumen,” ungkapnya.

Dia berharap pemerintah mengevaluasi kebijakan mengenai BLT tersebut.Selain dalam jangka panjang tidak produktif secara ekonomi,juga kurang mendidik masyarakat. Harusnya, masyarakat diajarkan jiwa kewirausahaan.

Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Malang Choirul Anam mengatakan, BLT tidak akan mampu menutupi kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, setelah ada kenaikan BBM. Apalagi, BLT hanya diberikan selama beberapa bulan saja.

Pihaknya sangat berharap ada subsidi silang kepada petani dan nelayan. Sebab, biaya produksi dipastikan akan meningkat, seiring kenaikan harga BBM. Ini membuat petani maupun nelayan terancam rugi dalam jangka panjang bila tidak ada kebijakan yang lebih baik.

”Harga ikan akan cenderung tetap, tapi biaya produksi seiring kenaikan BBM akan lebih tinggi. Petani juga, biaya produksi juga akan makin tinggi dan harga jual produk pertanian naiknya rendah, bahkan lambat. Ini harus ada subsidi silang kepada nelayan dan petani,” ungkapnya. (bro)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
MengEmaskan Indonesia,...
MengEmaskan Indonesia, Wamenaker Jadi Saksi Keunggulan Manajerial Pegadaian
6 jam yang lalu
Produksi CPO RI Capai...
Produksi CPO RI Capai 53 Juta Ton, Hilirisasi Sawit Perlu Dipercepat
8 jam yang lalu
Tinggalkan Jas dan Dasi,...
Tinggalkan Jas dan Dasi, Pekerja Kantoran di Jepang Boleh Pakai Celana Pendek dan Kaus Oblong
8 jam yang lalu
BI: Penyerapan Tenaga...
BI: Penyerapan Tenaga Kerja RI Melambat di Triwulan II 2026
9 jam yang lalu
JTrust Bank Gandeng...
JTrust Bank Gandeng Pegolf Kristina Yoko Dukung Pembinaan Atlet Nasional
9 jam yang lalu
Ekonom Beberkan Utang...
Ekonom Beberkan Utang Pemerintah Indonesia, Nilainya Tembus Segini
10 jam yang lalu
Infografis
Rusia Tolak Gencatan...
Rusia Tolak Gencatan Senjata sebagai Solusi Perang Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved