Kejar Eropa, peritel Amerika genjot model baru
Selasa, 24 April 2012 - 09:19 WIB
Kejar Eropa, peritel Amerika genjot model baru
A
A
A
Sindonews.com - Setelah bertahun-tahun mengalami penurunan jumlah pelanggan yang beralih ke produsen Eropa, peritel pakaian asal Amerika Serikat (AS) kini mulai bangkit lagi. Peritel AS kini tampil lebih segar agar tidak kalah dari model busana-busana Eropa.
Para ahli industri mengatakan, untuk mengungguli kecepatan mode di Eropa, perusahaan pakaian seperti Gap Inc, American Eagle Outfitters, dan Macy Inc kini melakukan pemesanan lebih sedikit dari sejumlah pabrik. Mereka juga memberikan instruksi di menit-menit terakhir mengenai warna dan jenis kain apa yang harus digunakan.
”Dengan pemilihan produk yang terus berubah-ubah serta kecepatan dan sesuatu yang baru adalah hal yang sangat penting dan menjadi kebutuhan tinggi untuk merek tradisional AS untuk meningkatkan daya saingnya,” ungkap Matt Katz, mitra konsultan dari Boston Consulting Group seperti dikutip Reuters kemarin.
Selama beberapa tahun terakhir, produsen busana di AS mengganti konsep gerainya dalam enam sampai sembilan bulan. Mereka membandingkannya dengan konsep 12 bulan sebelumnya. Strategi tersebut, ujar Katz, diyakini sebagai kemajuan besar.
Menurutnya, kemunculan merek Eropa seperti H&M atau Zara yang disertai kemampuan perusahaan-perusahaan untuk mengikuti tren fashion telah meningkatkan upaya perusahaan dalam memproduksi busana agar lebih diterima pasar.
Chief Executive Officer (CEO) American Eagle yang baru Robert Hanson mengakui, saat ini perusahaannya tengah mencari cara bagaimana mengurangi waktu pengiriman dan merespons lebih cepat terhadap perubahan gaya dan tren. Selain itu, perusahaan tersebut juga berencana mengurangi produk kaos, baju, dan celana jins. ”Kami lebih suka memiliki sedikit barang di toko kami, dengan membeli fashion untuk dijual kembali,” papar Hanson.
Pernyataan Hanson senada dengan Mosafiz Rahman, pemilik pabrik yang memproduksi busana merek GAP. Menurutnya, dua tahun silam, GAP memesan sekitar 50.000 potong switer, namun saat ini jumlahnya turun hingga tinggal 15.000–20.000 potong.
Sedangkan di perusahaan ritel Macy, saat ini sedang dicoba mempercepat perubahan jenis model pakaian untuk segmen pembeli antara usia 13 dan 30 tahun. Tujuannya, memenangkan pembeli usia muda. ”Saat ini kami lebih cepat untuk merespons tren dalam merek INC dan Bar III sehingga barang dagangan kami lebih fresh bagi pelanggan,” papar juru bicara Macy, Jim Sluzewski.
Katz mengungkapkan, yang menjadi pertanyaan saat ini adalah seberapa jauh peritel pakaian AS bisa unggul dari Eropa. Dalam hal kecepatan mengadopsi mode, ujar dia, para produsen AS harus melibatkan segala sesuatu unsur bisnis mulai dari margin hingga budaya perusahaan serta ketergantungan pada produsen Asia.
Mantan CEO Chico Jennifer Pritchard berpendapat, merek-merek tradisional memiliki banyak pertimbangan untuk pengambilan keputusan. ”Perusahaan seperti Uniqlo yang merupakan anak usaha Fast Retailing Co, H&M, Forever21, dan Zara adalah perusahaan populer yang tumbuh karena kecepatan mengubah koleksi pakaian mereka,” katanya.
Menurut Euromonitor International, walaupun kehadiran H&M dan Zara masih terbilang baru di AS, kedua merek itu telah melipatgandakan keberadaannya sebesar 1 persen di pasar AS. Keuntungan juga didapatkan dengan mengorbankan merek AS seperti GAP dan American Eagle. Zara maupun H&M saat ini telah mengalahkan kedua perusahaan sebagai peritel pakaian terbesar di dunia.
Saat ini perusahaan-perusahaan Eropa akan menempatkan para perancang busananya untuk bekerja dengan produsen dan membuat produk pakaian di negara-negara yang dekat seperti Maroko, Turki, dan Rumania. Cara tersebut diyakini dapat memperbarui rancangan pakaian dalam satu minggu, bahkan sumber pakaian di Asia dapat menjadi bagian dari tren fashion jika model busananya menjadi favorit pembeli.
”Dalam kasus Zara, mereka mengoperasikan penerbangan dengan pesawat kargo carteran seminggu sekali dari Bangladesh,” tutur pendiri Synergies Worldwide, Munir Mashooqullah. (ank)
Para ahli industri mengatakan, untuk mengungguli kecepatan mode di Eropa, perusahaan pakaian seperti Gap Inc, American Eagle Outfitters, dan Macy Inc kini melakukan pemesanan lebih sedikit dari sejumlah pabrik. Mereka juga memberikan instruksi di menit-menit terakhir mengenai warna dan jenis kain apa yang harus digunakan.
”Dengan pemilihan produk yang terus berubah-ubah serta kecepatan dan sesuatu yang baru adalah hal yang sangat penting dan menjadi kebutuhan tinggi untuk merek tradisional AS untuk meningkatkan daya saingnya,” ungkap Matt Katz, mitra konsultan dari Boston Consulting Group seperti dikutip Reuters kemarin.
Selama beberapa tahun terakhir, produsen busana di AS mengganti konsep gerainya dalam enam sampai sembilan bulan. Mereka membandingkannya dengan konsep 12 bulan sebelumnya. Strategi tersebut, ujar Katz, diyakini sebagai kemajuan besar.
Menurutnya, kemunculan merek Eropa seperti H&M atau Zara yang disertai kemampuan perusahaan-perusahaan untuk mengikuti tren fashion telah meningkatkan upaya perusahaan dalam memproduksi busana agar lebih diterima pasar.
Chief Executive Officer (CEO) American Eagle yang baru Robert Hanson mengakui, saat ini perusahaannya tengah mencari cara bagaimana mengurangi waktu pengiriman dan merespons lebih cepat terhadap perubahan gaya dan tren. Selain itu, perusahaan tersebut juga berencana mengurangi produk kaos, baju, dan celana jins. ”Kami lebih suka memiliki sedikit barang di toko kami, dengan membeli fashion untuk dijual kembali,” papar Hanson.
Pernyataan Hanson senada dengan Mosafiz Rahman, pemilik pabrik yang memproduksi busana merek GAP. Menurutnya, dua tahun silam, GAP memesan sekitar 50.000 potong switer, namun saat ini jumlahnya turun hingga tinggal 15.000–20.000 potong.
Sedangkan di perusahaan ritel Macy, saat ini sedang dicoba mempercepat perubahan jenis model pakaian untuk segmen pembeli antara usia 13 dan 30 tahun. Tujuannya, memenangkan pembeli usia muda. ”Saat ini kami lebih cepat untuk merespons tren dalam merek INC dan Bar III sehingga barang dagangan kami lebih fresh bagi pelanggan,” papar juru bicara Macy, Jim Sluzewski.
Katz mengungkapkan, yang menjadi pertanyaan saat ini adalah seberapa jauh peritel pakaian AS bisa unggul dari Eropa. Dalam hal kecepatan mengadopsi mode, ujar dia, para produsen AS harus melibatkan segala sesuatu unsur bisnis mulai dari margin hingga budaya perusahaan serta ketergantungan pada produsen Asia.
Mantan CEO Chico Jennifer Pritchard berpendapat, merek-merek tradisional memiliki banyak pertimbangan untuk pengambilan keputusan. ”Perusahaan seperti Uniqlo yang merupakan anak usaha Fast Retailing Co, H&M, Forever21, dan Zara adalah perusahaan populer yang tumbuh karena kecepatan mengubah koleksi pakaian mereka,” katanya.
Menurut Euromonitor International, walaupun kehadiran H&M dan Zara masih terbilang baru di AS, kedua merek itu telah melipatgandakan keberadaannya sebesar 1 persen di pasar AS. Keuntungan juga didapatkan dengan mengorbankan merek AS seperti GAP dan American Eagle. Zara maupun H&M saat ini telah mengalahkan kedua perusahaan sebagai peritel pakaian terbesar di dunia.
Saat ini perusahaan-perusahaan Eropa akan menempatkan para perancang busananya untuk bekerja dengan produsen dan membuat produk pakaian di negara-negara yang dekat seperti Maroko, Turki, dan Rumania. Cara tersebut diyakini dapat memperbarui rancangan pakaian dalam satu minggu, bahkan sumber pakaian di Asia dapat menjadi bagian dari tren fashion jika model busananya menjadi favorit pembeli.
”Dalam kasus Zara, mereka mengoperasikan penerbangan dengan pesawat kargo carteran seminggu sekali dari Bangladesh,” tutur pendiri Synergies Worldwide, Munir Mashooqullah. (ank)
()